Jakarta, IDN Times - Rumah semestinya menjadi tempat untuk pulang, beristirahat, dan memulihkan tenaga, setelah seharian beraktivitas. Namun, bagi sebagian warga miskin di perkotaan, rumah justru bisa menjadi ruang yang menyimpan panas, bahkan ketika aktivitas di luar telah usai.
Di Kampung Marlina, Jakarta, panas bukan sekadar persoalan cuaca. Eny Rochayati, perwakilan warga setempat, menggambarkan bagaimana suhu tinggi berdampak pada kesehatan warga, termasuk anak-anak. Dia juga menyoroti sulitnya akses layanan kesehatan bagi masyarakat miskin yang terdampak.
“Panas tidak masuk prioritas bencana, ini sangat disayangkan. Padahal ini sebuah bencana pada kami. Kalau dari rumah sakit banyak korbannya anak-anak. Terutama kesulitan dalam akses ke rumah sakit. Mohon untuk dipermudah layanan kesehatan bagi warga miskin kota," kata Marlina, dalam agenda diseminasi riset adaptasi panas perkotaan yang diselenggarakan Rujak Center for Urban Studies, Yayasan Kota Kita dan Arkom Indonesia, dikutip Senin (26/10/2026).
"Kami merasakan dampak panas yang sesungguhnya. Jangan menunggu korban dulu baru dijadikan bencana. Bencana panas dari krisis iklim adalah bencana yang harus diprioritaskan oleh pemerintah," sambungnya.
