ilustrasi peta dunia (unsplash.com/CHUTTERSNAP)
Langkah Bangladesh untuk bergabung dengan blok militer dinilai para analis akan menguji prinsip kebijakan luar negeri bebas aktif yang telah lama dianut negara tersebut. Selama ini, Dhaka berupaya menghindari keterlibatan dalam kubu geopolitik yang saling bersaing guna menjaga arus investasi dan perdagangan global. Ekonomi Bangladesh sangat bergantung pada ekspor pakaian jadi ke Britania Raya, Uni Eropa, serta Amerika Serikat, disamping kiriman remitansi dari para pekerja di Timur Tengah.
Analis geopolitik Kollol Kibria menjelaskan bahwa keanggotaan resmi dalam aliansi militer berpotensi merumitkan hubungan diplomasi Bangladesh dengan sejumlah negara mitra. Hubungan Dhaka dengan mitra strategis seperti China, Iran, Jepang, Kuwait, Oman, Qatar, Rusia, Uni Emirat Arab, serta Amerika Serikat berisiko terdampak. "Hubungan ini tidak akan serta-merta putus, tetapi begitu Bangladesh bergabung dengan blok militer, pertanyaan tentang posisi Bangladesh berada di pihak mana menjadi semakin sulit dihindari," ujar Kibria.
Dilansir The Straits Times, Profesor Studi Pembangunan Universitas Dhaka Asif Shahan juga mengingatkan adanya risiko bagi perekonomian Bangladesh yang berorientasi ekspor. Ia menyoroti pentingnya menjaga stabilitas hubungan komersial serta diplomasi dengan berbagai mitra global. "Jika Bangladesh bergabung dengan aliansi ini, beberapa negara, termasuk India, tidak akan senang. Namun, hal itu seharusnya tidak menjadi satu-satunya dasar keputusan Bangladesh," kata Shahan.