Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
TNI AL Siagakan KRI Lepu-861 Pantau Aktivitas Gunung Anak Krakatau
TNI Angkatan Laut (AL) kerahkan KRI Lepu-861 untuk memantau situasi keamanan navigasi pelayaran dan menyiagakan personel Search and Rescue (SAR). (Dokumentasi TNI AL)
  • TNI AL mengerahkan KRI Lepu-861 di Laut Sunda untuk memantau erupsi Anak Krakatau, keamanan navigasi, serta menyiagakan personel SAR dan logistik bagi warga pesisir.
  • Pengamatan KRI mencatat erupsi masih berlangsung, kabut tebal membatasi jarak pandang, dan abu vulkanik terpantau hingga radius 6 mil laut; kapal Selat Sunda diminta waspada.
  • Anak Krakatau berstatus Level III Siaga dengan larangan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah; BMKG tidak mendeteksi abu melalui satelit, namun area tertutup awan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    TNI AL mengerahkan KRI Lepu-861 untuk memantau erupsi Gunung Anak Krakatau, keamanan navigasi Selat Sunda, serta menyiapkan SAR dan bantuan logistik bagi masyarakat pesisir.
  • Who?
    TNI AL, KRI Lepu-861, Lanal Lampung, Lanal Banten, Brigif 4 Marinir/BS, BPBD, Basarnas, nelayan, BMKG, BNPB, serta warga dan pelaut di sekitar Laut Sunda terlibat dalam pemantauan dan mitigasi.
  • Where?
    Pemantauan dilakukan di perairan Laut Sunda dan jalur Selat Sunda, sekitar Gunung Anak Krakatau. KRI Lepu-861 melakukan pengamatan visual dari jarak 1,5 mil laut dari lokasi gunung.
  • When?
    KRI Lepu-861 disiagakan sejak Selasa, 8 September 2026. Erupsi masih terjadi pada Kamis, 10 September 2026, sementara data pemantauan BMKG tersedia pada Jumat, 11 September 2026.
  • Why?
    Pengerahan dilakukan karena aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat dan erupsi masih berlangsung, dengan abu vulkanik sebelumnya terpantau hingga radius 6 mil laut yang berpotensi mengganggu navigasi pelayaran.
  • How?
    TNI AL memantau kondisi dari kapal, berkoordinasi dengan instansi terkait, mengedukasi nelayan, membagikan masker, alat keselamatan, dan swim vest. Kapal yang melintas Selat Sunda diminta meningkatkan kewaspadaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gunung Anak Krakatau masih meletus. TNI AL mengirim kapal KRI Lepu-861 untuk melihat laut dan membantu orang di dekat Selat Sunda. Mereka memberi masker dan alat aman kepada nelayan. Kapal yang lewat diminta hati-hati. Sekarang gunung masih siaga. Abu tidak terlihat, tapi gunung tertutup awan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kesiapsiagaan TNI AL terlihat melalui pemantauan langsung KRI Lepu-861, penyiagaan SAR dan logistik, serta koordinasi dengan lembaga kebencanaan dan maritim. Dukungan masker, alat keselamatan, dan edukasi bagi nelayan menunjukkan perlindungan masyarakat pesisir berjalan bersamaan dengan upaya menjaga keselamatan navigasi di Selat Sunda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai meningkat sejak pekan lalu. Meskipun sudah menurun, tetapi pada Kamis (10/9/2026), erupsi tetap terjadi.

TNI Angkatan Laut (AL) kemudian bergerak dengan mengerahkan unsur kapal perang KRI Lepu-861 untuk memantau situasi keamanan navigasi pelayaran sekaligus menyiagakan personel Search and Rescue (SAR) dan bantuan logistik bagi masyarakat pesisir di sekitar perairan Laut Sunda sejak Selasa (8/9/2026) lalu.

