Siswa Sekolah Rakyat Pati Dikeroyok, Gus Ipul Tegaskan untuk Rehabilitasi

- Mensos Saifullah Yusuf menanggapi dugaan pengeroyokan terhadap siswa kelas X berinisial D (16) oleh 14 teman di Sekolah Rakyat Pati.
- Kemensos berkomunikasi dengan orang tua dan mengutamakan rehabilitasi serta pendekatan psikososial agar siswa terlibat dapat kembali mengikuti pembelajaran.
- Insiden menjadi evaluasi pengawasan; perundungan, kekerasan fisik atau seksual, dan intoleransi dilarang, dengan sanksi bagi guru atau tendik serta rehabilitasi bagi siswa.
Jakarta, IDN Times – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul buka suara terkait insiden siswa Sekolah Rakyat kelas X berinisial D (16) Kabupaten Pati, yang diduga menjadi korban pengeroyokan oleh 14 teman sekelas/asramanya.
Gus Ipul memastikan penanganan kejadian yang melibatkan siswa Sekolah Rakyat di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dilakukan sesuai prosedur dengan mengutamakan pendekatan rehabilitasi dan mitigasi atau pencegahan.
Peristiwa tersebut juga menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pengawasan, mitigasi, dan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Tentu kita akan coba mencarikan solusi terbaik. Kita tidak akan juga membiarkan, tapi kita akan carikan solusi terbaik. Dan ini menjadi bahan evaluasi buat kami juga,” kata Gus Ipul dalam keterangan tertulis, Minggu (11/10/2026).
1. Kemensos akan lakukan rehabilitasi

Mensos Saifullah melepas kadet Unhan di Halim, Jumat (9/10/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Gus Ipul menjelaskan, pihaknya telah berkomunikasi dengan orang tua siswa yang terlibat untuk membicarakan langkah penanganan terbaik.
Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penyelesaian persoalan, tetapi juga pemulihan kondisi psikososial siswa agar mereka dapat kembali mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
“Kalau mereka ada apa-apa, kita akan lakukan rehabilitasi, kita akan lakukan pendekatan psikososial agar semuanya bisa nanti mengikuti pembelajaran lagi di Sekolah Rakyat,” ujarnya.
2. Siswa Sekolah Rakyat dari berbagai latar belakang

Mensos Saifullah melepas kadet Unhan di Halim, Jumat (9/10/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Dalam penjelasannya, Gus Ipul menyampaikan, siswa Sekolah Rakyat berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, sehingga proses beradaptasi pada sistem sekolah berasrama terkadang ada kesalahpahaman. Oleh karena itu, pendampingan dari para guru dan tenaga kependidikan (tendik) sangat krusial.
"Itu mungkin ada kesalahpahaman, atau mungkin ada hal-hal yang tidak terpantau oleh tenaga pendidikan di sana, sudah dilakukan komunikasi dengan orang tuanya," ujarnya.
3. Ada perundungan ada sanksi

Mensos Saifullah melepas kadet Unhan di Halim, Jumat (9/10/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Gus Ipul menegaskan, di Sekolah Rakyat tidak boleh ada tiga dosa besar dunia pendidikan, yaitu perundungan atau bullying, kekerasan fisik maupun seksual, dan intoleransi, baik dilakukan oleh siswa, guru, ataupun tendik.
Jika ditemukan ada pelanggaran, maka untuk guru atau tendik akan menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku. Namun pada siswa, diutamakan untuk proses rehabilitasi, mengingat siswa SR yang berasal dari berbagai latar belakang dan masih di bawah umur.
"Ini kan masih di bawah umur, ada prosedurnya. Ya mungkin rehabilitasi, mungkin akan ada rehabilitasi. Tentu ini akan kita tangani dengan prosedur yang ada," jelasnya.

























