Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Aktivis Tibet Tuduh China Tutupi Skala Sebenarnya Bencana Banjir

Aktivis Tibet Tuduh China Tutupi Skala Sebenarnya Bencana Banjir
Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang di Devighat, Bidur Municipality, distrik Nuwakot, Nepal pada 27 August 2026 (AFP/ (AFP/PRABIN RANABHAT)
  • Aktivis Tibet dan kelompok advokasi menuduh China mengecilkan dampak banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet, dengan korban serta kerusakan sebenarnya diduga lebih besar dari laporan resmi.
  • Otoritas China melaporkan 21 tewas dan 541 hilang di Tibet, sedangkan pengasingan Tibet menyebut sejumlah desa hancur, pekerja proyek hilang, dan sekitar 25 warga Tibet tewas.
  • Beijing menegaskan informasi bencana disampaikan transparan dan tepat waktu, sementara verifikasi independen sulit dilakukan karena pembatasan peliputan serta risiko bagi warga lokal yang memberi informasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Warga Tibet di pengasingan dan sejumlah kelompok advokasi menuduh China menutupi skala kerusakan akibat banjir bandang yang melanda perbatasan Nepal-Tibet pekan lalu. Mereka mengklaim bahwa jumlah korban sebenarnya jauh lebih besar dari yang dilaporkan pemerintah.

Hingga Rabu (2/9/2026), otoritas China melaporkan bahwa sedikitnya 21 orang tewas dan 541 lainnya hilang di Tibet, termasuk lebih dari 200 warga negara asing (WNA). Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan di Nepal, di mana korban tewas mencapai 1.114 orang, sementara sekitar 3.900 lainnya masih dinyatakan hilang.

"Apa yang terlihat di Nepal mengungkap apa yang disembunyikan di Tibet. Empat desa—Sale, Serchung, Labi, dan Rizi—termasuk wilayah yang paling parah terdampak, dengan sekitar 300 rumah dilaporkan hancur dan banyak warga masih hilang," kata Tencho Gyatso, presiden International Campaign for Tibet, dikutip The Guardian.

  1. 1. Warga Tibet di pengasingan sebut ada 5 desa yang terdampak parah

    ilustrasi operasi penyelamatan
    ilustrasi operasi penyelamatan (pexels.com/Long Bà Mùi)

    Sementara itu, Tibet Radio, media yang dikelola oleh warga Tibet di India, mengatakan telah mengumpulkan laporan mengenai sekitar 25 warga Tibet yang tewas dalam banjir dahsyat di wilayah tersebut. Sebanyak 15 di antaranya berasal dari daerah perbatasan, sementara 10 lainnya datang untuk keperluan niaga dan pekerjaan.

    Warga Tibet di pengasingan mengatakan bahwa ada lima desa yang paling terdampak parah. Menurut kerabat mereka di Tibet, banyak pekerja dari Lhasa dan Shigatse berada di lokasi proyek pembangunan jembatan saat kejadian. Hingga kini, keberadaan mereka masih belum diketahui.

  2. 2. Pembangunan bendungan PLTA oleh China di Tibet disebut sebagai salah satu penyebab utama banjir

    ilustrasi tim penyelamat
    ilustrasi tim penyelamat (pexels.com/Long Bà Mùi)

    Sementara itu, warga Tibet yang tinggal di pengasingan di Australia juga diliputi kecemasan memikirkan nasib keluarga mereka di kampung halaman.

    “Kami yakin bahwa mereka mengecilkan skala kerusakan yang terjadi. Warga Tibet di Australia tahu bahwa mereka tidak bisa begitu saja menelepon kerabat mereka dan bertanya, ‘Apa yang sebenarnya terjadi?’ Hal itu justru dapat membahayakan kerabat mereka," kata Zoe Bedford, pejabat eksekutif Australia Tibet Council, dikutip France24.

    Beata Tikos dari Tibet House di New York, sebuah pusat kebudayaan yang didirikan oleh Dalai Lama, mengatakan bahwa kebingungan terkait pernyataan dari Beijing bukanlah hal yang mengejutkan. Menurutnya, pembangunan bendungan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) oleh China di Tibet dan rekayasa aliran sungai merupakan salah satu penyebab utama bencana tersebut.

    "Ada banyak bukti dokumentasi langsung yang menunjukkan bahwa pembangunan bendungan memperparah pencairan gletser dan lapisan tanah beku abadi (permafrost) yang memang sudah terjadi akibat pemanasan suhu," ujar Tikos.

  3. 3. Pemerintah China tegaskan bahwa penyampaikan informasi telah dilakukan secara transparan

    ilustrasi banjir
    ilustrasi banjir (pexels.com/Pok Rie)

    Tuduhan bahwa China menutup-nutupi dampak banjir tersebut segera dibantah oleh Beijing. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa penyampaian informasi mengenai banjir dan tanah longsor di wilayah perbatasan telah disampaikan secara transparan dan tepat waktu.

    "Kampanye fitnah yang jahat dan upaya membesar-besarkan situasi bencana ini tidak sejalan dengan sentimen publik," ujarnya.

    Verifikasi independen sangat sulit dilakukan di Tibet. Jurnalis asing menghadapi pembatasan ketat dalam melakukan peliputan di wilayah tersebut, sementara warga lokal dapat dipenjara jika memberikan informasi kepada jurnalis dan kelompok advokasi di luar China.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More