Tenaga kesehatan di New Delhi, India, sedang beristirahat pada 10 Juli 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Danish Siddiqui
Saat mengalami serangkaian kejadian di mana keselamatan dan kesejahteraan mereka tak diperhatikan padahal situasinya sangat krisis, maka wajar ketika para nakes mengeluh dan protes kepada otoritas rumah sakit serta negara.
Konsekuensi yang dihadapi rupanya tidak kalah buruk. Berdasarkan catatan Amnesty International, setidaknya ada 31 negara di mana para nakes protes atau mengancam melakukannya. Di beberapa negara, mereka masih harus menghadapi konsekuensi balas dendam atas tindakan tersebut.
Contohnya di Mesir, ada sembilan nakes yang ditahan sepihak antara Maret hingga Juni. Mereka dituduh "menyebarkan berita palsu" dan terorisme. Melansir AP, ada seorang dokter yang ditangkap setelah menulis sebuah artikel berisi kritik terhadap sistem kesehatan Mesir.
"Setiap hari saya pergi bekerja, saya mengorbankan diri saya sendiri dan seluruh keluarga saya," kata seorang dokter di Kairo yang menolak mengidentifikasi diri karena takut atas keselamatannya. "Kemudian, mereka menangkap kolega-kolega saya untuk mengirimkan pesan kepada kami."
Tindakan sewenang-wenang tersebut adalah sebuah kesalahan. Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menegaskan, para nakes berhak protes, bahkan mogok kerja jika merasa tidak mendapatkan perhatian yang selayaknya.
"Hanya karena menyampaikan keprihatinan mereka terkait kesehatan, tidak boleh ada pembalasan dari negara," ujar Usman saat konferensi pers virtual, Senin 13 Juli 2020.