Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BGN Luncurkan Aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG, Jaga Kualitas Makanan
BGN luncurkan Aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG yang dihadiri Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Irjen Purn Pol, Sony Sonjaya di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • BGN meluncurkan aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG untuk memperkuat pengawasan kualitas makanan program Makan Bergizi Gratis yang telah berjalan lebih dari satu tahun.
  • Program MBG kini menjangkau lebih dari 62,4 juta penerima manfaat dengan 27.547 SPPG aktif dan melibatkan lebih dari 1,2 juta pekerja di seluruh Indonesia.
  • Aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG menilai empat aspek utama—ketepatan waktu, kesegaran, rasa, dan variasi menu—guna mencegah kasus makanan bermasalah serta meningkatkan kesadaran semua pihak terkait.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesBadan Gizi Nasional (BGN) meluncurkan aplikasi Reviu Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah pencegahan terhadap kejadian makanan bermasalah yang sempat dialami sejumlah penerima manfaat program MBG. Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya mengatakan, aplikasi ini menjadi alat kontrol masyarakat terhadap kualitas makanan yang disalurkan ke sekolah-sekolah.

Dalam sambutannya, Sony menegaskan peluncuran aplikasi tersebut diharapkan bisa memperkuat pengawasan program MBG yang kini telah berjalan selama 1 tahun 4 bulan.

1. MBG Sudah jangkau 62,4 juta penerima manfaat

BGN luncurkan Aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG yang dihadiri Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Irjen Purn Pol, Sony Sonjaya di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Sony memaparkan, program MBG berkembang pesat sejak pertama kali dijalankan pada Januari 2025. Ia menyebut jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang aktif kini mencapai puluhan ribu unit.

“Dari mulai 190 SPPG yang operasional pada tanggal 6 Januari 2025, hingga saat ini telah beroperasi 27.547 SPPG, dan terverifikasi 29.460 SPPG. Penerima manfaat Alhamdulillah sudah mencapai angka terdata 62.400.000 lebih,” kata dia di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).

Tak hanya itu, program MBG juga disebut membuka lapangan kerja besar bagi masyarakat. Sony mengungkapkan, lebih dari 1,2 juta warga kini bekerja di jaringan SPPG di berbagai daerah.

Ia menjelaskan program MBG menyasar ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga peserta didik untuk memastikan pemenuhan asupan gizi masyarakat.

2. Aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG dipakai guru, kepala posyandu, ustaz di sekolah

BGN luncurkan Aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG yang dihadiri Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Irjen Purn Pol, Sony Sonjaya di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Sony mengakui selama pelaksanaan program MBG masih ditemukan sejumlah kejadian menonjol, seperti siswa mengalami sakit perut, muntah, hingga gatal-gatal setelah mengonsumsi makanan MBG. Menurut dia, kasus-kasus itu umumnya dipicu pelanggaran standar operasional prosedur (SOP).

“Sebagaimana kecelakaan lalu lintas senantiasa diawali dari pelanggaran, demikian juga kejadian menonjol terkait dengan konsumsi MBG senantiasa diawali dengan adanya pelanggaran SOP,” katanya.

Oleh karena itu, BGN meluncurkan aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG sebagai sistem pencegahan dini berbasis pengawasan masyarakat. Aplikasi tersebut nantinya wajib digunakan oleh penanggung jawab alias Person in Charge (PIC) sekolah yang menerima distribusi MBG.

“Aplikasi yang akan kita luncurkan saat ini merupakan wujud nyata untuk menampung kontrol dari masyarakat,” ujar Sony.

Ia menjelaskan, PIC sekolah nantinya menilai makanan yang datang, mulai dari ketepatan waktu distribusi, aroma makanan, rasa, hingga variasi menu. PIC itu di antaranya adalah guru, kepala posyandu, hingga pemuka agama.

“Ketika MBG datang, PIC akan melakukan penilaian. Pertama, apakah MBG datang tepat waktu atau tidak? Kedua, melakukan tes organoleptik. Makanan dicium, wajar atau tidak?” katanya.

Sony bahkan mencontohkan evaluasi variasi menu agar siswa tidak terus-menerus menerima olahan telur setiap hari.

“Kemarin telur rebus, hari ini egg lagi, kemudian telur balado, hari Rabu rendang telur. Ujung-ujungnya telur terus,” ucapnya disambut tawa peserta acara.

3. Aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG memiliki empat penilaian parameter utama

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya (dok. Istimewa)

Menurut Sony, aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG memiliki empat parameter utama, yakni ketepatan waktu distribusi, kesegaran makanan, rasa makanan, dan variasi menu. Keempat aspek itu ditujukan untuk meningkatkan kesadaran seluruh pihak yang terlibat dalam program MBG.

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan awareness kepada KSPPG, pengawas gizi, dan mitra bahwa makanan yang Anda produksi dan distribusikan kepada anak-anak kita harus tepat waktu. Kedua, harus segar atau fresh. Ketiga, baik dan enak untuk dimakan. Dan keempat, bervariasi supaya tidak membosankan,” ujar Sony.

Ia berharap sistem pengawasan berbasis aplikasi tersebut bisa menekan bahkan mencegah terjadinya kasus makanan bermasalah di masa mendatang.

Sony juga mengapresiasi tim Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BGN yang mengembangkan aplikasi tersebut agar program MBG semakin optimal dalam mendukung tumbuh kembang anak Indonesia. Ia memastikan, ke depan penilaian SPGG di aplikasi Reviuw MBG bisa diakses oleh masyarakat secara luas.

Ia menyebut, aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG bukan menjadi acuan bagi BGN untuk memberikan sanksi jika ada SPPG yang punya penilaian rendah.

Editorial Team

Related Article