Jakarta, IDN Times - Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso menyebut, rilis dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dan Kabinet Bayangan merupakan tuduhan tanpa bukti.
Sugiat menyampaikan, menjadikan hasil survei dan rapor buatan 'Kabinet Bayangan' sebagai alat ukur utama merupakan bentuk pengalihan kerja keras pemerintah yang setiap hari turun langsung menyelesaikan masalah dasar rakyat. Ia pun menegaskan, Prabowo dipilih rakyat bukan untuk menyenangkan para pengamat.
"Presiden Prabowo tidak dipilih oleh rakyat untuk menyenangkan para pengamat melainkan untuk mengeksekusi perubahan nyata yang berdampak langsung untuk kesejahteraan rakyat," kata Sugiat kepada wartawan, Rabu (14/10/2026).
Gerindra Balas Rapor CELIOS: Prabowo Bukan untuk Menyenangkan Pengamat

Take a Deeper Read
1. Tegaskan demokrasi di era Prabowo terbuka
Wakil Ketua Komisi XIII DPR itu menambahkan, menuding pemerintah membatasi kebebasan sipil justru mengabaikan fakta bahwa demokrasi di era Prabowo-Gibran tetap berjalan terbuka. Ia memastikan, pemerintah tetap menerima kritik konstruktif dari masyarakat sipil.
Selain itu, ia juga menegaskan komitmen pemerintah dalam penegakan hukum yang dilakukan secara adil tanpa pandang bulu terhadap pelanggar hukum.
"Jika memang pemerintahan ini otoriter tidak mungkin rilis CELIOS ini bisa beredar dalam wacana publik kita," ujar dia.
2. Gerindra sebut survei CELIOS berlebihan soal mayoritas publik stres
Dalam survei CELIOS, sebanyak mayoritas publik mengaku stres dengan kebijakan pemerintah. Sugiat mengatakan, survei tersebut merupakan klaim berlebihan yang mendramatisasi proses transisi ekonomi demi menciptakan kepanikan di tengah masyarakat.
Dia menegaskan, penyesuaian kebijakan fiskal dan ekonomi yang ditempuh pemerintah semata-mata dilakukan untuk menyelamatkan fondasi keuangan jangka panjang negara.
"Menyebut 75 persen responden merasa stres dengan kebijakan pemerintah adalah klaim berlebihan yang mendramatisasi proses transisi ekonomi demi menciptakan kepanikan di tengah masyarakat," kata dia.
Lebih lanjut, Sugiat turut menanggapi kritik yang disampaikan CELIOS dan Kabinet Bayangan terhadap postur Kabinet Merah Putih. Menurut dia, reshuffle merupakan hak prerogatif kepala negara dalam memastikan mesin pemerintahan berjalan efektif.
"Evaluasi dan penataan ulang pejabat yang dilakukan Presiden Prabowo murni didasarkan pada kebutuhan untuk mempercepat target pembangunan nasional, bukan karena tekanan pihak luar," ungkapnya.
3. CELIOS beri nilai dua tahun Prabowo-Gibran 4,7
Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka diwarnai sejumlah catatan kritis. Memasuki Oktober 2026, kinerja Kabinet Merah Putih mendapat rapor merah dalam laporan yang disusun Kabinet Bayangan bersama Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Dalam Rapor Kinerja 2 Tahun Prabowo-Gibran, pemerintahan Prabowo-Gibran memperoleh nilai akhir 4,7. Sejumlah persoalan menjadi sorotan, mulai dari pelaksanaan program prioritas, tata kelola pemerintahan, hingga kepemimpinan dan komunikasi publik.
"Penilaian kinerja 2 tahun kabinet Prabowo-Gibran. Penilaian kinerja kabinet; masyarakat umum sebesar 4,7 dari 10 dan berdasarkan Ahli 2,9 dari 10," kata Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira saat hasil riset secara daring, Minggu (11/10/2026).
Kabinet Bayangan dan Celios juga memotret kinerja Presiden Prabowo Subianto selama dua tahun pemerintahannya. Presiden Prabowo mendapat skor 2,8/10 dari para ahli. Sedangkan penilaian masyarakat umum mencapai 4,6/10.
Sementara iti, Wakil Presiden (Wapres) RI, Gibran Rakabuming Raka hanya mendapat skor di bawah lima selama 2 tahun pemerintahan. Hal itu terpotret dari riset dan survei yang dilakukan oleh Celios dan KabinetBayangan.id.
"Untuk Gibran, ahli bilang 2,2 dari 10. Sementara untuk masyarakat umum menilai kinerja dari Wakil Presiden Gibran itu 4,9 dari 10," kata dia.
Dalam survei ini, ada dua kelompok responden yang diambil datanya. Mereka terdiri dari kelompok ahli dan masyarakat umum. Bhima menyebut, kinerja Prabowo selama dua tahun juga mendapat skor rendah, hanya sekitar 2,8 dari 10.
"Kemudian untuk masyarakat umum ditanya, pertanyaan yang sama, apakah ya, bagaimana Anda menilai kinerja Presiden Prabowo dalam menjalankan fungsinya sebagai kepala negara, itu nilainya 4,6 dari 10. Tetap ya di bawah angka 5," ungkap Bhima.
"Jadi keduanya sama-sama skornya sebenarnya di bawah angka 5, gitu," imbuh Bhima.
Diketahui, survei tersebut melibatkan 129 responden ahli dengan berbagai latar belakang hingga wilayah domisili, serta pengalaman profesional yang beragam. Survei tersebut juga melibatkan 1.142 responden yang tersebar di berbagai provinsi.
Adapun, pengumpulan data dilakukan sejak 15 September hingga 9 Oktober 2026. Survei terhadap masyarakat umum menggunakan pendekatan non-probability sampling melalui Meta Ads. Sedangkan responden ahli snowball sampling untuk menjangkau responden dengan keahlian yang relevan.
Curated For You
- Dipa Andika Bongkar Soal Perizinan dan Produksi Operasi Pesta Copet di Pestapora04 Sep 2026, 08:59 WIB
- Dua Tahun Pemerintahan, Prabowo Dinilai Masih Fokus Kebijakan Populis14 Oct 2026, 08:42 WIB
- Mengendus Harumnya Bisnis Nilam Indonesia yang Terbang ke Luar Negeri03 Oct 2026, 10:00 WIB
- Golkar Nilai Survei Celios soal Kinerja Bahlil Konspirasi dan Skenario Politik13 Oct 2026, 19:13 WIB
- Gibran Hormati Rapor Merah Celios: Bagian dari Demokrasi dan Evaluasi13 Oct 2026, 16:21 WIB