Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
China Minta Korsel Perkuat Otonomi Strategis, Jangan hanya Memihak AS
ilustrasi bendera Korea Selatan dan Amerika Serikat (unsplash.com/Alex Ko)
  • Menteri Luar Negeri China Wang Yi meminta Korea Selatan menjaga otonomi strategis, tidak memihak AS atau China, serta mempertahankan hubungan politik dan ekonomi dengan keduanya.
  • China menilai kebijakan AS terhadap Korea Utara menjadi akar ketegangan Semenanjung Korea, saat Pyongyang meluncurkan lebih dari 10 rudal balistik dan Seoul siaga bersama AS.
  • Seoul berupaya membuka dialog bertahap dengan Korea Utara sambil menjaga aliansi AS dan hubungan ekonomi dengan China, yang mendorong pemulihan bilateral serta perundingan perdagangan bebas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Hubungan China, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Korea Utara kembali menjadi sorotan setelah Menteri Luar Negeri China Wang Yi meminta Seoul gak memihak dalam persaingan Beijing dan Washington. Pernyataan tersebut disampaikan saat Wang bertemu dengan Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan Wi Sung-lac di Seoul pada 20 Agustus 2026.

China menilai Korea Selatan perlu memiliki otonomi strategis dan tetap membangun hubungan dengan berbagai negara besar tanpa harus memilih salah satu pihak. Di sisi lain, situasi di Semenanjung Korea masih cukup sensitif setelah Korea Utara meluncurkan lebih dari 10 rudal balistik jarak pendek.

Kalau kamu melihat situasi ini lebih jauh, kepentingan keamanan, hubungan diplomatik, dan ekonomi ternyata saling berkaitan, lho. Berikut beberapa hal penting dari dorongan China kepada Korea Selatan tersebut.

1. China minta Korea Selatan gak ikut blok tertentu

ilustrasi China (vecteezy.com/Arthur Lomarainen)

Wang Yi menyampaikan harapan agar Korea Selatan bisa mencapai apa yang disebut China sebagai otonomi strategis. Artinya, Seoul diharapkan tak terjebak dalam pola konfrontasi antarblok atau merasa harus memilih antara China dan Amerika Serikat. China juga ingin Korea Selatan tetap bisa membangun hubungan dengan kedua negara besar tersebut secara bersamaan. Bagi kamu yang mengikuti dinamika geopolitik Asia, sikap ini menunjukkan bagaimana persaingan China dan AS ikut memengaruhi posisi negara-negara di kawasan.

China juga menilai hubungan dengan kekuatan besar seharusnya bisa berjalan secara paralel tanpa harus saling bertentangan. Wang bahkan menyebut kebijakan yang rasional, pragmatis, dan positif terhadap China sejalan dengan kepentingan Korea Selatan. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Beijing gak hanya berbicara soal keamanan, tapi juga ingin mempertahankan hubungan politik dan ekonomi dengan Seoul. Posisi Korea Selatan sendiri cukup penting karena negara tersebut merupakan sekutu dekat AS sekaligus memiliki hubungan perdagangan yang besar dengan China.

2. China kaitkan ketegangan dengan kebijakan AS

ilustrasi kawasan nuklir (unsplash.com/Dan Meyers)

Dalam pertemuannya dengan Wi Sung-lac, Wang menyebut penyelesaian mendasar ketegangan di Semenanjung Korea perlu menyentuh akar persoalan. China kemudian mendorong Amerika Serikat untuk meninggalkan kebijakan yang dianggap bermusuhan terhadap Korea Utara. Beijing melihat perubahan pendekatan tersebut sebagai salah satu jalan untuk mengurangi ketegangan antara Pyongyang, Seoul, dan Washington. Pernyataan ini juga menunjukkan keinginan China untuk memainkan peran yang lebih besar dalam pembicaraan mengenai keamanan di kawasan.

Sementara itu, Amerika Serikat masih mempertahankan tuntutannya agar Korea Utara melakukan denuklirisasi. Pyongyang selama ini konsisten menolak tuntutan tersebut, sehingga perbedaan posisi antara kedua negara masih menjadi hambatan besar. Situasi semakin rumit karena Korea Utara kembali melakukan peluncuran rudal balistik jarak pendek pada 20 Agustus. Korea Selatan kemudian memerintahkan militernya untuk mempertahankan kesiapan penuh di tengah latihan militer bersama AS.

