Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Angka Kematian Tahanan Imigrasi AS Meningkat 140 Persen
ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/chris robert)
  • Laporan HRW dan PHR mencatat 52 imigran meninggal sejak Januari 2025, menunjukkan lonjakan angka kematian tahanan imigrasi AS hingga 140 persen dalam satu tahun terakhir.
  • Kelemahan layanan kesehatan dan meningkatnya kasus bunuh diri di pusat penahanan menjadi sorotan utama, dengan laporan menyebut keterlambatan medis serta pelanggaran kewajiban perawatan.
  • Pemerintah AS dikritik karena kurang transparan soal data kematian tahanan, sementara pejabat keamanan membantah tuduhan pembiaran dan menegaskan tingkat kematian masih tergolong rendah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Angka kematian imigran di pusat penahanan Amerika Serikat meningkat tajam dan mencapai level tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Laporan lembaga hak asasi manusia pada Kamis (25/6/2026) menyebut kondisi ini dipicu oleh pengetatan pengawasan perbatasan yang membuat jumlah tahanan menumpuk.

Human Rights Watch (HRW) dan Physicians for Human Rights (PHR) mencatat sedikitnya 52 imigran meninggal sejak Januari 2025. Data itu menunjukkan lonjakan angka kematian tahunan hingga 140 persen di fasilitas penahanan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) AS.

1. Angka kematian dan jumlah tahanan sama-sama melonjak

Kebijakan tegas terhadap imigran tanpa dokumen di bawah pemerintahan saat ini membuat jumlah tahanan membeludak. Populasi imigran di dalam penahanan naik drastis dari sekitar 40 ribu orang menjadi lebih dari 71 ribu orang.

Meski populasi bertambah, analisis statistik memperlihatkan tingkat kematian tumbuh tidak sebanding. Pada periode ini, rasio kematian imigran hampir empat kali lipat lebih tinggi dibanding masa pemerintahan sebelumnya.

“Orang-orang meninggal di tahanan ICE pada tingkat tertinggi dalam bertahun-tahun, bahkan setelah kami memperhitungkan lonjakan jumlah tahanan,” kata Brian Root, Penasihat Senior Teknologi dan Hak Asasi Manusia HRW, dilansir The Standard.

2. Layanan kesehatan lemah dan kasus bunuh diri naik

Laporan setebal 73 halaman berjudul Dying in Detention menemukan kendala serius pada layanan kesehatan serta minimnya tenaga medis. Keterlambatan penanganan medis menyebabkan kematian pada beberapa imigran yang mengalami stroke dan infeksi berat.

Kondisi kesehatan mental para tahanan juga menjadi sorotan. Kasus bunuh diri di pusat penahanan naik dari satu kejadian pada 2024 menjadi tujuh kasus sejak awal 2025.

“Dalam kasus-kasus yang catatan ICE dan rumah sakit rujukannya bisa kami akses, kami melihat pelanggaran kewajiban perawatan yang sangat mengejutkan,” ujar Katherine Peeler, Penasihat Medis PHR.

3. Pemerintah dikritik soal transparansi

Koalisi lembaga kemanusiaan menuding otoritas imigrasi membatasi akses informasi tentang detail kematian tahanan, baik kepada publik maupun Kongres AS. Penutupan akses data ini dinilai melanggar hukum internasional dan mempersulit evaluasi independen.

Menanggapi kritik, Sekretaris Keamanan Dalam Negeri AS, Markwayne Mullin, membela operasi keamanan di perbatasan demi membendung penyelundupan. Pemerintah membantah tuduhan pembiaran dan mengeklaim persentase kematian masih sangat rendah.

“Kami bekerja sangat baik di perbatasan, dan tingkat kematian yang kami catat hanya 0,009 persen,” kata Markwayne Mullin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article