Jakarta, IDN Times - Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, menetapkan lima bidang prioritas yang dinilai akan menjadi fondasi penguatan hubungan ASEAN dan China di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Lima bidang tersebut mencakup perdamaian dan stabilitas, transformasi digital, kerja sama energi, penanganan ancaman lintas negara, serta konektivitas antarmasyarakat.
Hal itu disampaikan Kao Kim Hourn dalam Jakarta Forum 2026 yang digelar bertepatan dengan peringatan lima tahun Kemitraan Strategis Komprehensif ASEAN-China dan 35 tahun hubungan dialog kedua pihak pada Senin (22/6/2026).
Menurut Kao, hubungan ASEAN-China telah berkembang jauh selama tiga setengah dekade terakhir dan kini menjadi salah satu kemitraan paling strategis di kawasan. Pada 2025, nilai perdagangan barang antara kedua pihak telah mencapai 1 triliun dolar AS, sementara investasi langsung dari China ke ASEAN melampaui 20 miliar dolar AS.
“Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah ukuran dari hubungan yang telah tumbuh secara signifikan selama tiga setengah dekade menjadi salah satu kemitraan paling strategis di kawasan kita, dan pentingnya bahkan melampaui kawasan ini,” kata Kao.
Dia mengatakan, dunia saat ini jauh berbeda dibandingkan ketika hubungan ASEAN-China pertama kali dibangun. Ketegangan geopolitik meningkat, fragmentasi ekonomi semakin cepat, sementara krisis di Timur Tengah memperlihatkan rapuhnya rantai pasok energi dan pangan dunia.
“ASEAN tidak terisolasi dari berbagai kekuatan tersebut, tetapi ASEAN juga tidak bersikap pasif. Dalam konteks itu, kemitraan ASEAN-China yang lebih kuat bukan sekadar sesuatu yang diinginkan, melainkan sebuah kebutuhan,” ujar dia.