3. Seoul juga berusaha membuka kembali dialog

ilustrasi bendera negara Korea Utara (unsplash.com/Micha Brändli)

Di tengah ketegangan tersebut, pemerintah Korea Selatan ternyata gak hanya mengandalkan pendekatan militer. Seoul sedang berusaha membuka kembali dialog dengan Korea Utara dan mendorong pendekatan denuklirisasi yang dilakukan secara bertahap serta pragmatis. Tahap awal yang diusulkan adalah penghentian program nuklir Korea Utara. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Korea Selatan mencoba mencari ruang diplomasi meskipun tetap mempertahankan kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat.

China menyambut kemungkinan terciptanya hubungan yang lebih damai antara Korea Selatan dan Korea Utara. Wang menyatakan China akan senang apabila Semenanjung Korea bergerak menuju hidup berdampingan secara damai. Ia juga mendorong dimulainya kembali dialog serta pemulihan kepercayaan antara kedua Korea. Dalam pertemuan tersebut, Wang turut mengundang Wi untuk berkunjung ke China, sementara Wi meminta dukungan konstruktif Beijing terhadap kebijakan Seoul mengenai Korea Utara.

4. Hubungan China dan Korea Selatan mulai dipulihkan

ilustrasi patung King Sejong di Seoul, Korea Selatan (unsplash.com/Austin Curtis)

Pembicaraan Wang dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung juga menunjukkan bahwa isu hubungan bilateral gak kalah penting. Wang mengatakan hubungan China dan Korea Selatan telah sepenuhnya pulih serta mencatat perkembangan positif sepanjang 2026 setelah pertemuan para pemimpin kedua negara. Lee juga menyampaikan bahwa kedua negara telah mendapatkan hasil nyata dalam upaya memulihkan hubungan secara penuh. Kalau kamu melihatnya dari sisi ekonomi, stabilnya hubungan China dan Korea Selatan tentu memiliki arti besar bagi perdagangan dan kerja sama regional.

China juga mendorong agar pembicaraan tahap kedua mengenai perjanjian perdagangan bebas antara kedua negara segera diselesaikan. Beijing ingin China dan Korea Selatan memperkuat integrasi ekonomi regional ketika ekonomi global menghadapi fragmentasi dan meningkatnya proteksionisme perdagangan. Artinya, China gak mau hubungan dengan Seoul hanya berfokus pada persoalan keamanan. Beijing juga melihat kerja sama ekonomi sebagai cara untuk memperkuat hubungan bilateral di tengah perubahan peta perdagangan dunia.

5. Seoul tetap harus menyeimbangkan banyak kepentingan

ilustrasi Korea Selatan (unsplash.com/Daniel Bernard)

Posisi Korea Selatan dalam situasi ini memang gak sederhana. Di satu sisi, Seoul memiliki hubungan keamanan yang kuat dengan Amerika Serikat, termasuk melalui latihan militer bersama dan koordinasi menghadapi ancaman dari Korea Utara.

Di sisi lain, China merupakan mitra penting bagi Korea Selatan dalam bidang ekonomi dan perdagangan. Kondisi tersebut membuat Seoul perlu berhati-hati agar kebijakan terhadap satu negara gak menimbulkan masalah dengan negara lainnya.

Upaya menjaga keseimbangan juga terlihat dari rencana Korea Selatan untuk tetap berdialog dengan China sekaligus mempertahankan kerja sama dengan AS. Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun bahkan mengatakan kementeriannya sedang mengupayakan pertemuan antara Lee Jae Myung dan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Shenzhen pada 2026.

Korea Selatan juga menyatakan dukungan terhadap upaya China menjadi tuan rumah agenda tersebut. Langkah ini bisa menjadi sinyal bahwa Seoul ingin mempertahankan jalur komunikasi dengan Beijing tanpa harus meninggalkan hubungan strategisnya dengan Washington.

Permintaan China agar Korea Selatan gak memihak AS memperlihatkan semakin rumitnya persaingan kekuatan besar di Asia. Beijing ingin Seoul memiliki otonomi strategis, tetap membuka hubungan dengan China dan AS, serta tidak terseret ke dalam konfrontasi antarblok. Pada saat yang sama, Korea Selatan harus menghadapi ancaman rudal Korea Utara sambil mencari peluang untuk kembali membuka dialog.

Bagi pengamat geopolitik, posisi Seoul akan menarik untuk diperhatikan karena setiap langkahnya bisa berdampak pada keamanan sekaligus ekonomi kawasan. Ke depan, menjaga keseimbangan hubungan dengan Washington, Beijing, dan Pyongyang kemungkinan akan menjadi salah satu tantangan utama bagi pemerintah Korea Selatan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article