Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Banjir dan Longsor di Bangladesh Tewaskan 44 Orang

Banjir dan Longsor di Bangladesh Tewaskan 44 Orang
Banjir (unsplash.com/Chris Gallagher)
Intinya Sih
  • Banjir bandang dan tanah longsor akibat hujan monsun di tenggara Bangladesh menewaskan 44 orang, termasuk korban di kamp pengungsian Rohingya di Cox's Bazar.
  • Lebih dari satu juta warga terisolasi karena banjir besar yang merendam rumah, memutus listrik, dan menghambat akses pangan serta komunikasi di tujuh distrik terdampak.
  • Pemerintah bersama militer menyalurkan bantuan logistik dan obat-obatan meski terkendala infrastruktur rusak, sambil mengimbau warga untuk mengungsi ke posko aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Banjir bandang dan tanah longsor akibat hujan monsun melanda wilayah tenggara Bangladesh pada Sabtu (11/7/2026). Bencana ini menyebabkan sedikitnya 44 orang meninggal dunia.

Pemerintah setempat bersama tim penyelamat mulai menyalurkan bantuan logistik ke lokasi-lokasi terparah. Proses evakuasi warga terus berjalan di tengah ancaman cuaca ekstrem yang masih berlangsung.

1. Dampak korban jiwa akibat banjir dan tanah longsor

Hujan deras selama beberapa hari memicu banjir besar di tujuh distrik, termasuk Chattogram, Cox's Bazar, dan Bandarban. Tanah longsor juga menimpa kamp pengungsian Rohingya di Cox's Bazar dan menewaskan 16 orang, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

Luapan Sungai Sangu dan Matamuhuri di Bandarban memperparah kerusakan rumah warga. Akibatnya, pemerintah menutup sementara seluruh tempat wisata di wilayah tersebut demi keselamatan publik.

Polisi Sektor Eidgaon mengonfirmasi penemuan jasad seorang anak laki-laki bernama Sajidul Islam Sajid.

"Anak tersebut hilang setelah hanyut oleh arus kuat saat mengumpulkan kayu bakar di sungai," kata Kepala Polisi Sektor Eidgaon, ATM Sifatul Majdar, dilansir Channel News Asia.

2. Kondisi satu juta warga yang terisolasi

Sebanyak 267.918 rumah tangga atau lebih dari satu juta jiwa kini terisolasi akibat banjir. Pemadaman listrik massal dan rusaknya jaringan komunikasi menghambat koordinasi bantuan darurat ke lokasi bencana.

Warga kesulitan memenuhi kebutuhan pangan karena fasilitas dapur mereka terendam lumpur. Banyak keluarga bertahan hidup hanya dengan mengonsumsi makanan kering seperti biskuit dan beras ketan tanpa dimasak.

Terputusnya pasokan listrik juga memaksa para korban melewati malam tanpa penerangan di tempat tinggal mereka.

"Rumah kami masih terendam air dan kami tidak bisa memasak," ujar Nurul Islam, salah satu warga terdampak di Chattogram.

3. Penyaluran bahan pangan serta obat-obatan

Personel Angkatan Darat dan Angkatan Laut dikerahkan menggunakan perahu untuk menyalurkan bahan pangan serta obat-obatan. Namun, kerusakan jalan dan jembatan menjadi kendala utama dalam distribusi logistik.

Otoritas terkait mengimbau penduduk di wilayah rawan untuk segera mengungsi ke posko terdekat yang telah disediakan.

"Pemerintah melakukan segala upaya untuk membantu para korban banjir," kata Menteri Pengelolaan Bencana dan Bantuan Bangladesh, Iqbal Hossain.

Di sisi lain, para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim global memicu peningkatan curah hujan ekstrem di Bangladesh. Letak geografis negara ini membuatnya sangat rentan terhadap bencana monsun tahunan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More