Aceh Tengah, IDN Times – Petani di Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, mulai kembali menggarap sawah setelah aktivitas pertanian terganggu akibat bencana hidrometeorologi pada November 2025.
Sebelumnya sebagian petani sempat melewatkan siklus tanam Oktober-November. Penyebabnya, sebagian lahan masih tertimbun pasir, material longsor, dan bongkahan kayu. Kerusakan saluran irigasi juga membuat petani kesulitan memperoleh pasokan air untuk mengolah sawah.
Kini, mereka mulai membersihkan dan meratakan lahan. Sawah akan segera ditanami kembali.
Ketua Kelompok Tani Pegasing Maju, Satriawan, mengatakan persawahan di Kampung Pegasing terdampak cukup parah akibat material longsor, pasir, dan kayu yang masuk pada 26 November 2025.
Pada 2026, petani mulai kembali menggarap sawah. Namun, lahan harus dibersihkan dan diratakan terlebih dahulu sebelum dapat diolah secara optimal.
Karena itu, petani membutuhkan tambahan traktor untuk mengolah lahan, pupuk, serta perbaikan saluran irigasi yang masih tertutup material longsor dan timbunan pasir.
“Kami sangat membutuhkan bantuan alat dan sarana pertanian, terutama traktor untuk mengolah dan meratakan kembali lahan yang tertimbun material, serta bantuan pupuk,” ujar Satriawan.
Ia berharap pemerintah membantu memenuhi kebutuhan tersebut agar pasokan air kembali lancar dan persawahan dapat produktif seperti sebelum bencana.