Komandan Lanal (Danlanal) Lampung, Letnan Kolonel Laut (P) Irianto Kurniawan, sudah berkoordinasi dengan Asops Komandan Gugus Tempur Laut Koarmada I dan Komandan KRI Lepu-861 untuk melaksanakan peninjauan langsung di lapangan. Dari hasil pengamatan visual KRI Lepu-861 pada jarak 1,5 mil laut dari lokasi, dilaporkan kondisi erupsi masih terjadi.

"Gunung tertutup kabut tebal dengan jarak pandang di sekitar area gunung kurang lebih 3 mil laut, tinggi gelombang tercatat 0,5 hingga 1 meter dengan arah angin dari selatan ke utara pada kecepatan 7-10 knot. Sebaran abu vulkanik masih terpantau hingga radius 6 mil laut," demikian isi keterangan tertulis dari TNI AL, dikutip Jumat (11/9/2026).

Oleh sebab itu, kapal-kapal yang melintas Selat Sunda diminta untuk waspada karena berpotensi mengganggu jalur navigasi.

"TNI AL terus memantau perkembangan situasi dari dekat guna memastikan jalur pelayaran tetap aman sekaligus menyiapkan langkah mitigasi cepat bagi masyarakat perairan pesisir," ujar TNI AL.

1. Personel lanal berkolaborasi untuk menyampaikan informasi soal aktivitas Gunung Api Krakatau

TNI Angkatan Laut (AL) kerahkan KRI Lepu-861 untuk memantau situasi keamanan navigasi pelayaran dan menyiagakan personel Search and Rescue (SAR). (Dokumentasi TNI AL)

TNI AL mengatakan, edukasi juga diberikan kepada personel nelayan yang masih melaut. Sinergi itu juga digelar di darat secara kolaboratif oleh personel Lanal Lampung, Lanal Banten dan Brigif 4 Marinir/BS.

"TNI AL telah melakukan sejumlah hal meliputi pembagian masker, alat keselamatan, dan swim vest kepada masyarakat dan perwakilan nelayan sekaligus memberikan imbauan keselamatan melaut, koordinasi lintas instansi secara update bersama BPBD, Basarnas dan instansi maritim terkait lainnya," kata TNI AL.

Menurut TNI AL, langkah itu merupakan wujud nyata penekanan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali sebagai bentuk wujud kesiapsiagaan TNI AL dalam merespons kondisi darurat yang terjadi di wilayah Indonesia dan menjadi bukti nyata implementasi Operasi Militer Selain perang (OMSP).

2. Tidak ada abu vulkanik yang terdeteksi pada hari ini di Gunung Anak Krakatau

TNI Angkatan Laut (AL) kerahkan KRI Lepu-861 untuk memantau situasi keamanan navigasi pelayaran dan menyiagakan personel Search and Rescue (SAR). (Dokumentasi TNI AL)

Menurut data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9 per Jumat pukul 07.00, abu vulkanik tidak terdeteksi di tiga gunung api seperti Gunung Anak Krakatau, Gunung Dukono, dan Gunung Ibu.

"Sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak terdeteksi," demikian yang tertulis di akun medsos BMKG.

BMKG sudah memberikan disclaimer bahwa sebaran abu vulkanik tidak terdeteksi karena ada wilayah gunung api yang tertutup awan. BMKG juga menginformasikan debu vulkanik yang tidak teridentifikasi pada produk analis satelit, bukan berarti debu vulkanik tidak ada.

3. Gunung Anak Krakatau masih dikategorikan di level siaga

TNI Angkatan Laut (AL) kerahkan KRI Lepu-861 untuk memantau situasi keamanan navigasi pelayaran dan menyiagakan personel Search and Rescue (SAR). (Dokumentasi TNI AL)

Sementara, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan, Gunung Anak Krakatau kini masih ada di level III atau siaga. Artinya, aktivitas vulkanik semakin meningkat secara nyata, intensif, dan dapat disertai letusan.

"Pada status level ini, tentu otoritas kegunungapian masih merekomendasikan masyarakat, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif," kata Berton.

Dia mengatakan, berdasarkan citra RGB Himawari pukul 13.00 WIB, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak terdeteksi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article