Ini Alasan Transjakarta Hapus Rute 1N dan 10D Mulai 30 Juni 2026

- Transjakarta akan menghapus rute 1N Tanah Abang–Blok M dan 10D Tanjung Priok–Kampung Rambutan mulai 30 Juni 2026 sebagai hasil evaluasi untuk optimalkan layanan pelanggan.
- Sebanyak 25 armada dari dua rute tersebut akan dialihkan guna mempercepat waktu tunggu dan mendukung jalur dengan kebutuhan perjalanan lebih tinggi tanpa mengurangi akses mobilitas masyarakat.
- Sebanyak 68 titik di rute 10D dan 47 titik di rute 1N tetap terlayani melalui rute alternatif, memastikan fasilitas publik tetap terakomodasi sesuai hasil evaluasi berkala Transjakarta.
Jakarta, IDN Times - PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mengatakan penghapusan rute 1N Tanah Abang–Blok M dan 10D Tanjung Priok–Kampung Rambutan yang akan beroperasi hingga 30 Juni 2026 ini merupakan bagian dari evaluasi berkala untuk mengoptimalkan pelayanan kepada pelanggan.
"Evaluasi dilakukan terhadap pola perjalanan pelanggan serta tingkat tumpang tindih layanan dengan rute Transjakarta lainnya yang melintasi koridor yang sama," ucap Direktur Utama PT Transportasi Jakarta, Welfizon Yuza dalam keterangan, Jumat (26/6/2026).
1. Persingkat waktu tunggu

Welfizon menerangkan melalui penyesuaian ini, 25 armada diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk mendukung layanan pada rute dengan kebutuhan perjalanan yang lebih tinggi.
"Selain itu juga mempersingkat waktu tunggu tanpa mengurangi akses mobilitas masyarakat karena alternatif perjalanan telah disiapkan," katanya.
2. Seluruh titik rute 10D dan 1N tetap dilayani

Welfizon mengatakan bahwa evaluasi layanan merupakan bagian dari upaya Transjakarta untuk memastikan jaringan angkutan umum tetap adaptif terhadap kebutuhan pelanggan.
"Seluruh fasilitas publik yang berada di sepanjang rute yang ditata yakni 68 titik di rute 10D dan 47 titik di rute 1N dipastikan tetap diakomodasi dan dilayani dengan baik oleh rute-rute alternatif," ucapnya
3. Evaluasi dilakukan berkala

Welfizon mengatakan Transjakarta secara berkala melakukan evaluasi terhadap setiap layanan berdasarkan pola perjalanan pelanggan dan kinerja operasional.
"Penyesuaian ini dilakukan agar armada dapat dimanfaatkan secara lebih optimal sekaligus menjaga kualitas layanan secara keseluruhan. Kami juga telah menyiapkan alternatif perjalanan sehingga pelanggan tetap dapat melakukan mobilitas dengan nyaman,” kata Welfizon.


















