Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tambang Emas di Sudan Runtuh, Puluhan Penambang Tradisional Tewas

3 min read
Tambang Emas di Sudan Runtuh, Puluhan Penambang Tradisional Tewas
bendera Sudan (Aerra Carnicom, CC BY-SA 4.0, via WIkimedia Commons)
  • Tambang emas tradisional di al-Zaraa, Kordofan Barat, Sudan, runtuh pada 15 September 2026, menewaskan sedikitnya 67 hingga 70 penambang dan menjebak banyak pekerja lainnya.
  • Warga serta rekan penambang melakukan evakuasi mandiri dengan alat tangan sederhana tanpa tim penyelamat khusus atau alat berat, sementara pencarian korban tertimbun terus berlangsung.
  • Lubang galian yang berdekatan dan tanah labil usai hujan lebat diduga memicu runtuhan beruntun; organisasi medis menyoroti minimnya standar keselamatan dan fasilitas darurat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Tambang emas tradisional di al-Zaraa, dekat kota al-Nuhud, Negara Bagian Kordofan Barat, Sudan runtuh pada Selasa (15/9/2026). Insiden tersebut menewaskan puluhan pekerja dan menyebabkan banyak orang lainnya terjebak di bawah reruntuhan lubang galian.

Kelompok pemantau Kordofan Observatory melaporkan jumlah korban tewas sedikitnya 70 orang. Sementara itu, organisasi medis Sudanese Doctors Network menyebut sedikitnya 67 orang tewas. Upaya evakuasi terus berlangsung di tengah kekhawatiran bertambahnya korban jiwa akibat ketiadaan prosedur keselamatan kerja.

  1. 1. Evakuasi mandiri dengan alat seadanya

    ilustrasi tim penyelamat
    ilustrasi tim penyelamat (unsplash.com/Harish Bharti)

    Warga setempat dan rekan sesama penambang berjuang mengevakuasi korban yang tertimbun tanah berpasir yang gembur. Kordofan Observatory mencatat belum ada tim penyelamat khusus yang diterjunkan ke lokasi bencana, sehingga warga hanya mengandalkan peralatan tangan sederhana.

    Seorang penambang yang selamat, Khair al-Sayyed Jabara, menuturkan bahwa dia dan rekan-rekannya terus menggali sepanjang malam demi menjangkau para pekerja yang tertimbun. Jabara menegaskan bahwa keberadaan alat berat sangat mendesak demi mempercepat pencarian korban. "Kami tidak tahu berapa banyak lagi yang masih berada di dalam," kata dia kepada AFP.

  2. 2. Deretan lubang tambang roboh beruntun

    ilustrasi tambang
    ilustrasi tambang (pexels.com/I Love Pixel)

    Penambang lain, Amin Suleiman, mengungkapkan bahwa jarak antarlubang galian dibuat sangat rapat. Tata letak yang terlalu berdekatan itu menyebabkan runtuhnya satu lubang tambang langsung merobohkan lubang-lubang galian lain di sampingnya secara beruntun.

    Runtuhan tanah tersebut dilaporkan telah menjebak puluhan pekerja tambang rakyat sejak Selasa pagi. Sumber lokal mengatakan kepada Sudan Tribune bahwa longsor itu kemungkinan besar dipicu oleh struktur tanah yang menjadi labil akibat diguyur hujan lebat baru-baru ini.

  3. 3. Ketiadaan standar keselamatan disorot tajam

    ilustrasi pekerja tambang
    ilustrasi pekerja tambang (pexels.com/Manuel Garcia)

    Sudanese Doctors Network mengecam keras pengabaian standar keselamatan dasar yang menempatkan nyawa para penambang dalam bahaya besar. Sumber lokal menyebut tingginya korban jiwa disebabkan kurangnya prosedur keselamatan dan peralatan penyelamatan. Sudanese Doctors Network memperingatkan bahwa tanpa fasilitas pertolongan darurat, warga sipil menghadapi bahaya ekstrem.

    Wilayah Kordofan Barat dan deposit emas di sekitar kota al-Nuhud saat ini berada di bawah kendali kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang bertempur melawan militer Sudan sejak April 2023. "Aktivitas penambangan di wilayah yang dikuasai RSF, tanpa adanya standar keselamatan serta perlindungan dan peralatan penyelamatan yang memadai, mengubah penambangan menjadi ancaman langsung bagi kehidupan warga sipil," tulis Sudanese Doctors Network dalam pernyataan resminya.

  4. 4. Dominasi sektor tambang emas informal di Sudan

    ilustrasi emas batangan
    ilustrasi emas batangan (pexels.com/Pixabay)

    Sudan tercatat sebagai salah satu negara penghasil emas terkemuka di benua Afrika. Sektor pertambangan emas tradisional mempekerjakan lebih dari dua juta orang dan menyumbang lebih dari 80 persen dari total produksi nasional.

    Aktivitas penggalian informal tetap marak karena jutaan warga Sudan bergantung pada sektor tersebut demi menyambung hidup di tengah kehancuran ekonomi. Pada Juli lalu, insiden longsor serupa menewaskan sekitar 15 penambang di Negara Bagian Utara. Di sisi lain, upaya otoritas menertibkan tambang rakyat terhambat setelah pengawasan negara runtuh di wilayah-wilayah yang terdampak konflik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More