Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Siti Zuhro: Blusukan Gibran di Jakarta Buka Jalan Bagi Kaesang
Wakil presiden terpilih, Gibran Rakabuming Raka melakukan blusukan di Pasar Nangka, Jakarta Pusat pada 3 Juli 2024. (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • Peneliti utama BRIN Siti Zuhro menilai blusukan Cawapres terpilih Gibran Rakabuming Raka blusukan di Jakarta bertujuan bukan belanja masalah di Jakarta, tetapi demi membuka jalan bagi adiknya, Kaesang Pangarep, menjelang Pilkada Jakarta 2024. Harusnya, jika memang ingin belanja masalah ia blusukan ke semua provinsi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Peneliti utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro, menilai aksi blusukan yang dilakukan Calon Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka, belakangan ini di Jakarta bukan sekadar ingin belanja masalah agar lebih memahami tugasnya sebagai wakil presiden terpilih. Sebab, dua kali momen blusukan, Gibran hanya mengunjungi Jakarta.  

Pertama, pada 3 Juli 2024, ketika Gibran didampingi selebritas kondang Raffi Ahmad membagikan susu dan buku gratis kepada warga. Kedua, ketika mendampingi Penjabat (Pj.) Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi, saat blusukan ke Kali Semonggol, Jakarta Barat pada 28 Juni 2024. Uniknya, ketika mendampingi Heru, Gibran mengaku posisinya sebagai Wali Kota Solo yang tengah blusukan. 

"Ini kan kita baru saja kita melakukan Pilpres dan Pemilu Legislatif (Pileg) serentak pada Februari lalu. Belanja masalah apa lagi yang ingin dibelanjakan? Jadi apa pula yang mau dicatat dari Jakarta ini? Kan kemarin saat Pilpres blusukannya sudah luar biasa," ujar Siti ketika dikonfirmasi, Senin (8/7/2024). 

Menurut Siti, blusukan Gibran saat ini dengan momen ketika Pilpres lalu, tak ada yang baru. Sebab, ia sama-sama membagikan buku dan susu gratis. 

"Kita kan punya 545 daerah, 415 kabupaten, dan 38 provinsi. Mampu gak belanja masalah di semua wilayah ini? Karena pilkadanya serentak di 545 daerah," katanya. 

Siti pun menilai bila Gibran menjadi pemimpin bagi semua wilayah, usai menang Pilpres Februari lalu, ia juga harusnya blusukan ke provinsi lain. Tidak hanya di Jakarta. 

"Mestinya konsisten dilakukan saja itu (blusukan). Bagaimana ke daerah-daerah sambil membagikan susu. Jadi harus dibagikan ke semua provinsi di Indonesia," imbuhnya. 

1. Blusukan Gibran ada kaitannya dengan perubahan PKPU soal syarat calon kepala daerah

Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka. (IDN Times/Larasati Rey)

Siti melihat kondisi politik di Tanah Air tidak ada yang tak memungkinkan, termasuk mengubah aturan. Apalagi momen Gibran blusukan terjadi usai ada perubahan aturan di Mahkamah Agung (MA) mengenai syarat menjadi calon kepala daerah.

Dalam putusan MA itu, seseorang harus berusia minimal 30 tahun ketika maju sebagai calon gubernur atau calon wakil gubernur. Momen itu dihitung ketika ia dilantik, bukan saat mendaftar. Putusan MA Nomor 23 P/HUM/2024 itu kemudian diterjemahkan menjadi PKPU Nomor 8 Tahun 2024. 

"Manuver politik apapun sangat dimungkinkan. Apalagi penegakan hukum di negara kita kan lembek begini. Maka siapa yang bisa menjaga agar kita bisa melakukan kompetisi di Pilkada di 545 dengan adil," ujar Siti. 

Ketika ditanya apakah aksi blusukan Gibran demi kepentingan adik bungsunya, Kaesang Pangarep, Siti tak memungkiri. Alih-alih mendorong Kaesang, Siti justru menilai Partai Solidaritas Indonesia (PSI) seharusnya mengajukan Ketua DPP Dedek Prayudi maju di Pilkada DKI Jakarta. 

"Mengapa kalau PSI sama-sama mengusung anak muda, dia tidak diusulkan? Menurut saya harus fair play lah kontestasi kompetisinya," ujar Siti. 

2. Kaesang diingatkan bangun rekam jejak lebih dulu sebelum maju Pilkada DKI

Ketua PSI, Kaesang Pangarep. (IDN Times/Larasati Rey)

Siti juga mengingatkan Kaesang Pangarep sebelum berlaga di Pilkada bahwa kepala daerah tidak bisa instan. Dibutuhkan rekam jejak dan proses. Langkah serupa juga ditempuh ayah Kaesang, Joko "Jokowi" Widodo. 

Kaesang kini disebut-sebut bakal berlaga di Pilkada Jakarta atau Jawa Tengah. Namun, beberapa lembaga survei menempatkan nama Kaesang lebih populer di Jateng ketimbang di Jakarta. 

"Karier itu tidak bisa lompat. Untuk bisa masuk ke level eksekutif dibutuhkan pengalama. Pak Jokowi saja mulai dari Solo dulu, baru menapaki provinsi, kemudian ke Pilpres," ujar Siti. 

Sedangkan, Kaesang tidak memiliki rekam jejak di pemerintahan daerah. Alih-alih mengajukan Kaesang, Jokowi dinilai seharusnya mendorong nama kandidat lain yang lebih kuat untuk diturunkan di Pilkada Jakarta. Salah satunya, kader Golkar, Ridwan Kamil. 

"Ini kan kompetisi kelas berat. Bukan kelas berat melawan kelas bulu. Nanti bisa timpang," kata Siti. 

3. PSI klaim yang mengusung Kaesang sebagai bakal calon kepala daerah adalah PKB

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep. (www.instagram.com/@kaesangp)

Sementara, Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedek Prayudi, mengklaim Kaesang digadang-gadang sebagai calon kepala daerah di Jakarta oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Perlu diketahui juga, sebelum disebut-sebut PKB di Pilkada Jakarta, Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, sudah lebih dulu mengunggah foto duet Budi Djiwandono dan Kaesang maju di Pilkada Jakarta. 

Belakangan, Budi diminta Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, agar tetap bertugas di parlemen. "Tetapi ketika itu kami tidak ingin mendahului proses hukum. Ketika PKPU sudah diteken dan direvisi, baru kami bahas cukup serius," ujar Dedek kepada media di Jakarta, Senin. 

Dedek mengaku sudah bertemu dengan putra bungsu Jokowi. Hasilnya, ia terlihat lebih tertarik dengan situasi di Jawa Tengah. 

Sementara, Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Indikator Politik juga menempatkan Kaesang sebagai nama yang paling populer di bursa Pilkada Jateng 2024.

"Mas Kaesang kaget namanya moncer di Jawa Tengah, padahal yang ramai disebut di Jakarta. Saya sempat godain Mas Kaesang agar namanya kami angkat saja di Jateng," kata Dedek. 

Ia pun menepis persepsi publik blusukan Gibran demi membukakan jalan bagi Ketua Umum PSI itu. Sebab, kata Dedek, bisa jadi Kaesang tidak jadi maju di Pilkada. 

"Kalau pun maju, belum tentu Mas Kaesang akan maju di Jakarta," imbuh Dedek. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article