Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Iran Klaim Tangkap Kapal Selam Kedua AS di Selat Hormuz

2 min read
Iran Klaim Tangkap Kapal Selam Kedua AS di Selat Hormuz
potret bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)
  • IRGC mengklaim menangkap kapal selam tak berawak AS Mk 18 Mod 2 Kingfish di Selat Hormuz pada 27 September 2026, yang disebut sebagai tangkapan kedua.
  • Menurut juru bicara IRGC, perangkat otonom berteknologi sonar dan navigasi presisi itu bernilai jutaan dolar serta berpotensi memberi Iran informasi intelijen.
  • IRGC sebelumnya menangkap Dive-LD pada 8 September, tetapi Pentagon menyatakan perangkat tersebut telah rusak dan tidak lagi dipakai untuk operasi militer AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Iran mengklaim berhasil menangkap kapal selam tidak berawak kedua milik militer Amerika Serikat (AS) yang sedang berlayar di Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan, mereka berhasil menangkap kapal selam tersebut pada Minggu (27/9/2026) malam waktu setempat.

"Selat Hormuz bukan hanya terbuka, tetapi juga menjadi medan perburuan bagi angkatan laut IRGC yang menargetkan kapal selam Amerika," kata Juru Bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, dalam sebuah pernyataan di X, seperti dikutip Jerusalem Post.

  1. 1. IRGC bisa mendapatkan informasi intelijen dari kapal selam AS

    Selat Hormuz.
    potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/European Space Agency)

    Mohebbi mengatakan, ini merupakan kapal selam tidak berawak kedua milik AS yang berhasil diamankan oleh IRGC. Ia menjelaskan, upaya ini akan memberikan keuntungan bagi IRGC. Sebab, IRGC bisa memperoleh informasi intelijen dari kapal AS yang sudah berhasil mereka tangkap.

    "Ini adalah tangkapan kedua IRGC. (Kapal selam) Mk 18 Mod 2 Kingfish, sebuah AUV otonom canggih yang dilengkapi dengan sonar dan navigasi presisi yang bernilai beberapa juta dolar. Ini bukan sekadar perburuan. Ini adalah keuntungan besar berupa informasi intelijen," lanjut Mohebbi.

  2. 2. IRGC sebelumnya juga berhasil menangkap kapal selam AS

    Kapal selam sedang berlabuh.
    potret kapal selam militer (unsplash.com/Bruno Miguel)

    Pada 8 September lalu, IRGC juga berhasil menangkap kapal selam tidak berawak AS di Selat Hormuz. Kala itu, kapal selam yang mereka tangkap bernama Dive-LD. Kapal selam yang memiliki panjang 5,8 meter ini bisa melakukan berbagai misi, termasuk pembasmian ranjau laut, pemetaan dasar laut, pengumpulan informasi intelijen, serta inspeksi infrastruktur bawah laut, seperti pemasangan kabel dan pipa.

    "Kami menjebak salah satu kapal selam tidak berawak paling modern, cerdas, dan canggih milik tentara teroris Amerika (Serikat) di pintu masuk Selat Hormuz. Kapal selam ini dilengkapi dengan teknologi terkini," kata pasukan angkatan laut IRGC dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh media Pemerintah Iran dikutip Jerusalem Post.

  3. 3. Pentagon merespons penangkapan kapal selam Dive-LD

    Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon).
    potert kantor Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) (flickr.com/David B. Gleason via commons.wikimedia.org/David B. Gleason)

    Penangkapan tersebut ketika itu langsung direspons oleh Kementerian Pertahanan AS (Pentagon). Dalam sebuah pernyataan, Pentagon mengatakan, kapal selam yang ditangkap IRGC tadi sudah dalam keadaan rusak selama beberapa hari. Oleh karena itu, kapal tersebut tidak lagi digunakan oleh AS untuk melakukan operasi militer di Selat Hormuz.

    Sebagai informasi, AS memang sering menggunakan kapal selam tidak berawak untuk melakukan operasi militer di Selat Hormuz. Operasi ini dilakukan untuk mengamankan lalu lintas di selat tersebut dari ancaman militer Iran. Sebab, Presiden AS, Donald Trump, mengklaim perairan tersebut kini sudah sepenuhnya dikuasai oleh negaranya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More