Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Atasi Krisis Energi, Bangladesh Penghematan Listrik Nasional
Bendera Bangladesh (unsplash.com/engin akyurt)
  • Bangladesh memberlakukan penghematan listrik nasional mulai 13 Agustus 2026, membatasi jam operasional bisnis, acara publik, dan pencahayaan reklame, sementara layanan penting tetap beroperasi.
  • Pasokan gas hanya mencapai 2.100 mmcfd per hari, di bawah kebutuhan 3.800 mmcfd, memicu defisit 2.745 megawatt dan pemadaman bergilir 8–12 jam setiap hari.
  • Gangguan terminal LNG, kebakaran FSRU, serta kenaikan harga bahan bakar memperburuk krisis; Bangladesh meminta tambahan solar dari India untuk menjalankan pembangkit listrik cadangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Bangladesh memberlakukan kebijakan penghematan listrik nasional secara ketat mulai Kamis (13/8/2026). Kebijakan darurat ini diambil untuk mengatasi krisis pasokan energi domestik yang mengalami defisit daya signifikan.

Langkah pembatasan aktivitas publik ini bertujuan menyeimbangkan kembali ketahanan energi dan menekan dampak kelangkaan bahan bakar. Otoritas setempat mengimbau seluruh masyarakat mematuhi aturan efisiensi tersebut.

1. Pembatasan jam operasional sektor bisnis dan komersial

Seluruh pusat perbelanjaan, toko ritel, dan pasar tradisional wajib tutup pada pukul 20.00 waktu setempat. Aturan ini memajukan jam tutup satu jam lebih awal dan membatasi waktu operasional mulai pukul 11.00.

Pemerintah juga menghentikan kegiatan pameran dan acara kebudayaan pada pukul 20.00, serta memadamkan lampu papan reklame mulai pukul 19.00. Namun, fasilitas penting seperti rumah sakit, apotek, dan usaha makanan tetap boleh beroperasi.

Aparat memantau penertiban pemakaian listrik ini guna memastikan kepatuhan para pelaku usaha.

"Gangguan teknis di fasilitas terminal Excelerate terjadi di luar kendali kami," kata Menteri Tenaga Listrik, Energi, dan Sumber Daya Mineral, Iqbal Hassan Mahmood, dilansir The Business Standard.

2. Kelangkaan pasokan gas alam memicu pemadaman listrik

Pasokan gas harian Bangladesh anjlok hingga 2.100 juta mmcfd per hari, jauh dari kebutuhan nasional sebesar 3.800 mmcfd. Ladang gas lokal hanya memasok 1.630 mmcfd, sedangkan dua terminal LNG menyalurkan 410 mmcfd akibat kendala teknis dan cuaca buruk.

Kekurangan bahan bakar menyebabkan pembangkit listrik tidak beroperasi optimal sehingga terjadi defisit 2.745 megawatt pada beban puncak pukul 20.00. Kondisi ini memicu pemadaman listrik bergilir selama 8 hingga 12 jam setiap hari.

Kerusakan fasilitas regasifikasi makin memperparah krisis distribusi gas ke jaringan pembangkit listrik.

"Masalah pasokan gas ini bermula setelah satu unit terminal FSRU mengalami kebakaran," kata Menteri Tenaga Listrik, Energi, dan Sumber Daya Mineral, Iqbal Hassan Mahmood.

3. Permohonan bantuan ke India

Krisis listrik di Bangladesh makin tertekan oleh konflik geopolitik Iran yang mengganggu rantai pasok dan menaikkan harga bahan bakar dunia. Penurunan produksi gas dalam negeri membuat Bangladesh makin bergantung pada kargo gas cair internasional.

Menghadapi defisit energi yang mengancam industri, pemerintah Bangladesh meminta tambahan pasokan solar dari India melalui pipa lintas batas. Solar ini digunakan untuk menggerakkan pembangkit listrik cadangan pengganti pembangkit gas.

Pemerintah kedua negara terus memperkuat kerja sama diplomasi demi menjaga stabilitas pasokan listrik.

"Kami memiliki pipa penyalur dengan India dan telah meminta penambahan pasokan solar," kata Mahmood, dilansir Hindustan Times.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article