Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sah dan Gratis, Badal Lempar Jumrah untuk Jemaah Haji Risti
Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas temui jemaah haji di Arafah (MCH Kemenag)

Makkah, IDN Times - Usai wukuf, jemaah haji Indonesia meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah, untuk menginap (mabid) dan mengambil batu kerikil buat prosesi lempar jumrah di Mina.

Selama di Mina, jemaah akan melontar Jumrah Aqabah pada 10 Zulhijah, dilanjutkan Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah pada hari-hari Tasyrik.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas melihat pelaksanaan wukuf di Arafah secara umum berjalan baik dan lancar. Namun, kondisi di Mina jauh lebih berat dibanding di Arafah. Sebab, jemaah akan tinggal lebih lama di tenda Mina. Selain itu, jika di Arafah jemaah hanya diam, di Mina ada aktivitas lontar jumrah.

Karena itu, Menag Yaqut meminta Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi untuk menerapkan skema perlindungan, pelayanan, dan pembinaan dengan menyesuaikan kondisi fisik jemaah, agar mereka tidak memaksakan.

"Jadi yang benar-benar mungkin saja yang boleh lontar jumrah sendiri dan boleh tawaf ifadah sendiri. Lainnya, jemaah yang secara fisik tidak memungkinkan, saya minta lontar jumrahnya dibadalkan," tegas Menag di Arafah sebelum berangkat ke Muzdalifah, Selasa (27/6/2023) malam.

1. Menag minta PPIH segera identifikasi jemaah yang harus dibadalkan

Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas menemui jemaah yang dirawat di KKHI Arafah (MCH Kemenag)

Menag mengatakan, tengah menyiapkan skenario agar jemaah yang mayoritas lansia bisa beribadah dengan nyaman tanpa harus gugur kewajiban hajinya.

"Sebab, di fikih banyak alternatif. Sehingga mereka yang tidak mampu bisa dibadalkan lontar jumrahnya," lanjutnya.

Skenario yang disiapkan yakni badal, membadalkan jemaah yang tidak mampu. "Jadi intinya kita tidak mau jemaah ini dipaksakan kondisi fisiknya," ucap Menag.

Untuk badal ini, Menag meminta PPIH segera mengidentifikasi jemaah risiko tinggi (risti) yang harus dibadalkan. Gus Men, sapaan akrab Menag, juga meminta petugas untuk siap membadalkan jemaah.

"Saya kira kita memiliki petugas yang cukup untuk bisa membadalkan jemaah," ujarnya.

"Lempar jumrah itu kan satu orang bisa mewakili beberapa orang," sambungnya.

2. Badal lempar jumrah sah dan gratis

Jemaah haji lansia diberangkatkan dari hotel untuk wukuf di Arafah (IDN Times/Sunariyah)

Menag menegaskan, badal lempar jumrah itu sah secara fikih dan tidak dipungut biaya. Sehingga, jemaah tidak perlu khawatir.

"Tidak ada pungutan apa pun atas badal lontar jumrah," tegasnya.

Bahkan, jemaah yang wafat  dibadalhajikan oleh petugas, tanpa dipungut biaya. Demikian juga jemaah yang sakit dan tidak memungkinkan disafariwukufkan, juga dibadalhajikan, dan tidak dipungut biaya.

3. Jemaah yang disafariwukufkan akan dibadalkan lontar jumrahnya

Ambulans yang bersiaga di dekat tenda-tenda jemaah yang melaksanakan wukuf di Arafah. (IDN Times/Sunariyah)

Praktik baik dilakukan tim konsultan dan bimbingan ibadah yang tergabung dalam safari wukuf. Ada lebih 200 jemaah yang disafariwukufkan. Mereka semuanya akan dibadalkan lontar jumrahnya, baik lontar Jumrah Aqabah maupun lontar Jumrah pada hari-hari Tasyrik.

"Kita sudah berembug dan sepakat, setiap konsultan dan pembimbing ibadah, serta linjam dan petugas lainnya yang tergabung dalam tim safari wukuf akan membadalkan lontar jumrah jemaah ×safari wukuf," tegas konsultan ibadah Daker Makkah Imam Khoiri.

"Kita sudah berbagi, rata-rata satu orang akan membadalkan lontar jumrah dari delapan jemaah," tandasnya.

Imam menambahkan, khusus untuk Jumrah Aqabah, setelah dilaksanakan, tim safari wukuf akan berkoordinasi dengan tim kesehatan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daker Makkah agar jemaah bisa ditahallulkan.

Editorial Team

Related Article