Jakarta, IDN Times - Warga Tibet di pengasingan dan sejumlah kelompok advokasi menuduh China menutupi skala kerusakan akibat banjir bandang yang melanda perbatasan Nepal-Tibet pekan lalu. Mereka mengklaim bahwa jumlah korban sebenarnya jauh lebih besar dari yang dilaporkan pemerintah.
Hingga Rabu (2/9/2026), otoritas China melaporkan bahwa sedikitnya 21 orang tewas dan 541 lainnya hilang di Tibet, termasuk lebih dari 200 warga negara asing (WNA). Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan di Nepal, di mana korban tewas mencapai 1.114 orang, sementara sekitar 3.900 lainnya masih dinyatakan hilang.
"Apa yang terlihat di Nepal mengungkap apa yang disembunyikan di Tibet. Empat desa—Sale, Serchung, Labi, dan Rizi—termasuk wilayah yang paling parah terdampak, dengan sekitar 300 rumah dilaporkan hancur dan banyak warga masih hilang," kata Tencho Gyatso, presiden International Campaign for Tibet, dikutip The Guardian.
