Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

53.971 Rumah di NTT Rusak Akibat Gempa Magnitudo 7,7

53.971 Rumah di NTT Rusak Akibat Gempa Magnitudo 7,7
Rumah rusak akibat gempa di NTT (dok. BNPB)
  • BNPB mempercepat pendataan kerusakan dan kebutuhan warga pascagempa M7,7 di NTT, sambil penanganan darurat tetap berjalan untuk keselamatan serta pemenuhan kebutuhan dasar.
  • Hingga 22 Agustus 2026, tercatat 53.971 rumah rusak di tujuh kabupaten: 19.006 berat, 11.777 sedang, dan 23.188 ringan.
  • Data kerusakan masih diverifikasi dan divalidasi bersama pemerintah daerah, menjadi dasar penetapan bantuan, kebutuhan hunian sementara, dana tunggu hunian, serta pemulihan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mempercepat pendataan kerusakan rumah setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026).

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan proses pendataan berlangsung bersamaan dengan penanganan masyarakat pada masa tanggap darurat.

Menurut dia, pendataan dilakukan untuk memperoleh gambaran cepat mengenai kebutuhan warga yang terdampak bencana. Informasi tersebut diperlukan agar pemerintah dapat menentukan langkah penanganan berdasarkan kondisi di lapangan.

Selain memetakan kebutuhan masyarakat, pendataan kerusakan rumah digunakan BNPB dan pemerintah daerah untuk menentukan jumlah enumerator yang diperlukan. Para petugas nantinya bertugas melakukan verifikasi serta validasi data kerusakan secara langsung di lokasi terdampak.

Untuk rumah yang mengalami kerusakan berat, hasil pendataan turut menjadi pertimbangan dalam menghitung kebutuhan hunian sementara (huntara) dan dana tunggu hunian (DTH) bagi warga terdampak.

"Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat diidentifikasi secara cepat dan akurat, sekaligus menjadi dasar dalam menentukan dukungan penanganan pada tahapan berikutnya," ujar Berton melalui keteranganya, Minggu (23/8/2026).

  1. 1. BNPB kerahkan tim untuk kumpulkan informasi soal kerusakan rumah

    Rumah rusak akibat gempa di NTT (dok. BNPB)
    Rumah rusak akibat gempa di NTT (dok. BNPB)

    BNPB telah mengerahkan tim untuk mengumpulkan informasi mengenai kerusakan rumah di tujuh kabupaten terdampak. Data awal tersebut selanjutnya akan melewati proses pemeriksaan sebelum ditetapkan sebagai data yang valid.

    Hingga Sabtu (22/8), tercatat 53.971 rumah mengalami kerusakan. Jumlah itu mencakup 19.006 rumah rusak berat, 11.777 rumah rusak sedang, serta 23.188 rumah rusak ringan.

    Di Kabupaten Nagekeo, sebanyak 4.829 rumah terdampak kerusakan. Rinciannya meliputi 1.702 rumah rusak berat, 560 rusak sedang, dan 2.567 rusak ringan. Sementara di Kabupaten Ende, terdapat 3.953 rumah rusak, terdiri dari 763 rusak berat, 870 rusak sedang, serta 2.320 rusak ringan.

    Kabupaten Manggarai mencatat 7.045 rumah mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.582 rumah masuk kategori rusak berat, 2.113 rusak sedang, dan 1.350 rusak ringan. Adapun di Kabupaten Manggarai Timur, jumlah rumah terdampak mencapai 17.039 unit, dengan rincian 6.713 rusak berat, 4.496 rusak sedang, dan 5.830 rusak ringan.

    Kerusakan juga ditemukan di Kabupaten Manggarai Barat dengan total 9.402 rumah. Sebanyak 3.334 rumah tergolong rusak berat, 1.438 rusak sedang, dan 4.630 rusak ringan.

    Di Kabupaten Ngada, BNPB mencatat 8.129 rumah mengalami kerusakan. Jumlah tersebut terdiri dari 1.973 rumah rusak berat, 1.678 rusak sedang, serta 4.478 rusak ringan. Sementara itu, Kabupaten Sikka memiliki 3.574 rumah yang mengalami kerusakan. Rinciannya terdiri atas 939 rumah rusak berat, 622 rusak sedang, dan 2.013 rusak ringan.

  2. 2. Jumlah kerusakan ruma masih dihitung

    Rumah rusak akibat gempa di NTT (dok. BNPB)
    Rumah rusak akibat gempa di NTT (dok. BNPB)

    Berton mengingatkan, angka kerusakan yang telah dihimpun BNPB masih dapat berubah karena proses verifikasi dan validasi belum selesai.

    "Proses tersebut penting untuk memastikan setiap data kerusakan dapat dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan kondisi faktual di lapangan," ucap dia.

    BNPB juga telah memperoleh data sementara by name by address (BNBA) hingga tingkat desa untuk enam wilayah, yakni Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Untuk Kabupaten Manggarai, proses input data masih berjalan dan diperkirakan selesai dalam satu hingga dua hari mendatang.

    Di Nagekeo, proses pemeriksaan data telah berlangsung selama dua hari. Verifikasi dilakukan pemerintah daerah dengan memakai instrumen pendataan yang disiapkan BNPB.

  3. 3. Validasi data terus dilakukan

    gempa NTT, BNPB
    Kondisi rumah warga yang rusak akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 di Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat. (Dokumentasi BNPB)

    Data yang sudah dinyatakan valid nantinya dapat ditetapkan melalui keputusan kepala daerah. Sebaliknya, jika hasil sampling BNPB menemukan ketidaksesuaian, pemerintah akan melakukan pemeriksaan kembali agar data kerusakan sesuai dengan kondisi sebenarnya.

    BNPB bersama pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi selama proses pendataan berlangsung. Di tengah kegiatan tersebut, penanganan darurat tetap menjadi fokus utama untuk menjamin keselamatan warga serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

    "Penanganan darurat tetap menjadi prioritas untuk memastikan keselamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, sementara pendataan kerusakan berjalan secara simultan sebagai bagian dari upaya menyiapkan proses pemulihan yang lebih cepat, tepat sasaran, dan akuntabel," kata Berton.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More