Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

66 Ribu Orang Mengungsi akibat Konflik Afghanistan-Pakistan

66 Ribu Orang Mengungsi akibat Konflik Afghanistan-Pakistan
ilustrasi pengungsi Afghanistan (https://www.flickr.com/photos/usace-tas/, CC BY-SA 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • PBB melaporkan sekitar 66 ribu warga Afghanistan mengungsi akibat bentrokan antara Taliban dan militer Pakistan di sepanjang Garis Durand yang menimbulkan korban sipil dan kerusakan infrastruktur.
  • Afghanistan menyebut lebih dari 110 warga sipil tewas, sementara Pakistan mengklaim operasi militernya masih berlanjut untuk menghancurkan basis kelompok bersenjata TTP yang dianggap berlindung di Afghanistan.
  • WFP memperingatkan lebih dari 46 distrik di Afghanistan mengalami kerawanan pangan parah, dengan sekitar 160 ribu orang terdampak penghentian distribusi bantuan akibat konflik yang terus memanas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan hampir 66 ribu orang terpaksa mengungsi dari Afghanistan akibat pertempuran antara Pakistan dan Taliban di sepanjang perbatasan.

“Konfrontasi militer yang sedang berlangsung di sepanjang Garis Durand dilaporkan telah menyebabkan korban sipil, kerusakan pada infrastruktur penting, dan pengungsian hampir 66 ribu orang di Afghanistan bagian timur dan tenggara," demikian pernyataan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Rabu (4/3/2026).

Badan tersebut memperingatkan bahwa eskalasi permusuhan ini dapat memicu pengungsian lebih lanjut dan memperburuk kerentanan masyarakat yang sudah sangat terbebani serta kekurangan sumber daya.

1. Afghanistan sebut 110 orang tewas akibat serangan Pakistan

pesawat tempur
pesawat tempur (pexels.com/Rafael Minguet Delgado)

Kedua negara bertetangga itu telah terlibat bentrok sejak pekan lalu, ketika Afghanistan melancarkan serangan terhadap militer Pakistan di sepanjang Garis Durand, yang memisahkan kedua negara. Taliban mengatakan operasi tersebut merupakan respons atas serangan udara mematikan Pakistan pada akhir Februari.

Sebagai balasan, Islamabad melancarkan serangan udara baru yang menargetkan sejumlah lokasi, termasuk bekas pangkalan udara Amerika Serikat (AS) di Bagram, ibu kota Kabul, dan kota Kandahar.

Menurut Kementerian Pertahanan Afghanistan, sedikitnya 110 warga sipil, termasuk 65 perempuan dan anak-anak, telah tewas dan 123 lainnya terluka sejak bentrokan dimulai. Sementara itu, Misi Bantuan PBB di Afghanistan melaporkan 42 kematian.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Afganistan memperkirakan korban jiwa di pihak militer Pakistan sekitar 150 orang, sementara Pakistan mengklaim lebih dari 430 tentara Afganistan tewas.

2. Pakistan sebut operasi militer terhadap Afghanistan masih akan terus berlanjut

ilustrasi ledakan bom (unsplash.com/Jeff Kingma)
ilustrasi ledakan bom (unsplash.com/Jeff Kingma)

Rana Sanaullah, penasihat politik Perdana Menteri Shehbaz Sharif, mengatakan bahwa Islamabad telah mencapai sebagian besar targetnya, tapi operasi militer masih akan terus berlangsung.

“Sebagian besar pusat pelatihan telah dihancurkan,” kata Sanaullah kepada Geo TV. Ia menambahkan bahwa Pakistan menginginkan bukti yang dapat diverifikasi bahwa wilayah Afghanistan tidak akan digunakan sebagai basis teroris.

Dilansir dari Al Jazeera, akar konflik kedua negara tersebut terletak pada perselisihan berkepanjangan terkait Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP), sebuah kelompok bersenjata yang menurut Pakistan mendapat perlindungan dari Kabul.

TTP telah meningkatkan serangannya di Pakistan secara drastis. Menurut Institut Studi Konflik dan Keamanan Pakistan, 2025 menjadi periode paling mematikan bagi negara itu dalam hampir satu dekade, dengan jumlah kematian melonjak 75 persen dibandingkan 2024 menjadi 3.413, sementara total insiden kekerasan meningkat 29 persen.

3. Lebih dari 46 distrik di Afghanistan hadapi kerawanan pangan parah

anak-anak Afghanistan (pixnio.com/USAID)
anak-anak Afghanistan (pixnio.com/USAID)

Pada Selasa (2/3/2026), Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan bahwa penduduk di lebih dari 46 distrik di Afghanistan telah menghadapi kerawanan pangan parah sebelum pertempuran sengit terjadi.

“Di seluruh provinsi, WFP terpaksa menghentikan sementara kegiatan darurat, perlindungan sosial, program makan di sekolah, dan aktivitas mata pencaharian. Sekitar 160 ribu orang terdampak oleh penghentian distribusi makanan darurat," kata badan tersebut.

Di provinsi Kunar, seorang buruh berusia 30 tahun mengatakan bahwa bentrokan antara Pakistan dan Taliban telah membuat orang-orang tidak berani pergi ke pasar.

“Ribuan keluarga telah meninggalkan desa Sirkanay. Di beberapa rumah, hanya satu orang yang tinggal untuk menjaga rumah, sementara yang lain pergi. Desa itu kini kosong," ujarnya, dikutip dari CNA.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More