Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
China Ancam Batalkan KTT jika AS Jual Senjata ke Taiwan
Ilustrasi pemberitaan mengenai pertemuan dan hubungan diplomatik China dengan Amerika Serikat yang menjadi sorotan dunia bulan ini. Foto: Pexels/Markus Winkler
  • China mengancam membatalkan KTT dengan AS pada akhir September 2026 jika Washington menyetujui paket penjualan senjata baru kepada Taiwan.
  • KTT yang direncanakan mempertemukan Donald Trump dan Xi Jinping pada 24 September 2026 belum mendapat konfirmasi Beijing, sehingga mengganggu agenda diplomasi Washington.
  • Ketegangan Taiwan turut menghambat pembahasan konflik Iran dan negosiasi tarif impor, setelah AS sebelumnya mengesahkan penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS kepada Taiwan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Pemerintah China mengancam akan membatalkan rencana Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) dengan Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan pada akhir September 2026. Langkah tegas ini akan diambil apabila Washington tetap nekat menyetujui paket penjualan senjata baru kepada Taiwan.

Ancaman diplomatis tersebut sontak menekan agenda kebijakan luar negeri AS yang tengah sibuk mempersiapkan pertemuan bilateral kedua pemimpin negara. Kondisi geopolitik di kawasan Asia Timur pun kembali memanas di tengah ketidakpastian realisasi pertemuan puncak tersebut.

1. Ancaman pembatalan KTT ganggu agenda politik Washington

ilustrasi Washington DC, gedung putih, Amerika Serikat (unsplash.com/Andy Feliciotti)

Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya telah menjadwalkan penyambutan resmi dan jamuan makan malam kenegaraan untuk Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih pada 24 September 2026. Namun, hingga saat ini, otoritas Beijing belum memberikan konfirmasi resmi terkait kepastian agenda kunjungan tersebut.

Bagi pemerintahan AS, KTT bilateral ini sangat krusial untuk memamerkan capaian diplomasi nyata menjelang pemilihan umum sela legislatif pada November mendatang. Terhambatnya dialog tingkat tinggi ini berisiko membuyarkan target politik luar negeri Washington selama masa kampanye.

“China sebenarnya telah menunjukkan sikap kooperatif dan tidak pernah menghalangi pintu dialog dengan Amerika Serikat,” ungkap seorang pejabat diplomatik.

2. Penjualan senjata ke Taiwan dinilai langgar garis merah Beijing

ilustrasi kerja sama militer Amerika Serikat dan Taiwan (pexels.com/RDNE Stock project)

Pemerintah China kembali menegaskan posisinya bahwa status kedaulatan Taiwan merupakan garis merah yang tidak boleh dilanggar dalam hubungan bilateral AS-China. Beijing menganggap pulau tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayahnya yang akan disatukan kembali, bahkan jika harus menggunakan kekuatan militer.

Hubungan kedua negara raksasa ini terus merenggang sejak Washington mengesahkan paket penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS (Rp194,32 triliun) pada Desember 2025. Peningkatan aktivitas militer China di sekitar Selat Taiwan kini kian mempertebal kekhawatiran dunia internasional akan potensi pecahnya konflik terbuka.

“Taiwan adalah isu paling krusial dalam hubungan kedua negara, dan kesalahan penanganan terhadap masalah ini berpotensi besar memicu timbulnya konflik,” tegas Presiden Xi Jinping.

3. Negosiasi tarif dagang dan isu Iran ikut terdampak

Presiden China Xi Jinping (kanan) mengadakan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing, pada 14 Mei 2026. (x.com/SpoxCHN_MaoNing)

Pertemuan puncak kedua pemimpin sejatinya dirancang untuk membahas eskalasi konflik di Iran serta negosiasi pemangkasan tarif impor senilai 30 miliar dolar AS (Rp529,96 triliun). Washington diketahui terus mendesak Beijing agar membatasi hubungan dagangnya dengan Teheran, sementara China menuntut peredaan perang tarif antara kedua belah pihak.

Sayangnya, proses diplomasi ini terganggu oleh manuver Washington yang diduga menjadikan bantuan pertahanan ke Taiwan sebagai instrumen tawar-menawar ekonomi. Kondisi tersebut semakin menyulitkan tercapainya kesepakatan damai antara dua kutub ekonomi terbesar dunia itu.

“Penjualan senjata ke Taiwan bisa menjadi kartu negosiasi yang sangat bagus dalam perundingan dengan China,” klaim Presiden Donald Trump, dilansir Taipei Times.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article