Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bahrain Cabut Kewarganegaraan 69 Orang karena Dukung Serangan Iran
bendera Bahrain (Allan Donque from Manama, Kingdom of Bahrain, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
  • Pemerintah Bahrain mencabut kewarganegaraan 69 orang yang dituduh mendukung serangan Iran, dengan alasan kolusi asing dan tindakan yang dianggap merugikan negara.
  • Institut Hak dan Demokrasi Bahrain menilai langkah tersebut melanggar hukum internasional karena dilakukan secara massal tanpa kejelasan identitas maupun status hukum para individu.
  • Tindakan Bahrain terjadi di tengah meningkatnya ketegangan Teluk setelah Iran menyerang fasilitas militer akibat konflik dengan AS dan Israel, sebelum gencatan senjata dimediasi Pakistan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Bahrain, pada Senin (27/4/2026), mengumumkan telah mencabut kewarganegaraan 69 orang yang dituduh mendukung serangan Iran terhadap negara tersebut. Sebagian di antaranya disebut memiliki hubungan keluarga.

Dilansir dari Al Jazeera, Kementerian Dalam Negeri Bahrain menyatakan bahwa orang-orang tersebut, yang bukan berasal dari Bahrain, menunjukkan simpati kepada Iran dan berkolusi dengan pihak asing. Berdasarkan hukum negara itu, seseorang dapat dicabut kewarganegaraannya jika dianggap merugikan negara atau menunjukkan ketidaksetiaan.

Langkah ini diambil setelah Teheran menyerang sejumlah fasilitas di Bahrain sebagai respons atas perang yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

1. Keputusan Bahrain dianggap melanggar hukum internasional

pemandangan kota di Bahrain (unsplash.com/Ondrej Bocek)

Sementara itu, Institut Hak dan Demokrasi Bahrain (BIRD) yang berbasis di London menggambarkan keputusan itu sebagai pencabutan kewarganegaraan massal pertama di Bahrain sejak 2019. Tindakan ini dinilai berbahaya dan melanggar hukum internasional.

Organisasi tersebut mengatakan bahwa identitas individu-individu itu belum dipublikasikan. Selain itu, masih belum jelas apakah mereka telah ditangkap, berada di dalam atau di luar Bahrain, serta apakah mereka memiliki kewarganegaraan lain.

2. Negara-negara Teluk tingkatkan kewaspadaan terhadap infiltrasi Iran

ilustrasi penangkapan (pexels.com/Servet photograph)

Dilansir dari The New Arab, langkah Bahrain ini diambil di tengah meningkatnya kewaspadaan negara-negara Teluk terhadap dugaan infiltrasi Iran. Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA) sebelumnya telah menindak jaringan yang mereka sebut terkait dengan Iran.

Bulan lalu, Human Rights Watch (HRW) menyampaikan kekhawatirannya atas puluhan penangkapan sejak dimulainya perang di Timur Tengah. Sebagian dari mereka dituduh melakukan pengkhianatan, sementara lainnya ditahan karena ikut serta dalam aksi protes.

Komunitas Syiah di Bahrain sendiri telah lama menuduh pemerintah melakukan marginalisasi terhadap mereka. Protes besar terhadap pemerintah sempat meletus pada gelombang Arab Spring 2011. Sejak saat itu, otoritas Bahrain kerap menuding Iran sebagai dalang di balik kerusuhan di negara tersebut.

3. Iran tuduh negara-negara Teluk izinkan AS-Israel luncurkan serangan dari wilayah mereka

serangan Israel di ibu kota Iran, Teheran, dalam perang pada Juni 2025 (Mehr News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Iran mulai menyerang negara-negara tetangganya di kawasan Teluk setelah Israel dan AS membombardir negara itu pada 28 Februari 2026. Teheran menuduh negara-negara yang menjadi sasaran telah mengizinkan AS melancarkan serangan dari wilayah mereka.

Serangan balasan Iran dilaporkan menimbulkan kerusakan signifikan pada sejumlah situs militer AS di kawasan tersebut, termasuk sebuah pangkalan Angkatan Laut di Bahrain yang dihantam rudal dan drone.

Iran menghentikan serangannya ke negara-negara Teluk pada 9 April 2026, menyusul diberlakukannya gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan. Negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen hingga kini masih terus berlangsung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team