Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menggelar pertemuan dengan Presiden Korea Utara, Kim Jong Un, di acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) AS-Korut di Singapura pada Juni 2018. (commons.wikimedia.org/ Executive Office of the President of the United States)
Latihan militer yang dilakukan AS dan Korsel setiap tahun ini sering mendapatkan kecaman dari Korea Utara (Korut). Sebab, Presiden Korut, Kim Jong Un, menganggap latihan tersebut sebagai ancaman militer terhadap negaranya. Oleh karena itu, setiap militer Washington dan Seoul melakukan latihan bersama, Pyongyang kerap melakukan tindakan provokasi dengan menggelar latihan militer mandiri atau menembakkan rudal ke dekat wilayah Korsel.
Sikap Korsel ini menjadi salah satu alasan mengapa Trump memutuskan untuk mengurangi latihan militer dengan Korsel. Sebab, dalam pernyataannya, Presiden AS ke-45 dan ke-47 itu ingin menghormati keberadaan Korut. Terlebih, selama ini, Korut tidak pernah berkonflik dengan AS meski hubungan kedua negara agak renggang karena Pyongyang berambisi mengembangkan senjata nuklir.
“Latihan-latihan ini tidak hanya memakan biaya besar yang sebagian besarnya ditanggung oleh Amerika Serikat (seperti biasa!), tetapi juga mengirimkan sinyal yang sama sekali tidak pantas dan bermusuhan kepada sebuah negara yang, selama masa kepemimpinan Donald J. Trump, tidak menunjukkan sikap mengancam dan justru bersikap penuh hormat,” jelas Trump.