Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Petani Aceh Tengah Mulai Kembali ke Sawah Pascabencana

3 min read
Petani Aceh Tengah Mulai Kembali ke Sawah Pascabencana
Petani di Aceh Tengah kembali bertani usai bencana (Dok. Tim Media Satgas PRR)
  • Petani Aceh Tengah kembali membersihkan dan meratakan sawah pascabencana hidrometeorologi November 2025, setelah sebagian lahan tertimbun pasir, longsor, kayu, serta mengalami gangguan irigasi.

  • Sebanyak 2.711 hektare dari 3.715 hektare sawah Aceh Tengah terdampak, termasuk jaringan irigasi tersier dan jalan usaha tani yang rusak.

  • Pemerintah menyiapkan program optimasi lahan, irigasi perpompaan, perpipaan, dan rehabilitasi; petani Pegasing masih membutuhkan traktor, pupuk, serta perbaikan saluran air.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aceh Tengah, IDN Times – Petani di Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, mulai kembali menggarap sawah setelah aktivitas pertanian terganggu akibat bencana hidrometeorologi pada November 2025. 

Sebelumnya sebagian petani sempat melewatkan siklus tanam Oktober-November. Penyebabnya, sebagian lahan masih tertimbun pasir, material longsor, dan bongkahan kayu. Kerusakan saluran irigasi juga membuat petani kesulitan memperoleh pasokan air untuk mengolah sawah.

Kini, mereka mulai membersihkan dan meratakan lahan. Sawah akan segera ditanami kembali.

Ketua Kelompok Tani Pegasing Maju, Satriawan, mengatakan persawahan di Kampung Pegasing terdampak cukup parah akibat material longsor, pasir, dan kayu yang masuk pada 26 November 2025.

Pada 2026, petani mulai kembali menggarap sawah. Namun, lahan harus dibersihkan dan diratakan terlebih dahulu sebelum dapat diolah secara optimal.

Karena itu, petani membutuhkan tambahan traktor untuk mengolah lahan, pupuk, serta perbaikan saluran irigasi yang masih tertutup material longsor dan timbunan pasir.

“Kami sangat membutuhkan bantuan alat dan sarana pertanian, terutama traktor untuk mengolah dan meratakan kembali lahan yang tertimbun material, serta bantuan pupuk,” ujar Satriawan.

Ia berharap pemerintah membantu memenuhi kebutuhan tersebut agar pasokan air kembali lancar dan persawahan dapat produktif seperti sebelum bencana.

  1. 1. Percepatan rehabilitasi sawah

    Ilustrasi sawah (IDN Times/Yuko Utami)
    Ilustrasi sawah (IDN Times/Yuko Utami)

    Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera sekaligus Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, sebelumnya meminta percepatan rehabilitasi sawah agar manfaat program pemulihan segera dirasakan petani.

    "Ada daerah yang sudah jalan. Ada juga yang lambat karena masih studi. Tolong cepat karena para petani menginginkan cepat,” ujar Tito.

    Percepatan pemulihan pertanian menjadi bagian dari Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Renduk) Pascabencana Sumatera yang disusun Bappenas. Program ini mencakup pemulihan lahan persawahan dan infrastruktur pendukung di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

    Pemerintah mengalokasikan tambahan anggaran belanja Kementerian Pertanian sebesar Rp2,62 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp792,56 miliar diperuntukkan bagi pemulihan sawah di tiga provinsi terdampak.

    Aceh memperoleh alokasi Rp420,55 miliar untuk 40.908 hektare lahan, Sumatera Utara Rp333,89 miliar untuk 26.774 hektare, dan Sumatera Barat Rp38,11 miliar untuk 3.902 hektare.

    Anggaran tersebut digunakan untuk pembersihan lahan, perbaikan jaringan irigasi sepanjang 691,08 kilometer, optimalisasi lahan, serta pompanisasi. Pelaksanaannya melibatkan kelompok tani melalui mekanisme Bantuan Pemerintah dan pendampingan penyuluh pertanian.

  2. 2. Sebanyak 2.711 hektare sawah Aceh Tengah terdampak

    ilustrasi sawah (pexels.com/quang)
    ilustrasi sawah (pexels.com/quang)

    Di Aceh Tengah, sekitar 2.711 hektare dari total Luas Baku Sawah (LBS) 3.715 hektare mengalami kerusakan akibat bencana. Plt Kepala Dinas Pertanian Aceh Tengah, Iwan Sejahtera, mengatakan kerusakan juga terjadi pada jaringan irigasi tersier sepanjang 75.937 meter dan jalan usaha tani sepanjang 35.519 meter.

    Untuk pemulihan, pemerintah melalui anggaran APBN Kementerian Pertanian menjalankan program optimasi lahan seluas 1.496 hektare di enam kecamatan dengan pagu Rp6,8 miliar.

    Program lainnya meliputi pembangunan 32 unit irigasi perpompaan senilai Rp4,8 miliar, 26 unit irigasi perpipaan sebesar Rp2,4 miliar, serta rehabilitasi irigasi tersier untuk lahan 142 hektare dengan anggaran Rp800 juta.

    Menurut Iwan, program optimasi lahan telah melalui Survei Investigasi dan Desain (SID) oleh Universitas Syiah Kuala. Proses SID dan kontrak telah selesai, sedangkan pekerjaan di lapangan berjalan melalui tahapan pematokan lokasi.

    Pelaksanaan program dilakukan secara swakelola oleh kelompok tani. Dana ditransfer langsung ke rekening kelompok untuk digunakan sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan ketentuan yang berlaku.

    Penanganan sawah dengan kategori kerusakan sedang ditargetkan selesai pada Desember 2026, sedangkan kerusakan berat membutuhkan penanganan lanjutan pada 2027.

  3. 3. Petani Pegasing butuh traktor dan perbaikan irigasi

    ilustrasi petani bekerja di sawah (pexels.com/Rahmad Himawan)
    ilustrasi petani bekerja di sawah (pexels.com/Rahmad Himawan)

    Pemulihan pertanian di Aceh Tengah masih membutuhkan penanganan bertahap. Sebab, lahan yang sudah dibersihkan belum tentu bisa langsung ditanami apabila jaringan irigasinya belum berfungsi optimal.

    Bagi petani, kembalinya aktivitas menggarap sawah menjadi langkah awal untuk memulihkan penghidupan yang sempat terhenti akibat bencana. Mereka berharap perbaikan lahan dan infrastruktur pertanian terus berlanjut hingga seluruh sawah terdampak kembali produktif. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Related Articles

See More