Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Irak Bantah Isu Hengkang dari OPEC, Tetap Minta Kuota Produksi Ditambah

Irak Bantah Isu Hengkang dari OPEC, Tetap Minta Kuota Produksi Ditambah
ilustrasi bendera Irak (pexels.com/Engin Akyurt)
Intinya Sih
  • Kementerian Minyak Irak menegaskan tidak ada rencana keluar dari OPEC dan tetap berkomitmen bekerja dalam mekanisme organisasi, meski meminta peninjauan ulang kuota produksi nasional.
  • OPEC+ mulai meninjau kapasitas produksi berkelanjutan seluruh anggota dengan melibatkan konsultan independen, sambil secara bertahap menghapus pemotongan sukarela untuk memperkuat batas produksi efektif Irak.
  • Irak mendorong penyelesaian isu kuota melalui mekanisme teknis berbasis konsensus di OPEC+, agar target produksi 2027 mencerminkan kondisi ekonomi dan kemampuan infrastruktur negara tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Kementerian Minyak Irak membantah laporan yang menyebut Baghdad mengancam akan keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) jika permintaan kenaikan kuota produksinya tidak dipenuhi. Pemerintah menyebut isu tersebut bukan sikap resmi karena tak pernah dibahas oleh perdana menteri maupun kabinet.

Irak tetap meminta OPEC mengkaji kembali batas produksi agar sejalan dengan kapasitas berkelanjutan setiap negara anggota. Peninjauan itu diminta dengan mempertimbangkan kondisi keamanan serta situasi ekonomi domestik yang dimiliki Irak.

1. Irak mengajukan peninjauan kuota produksi

ilustrasi kilang minyak
ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Pixabay)

Sebagai produsen minyak terbesar kedua di OPEC sekaligus satu dari lima anggota pendiri sejak 1960, Irak menilai kemampuan produksi serta kebutuhan rekonstruksi pascaperang menjadi dasar untuk memperoleh kuota yang lebih besar.

Juru Bicara Kementerian Minyak Irak, Salim Al-Rikabi pada Kamis (25/6/2026) menyampaikan posisi resmi pemerintah terkait keanggotaan negara itu di OPEC.

“Saat ini tidak ada niat bagi kementerian untuk mundur dari OPEC, dan kami tetap berkomitmen untuk bekerja dalam mekanisme organisasi tersebut,” katanya, dikutip The National.

Al-Rikabi juga mengatakan keputusan mengenai tetap bertahan atau keluar dari organisasi akan diambil apabila peningkatan kuota yang diharapkan tak terwujud. Sektor minyak menyumbang sedikitnya 90 persen pendapatan negara yang kini terdampak berat akibat gangguan ekspor melalui Selat Hormuz.

2. OPEC+ meninjau kapasitas produksi anggota

ilustrasi kilang minyak
ilustrasi kilang minyak (pexels.com/ Erik Mclean)

Menanggapi permintaan tersebut, OPEC dan negara sekutunya (OPEC+) memulai peninjauan kapasitas produksi berkelanjutan maksimum seluruh negara anggota. Dilansir Bernama, Kementerian menjelaskan proses itu melibatkan firma konsultan internasional independen dengan partisipasi aktif Baghdad.

Di sisi lain, OPEC+ mulai mengembalikan volume produksi yang sebelumnya dipangkas secara bertahap. Langkah itu ditargetkan menghapus seluruh pemotongan sukarela dalam beberapa bulan ke depan guna memperkuat batas produksi efektif Irak.

Kementerian juga menyebut anggota OPEC+ memahami kondisi khusus Irak yang masih menghadapi dampak perang selama empat dekade, sanksi, embargo, kerusakan infrastruktur, serta aksi sabotase teroris terhadap fasilitas minyak.

3. Kementerian mendorong penyelesaian lewat mekanisme teknis

ilustrasi kilang minyak
ilustrasi kilang minyak (pexels.com/ Erik Mclean)

Berdasarkan data OPEC, produksi minyak Irak hanya mencapai 1,48 juta barel per hari pada Mei akibat gangguan di Selat Hormuz. Angka tersebut masih jauh di bawah kuota Juli yang ditetapkan sebesar 4,378 juta barel per hari. Aliansi minyak itu kini meminta peninjauan yang lebih luas terhadap kapasitas pompa teknis setiap negara anggota sebagai dasar penetapan target produksi tahun 2027.

Kementerian menegaskan seluruh persoalan mengenai batas output maupun tingkat kapasitas harus diselesaikan melalui mekanisme teknis berbasis konsensus di internal OPEC+ demi mencapai tingkat produksi yang adil bagi Irak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More