Polwan yang membentangkan spanduk dengan tulisan 'selamat datang pejuang aspirasi'. (IDN Times/Santi Dewi)
Kemampuan negosiasi dinilai penting karena ketertiban tidak selalu harus dibangun melalui pendekatan kekuasaan. Polisi juga perlu memahami psikologi masyarakat, menghormati budaya setempat, serta membaca persoalan sosial yang menjadi sumber ketegangan.
Rocky mencontohkan demonstrasi sebagai salah satu situasi yang membutuhkan kemampuan tersebut. Demonstran tidak semata-mata ditempatkan sebagai pihak yang mengganggu ketertiban, tetapi juga sebagai warga yang membawa tuntutan.
“Pendemo harus diperlakukan sebagai ‘pencari keadilan’. Ketertiban harus berasal dari keahlian negosiasi,” tutur Rocky.
Dalam kerangka pendidikan Polwan kata dia, kemampuan membaca situasi sosial menjadi penting karena konflik dapat dipicu berbagai persoalan. Tekanan ekonomi, lingkungan, politik, kelas sosial, etnis, ras, maupun agama dapat saling berkaitan dan berkembang menjadi ketegangan.
Rocky juga menyinggung posisi perempuan dalam situasi krisis. Memburuknya ekonomi keluarga dapat memengaruhi kebutuhan rumah tangga dan meningkatkan kerentanan perempuan, termasuk terhadap kekerasan domestik.
Kondisi tersebut dinilai memperlihatkan pentingnya kemampuan kepolisian memahami dimensi manusia dalam setiap persoalan. Kompetensi Polwan karena itu tidak hanya berkaitan dengan prosedur hukum, tetapi juga sensitivitas terhadap kelompok rentan dan kemampuan membangun pendekatan sosial.
Penguatan kapasitas perempuan di lingkungan kepolisian juga sejalan dengan pandangan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronika mengenai pentingnya membuka lebih banyak ruang bagi perempuan, meningkatkan kompetensi, serta mengarusutamakan isu gender di lingkungan kepolisian.
Rocky menempatkan gagasan ‘kurikulum peradaban’ dalam cakupan perlindungan terhadap manusia, kebudayaan, dan lingkungan.
“Melindungi dan peduli, pada manusia, kultur dan alam,” kata Rocky.