Viral Fenomena Penumpang Gratisan Transjakarta Non- BRT Saat Rush Hour

- Fenomena penumpang gratisan di layanan TransJakarta Non-BRT viral setelah banyak pengguna mengeluhkan penumpang naik tanpa tap kartu, membuat bus makin padat dan merugikan yang membayar resmi.
- Ketiadaan pramusapa di dalam bus membuat pengawasan lemah, sementara sopir tak bisa memantau mesin tap saat mengemudi, sehingga banyak penumpang memanfaatkan situasi terutama di jam sibuk.
- Pihak TransJakarta menyatakan akan melakukan evaluasi sistem ticketing dan memperkuat pengawasan lapangan agar kepatuhan tap in-tap out meningkat serta layanan publik tetap tertib dan akurat.
Jakarta, IDN Times – Fenomena penumpang “gratisan” di layanan TransJakarta rute Non-BRT atau bus feeder menjadi sorotan usai ramai dibahas di media sosial.
Sejumlah pengguna mengeluhkan masih banyak penumpang yang naik dan turun bus tanpa melakukan tap kartu pembayaran, sehingga membuat bus semakin padat dan merugikan penumpang lain yang membayar tarif resmi.
Keluhan tersebut diunggah akun Threads @a**ngmr*. Ia mengaku sering menemukan penumpang yang memanfaatkan lemahnya pengawasan di armada Non-BRT untuk naik tanpa membayar.
"Sebagai pengguna setia TransJakarta rute Non-BRT (yang busnya lewat jalan raya biasa), gue sering banget nemu "celah" sistem pembayaran yang makin ke sini makin meresahkan," tulisnya dikutip Kamis (28/5/2026).
1. Tidak ada pramusapa dalam bis feeder

Menurut dia, kondisi itu terjadi karena saat ini tidak ada lagi petugas pramusapa di dalam bus. Sementara sopir dinilai tidak mungkin mengawasi mesin tap sekaligus fokus mengemudi di tengah lalu lintas Jakarta.
“Banyak banget penumpang yang naik-turun di bus stop tanpa tap in maupun tap out,” tulis akun tersebut.
2. Penumpang manfaatkan rush hour atau saat jam sibuk

Ia mengatakan, praktik tersebut paling terlihat saat jam sibuk maupun di pemberhentian akhir. Dari situ, ia bisa melihat langsung adanya penumpang yang tertib melakukan tap kartu dan penumpang yang hanya memanfaatkan situasi untuk naik gratis.
Akibatnya, bus menjadi lebih penuh dan sesak. Penumpang yang sudah membayar tarif resmi harus tetap berdesakan dengan penumpang yang tidak tercatat dalam sistem.
“Penumpang yang udah bayar jujur terpaksa berdesakan sama orang-orang yang numpang gratis,” katanya.
3. Transjakarta akan evaluasi

Terkait hal ini, Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta Ayu Wardhani mengatakan, Transjakarta terus melakukan identifikasi dan evaluasi terhadap titik layanan, khususnya pada koridor dan halte layanan Non-BRT dengan volume pelanggan tinggi.
Proses ini dilakukan melalui monitoring operasional dan penguatan pengawasan lapangan, termasuk dukungan dari pramudi dan petugas operasional.
Transjakarta memahami pentingnya kepatuhan pelanggan dalam melakukan tap in dan tap out karena hal tersebut berkaitan dengan ketertiban layanan, akurasi data perjalanan, serta optimalisasi sistem pembayaran transportasi publik.
"Untuk itu, Transjakarta akan secara berkala melakukan evaluasi terhadap sistem ticketing, pola transaksi, dan pola pergerakan pelanggan untuk memastikan sistem berjalan sesuai ketentuan," tegasnya.


















