Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
China Desak Pakistan dan Afghanistan Berdialog
potret Menteri Luar Negeri China, Wang Yi (flickr.com/Österreichisches Außenministerium via commons.wikimedia.org/Bundesministerium für europäische und internationale Angelegenheiten)
  • China melalui Menlu Wang Yi mendesak Pakistan dan Afghanistan segera berdialog serta melakukan gencatan senjata untuk menghentikan konflik yang terus meningkat di perbatasan kedua negara.
  • Serangan terbaru Pakistan ke Afghanistan menargetkan milisi TTP di Kabul, Kandahar, Paktia, dan Paktika, menewaskan empat orang serta melukai 15 lainnya menurut laporan setempat.
  • Konflik berkelanjutan sejak Februari 2026 telah menewaskan puluhan warga sipil dan memaksa lebih dari seratus ribu warga Afghanistan mengungsi akibat serangan udara Pakistan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah China mendesak Pakistan dan Afghanistan melakukan dialog untuk meredakan konflik di antara kedua negara. Desakan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, saat menelepon Menteri Luar Negeri Afghanistan, Amir Khan Muttaqi.

Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China yang dirilis pada Jumat (13/3/2026), Wang juga mendesak Pakistan dan Afghanistan untuk berhenti berperang dan melakukan gencatan senjata. Sebab, menurutnya, perang hanya akan memperburuk konflik kedua negara alih-alih menyelesaikannya.

1. Pakistan kembali menyerang Afghanistan

potret bendera Pakistan (unsplash.com/Ali Khokhar)

Desakan ini muncul tidak lama usai Pakistan kembali menyerang Afghanistan pada Jumat. Serangan tersebut menyasar Ibu Kota Kabul dan sejumlah provinsi di Afghanistan yang berbatasan langsung dengan Pakistan, seperti Provinsi Kandahar, Paktia, dan Paktika.

Pemerintah Pakistan menjelaskan, serangan tersebut ditargetkan ke milisi Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) yang ada di Kabul, Kandahar, Paktia, dan Paktika. Sebab, mereka memang memiliki markas di wilayah-wilayah tersebut.

Seorang petugas polisi setempat bernama Khalil Zadran mengatakan, sebanyak empat orang di Kabul dinyatakan tewas imbas serangan Pakistan. Sementara itu, 15 orang lainnya mengalami luka-luka. Namun, Zadran tidak memberikan informasi detail soal jumlah korban di Provinsi Kandahar, Paktia, dan Paktika.

2. Pakistan juga menggempur Afghanistan pada Februari

ilustrasi serangan (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Serangan tersebut merupakan serangan terbaru yang dilakukan Pakistan ke Afghanistan. Sebab, Pakistan sebelumnya sudah menyerang Afghanistan pada 27 Februari 2026 lalu. 

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, saat itu menyebut serangan tersebut sebagai “Perang terbuka” dengan Afghanistan. Sebab, Asif menilai itu merupakan waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balasan ke Afghanistan karena kerap melakukan agresi militer di wilayah perbatasan.

"Kesabaran kami telah mencapai batasnya. Sekarang, ini adalah perang terbuka antara kami dan kalian," tulis Asif di media sosial, seperti dilansir CNA.

3. Serangan juga menyasar TTP

potret bendera Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) (commons.wikimedia.org/Tehrik-e-Taliban Pakistan)

Menurut Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, serangan pada Februari lalu juga ditujukan kepada pasukan milisi TTP yang ada di Kabul, Kandahar, dan Paktia. Tarar mengklaim, setidaknya 133 pasukan TTP tewas dalam serangan Pakistan. “Target pertahanan Taliban Afghanistan menjadi sasaran di Kabul, Provinsi Paktia, dan Kandahar," jelas Tarar di X.

Sebagai informasi, selama beberapa bulan terakhir pada 2026 ini, konflik Pakistan dan Afghanistan memang sedang memanas. Kedua negara saling melakukan serangan di daerah perbatasan hingga menewaskan banyak jiwa.

Menurut data Misi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Afghanistan (UNAMA), sepanjang Februari hingga Maret ini, sudah ada 56 orang yang tewas imbas serangan Pakistan di Afghanistan. Sementara itu, Badan PBB untuk Pengungsi (UN Refugee) menyebut sekitar 115.000 warga Afghanistan kini terpaksa mengungsi imbas serangan Pakistan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team