Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pembicaraan AS-Iran Berakhir Tanpa Penjadwalan Negosiasi Berikutnya
ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)
  • Delegasi Iran di New York memastikan tidak menjadwalkan negosiasi lanjutan dengan AS, meski Teheran telah menyampaikan posisinya melalui mediator Qatar dan menunggu respons resmi Washington.
  • Pembicaraan tak langsung AS-Iran sebelumnya membahas tujuh syarat Teheran untuk mengakhiri perang dan membuka Selat Hormuz, termasuk gencatan senjata serta pencabutan sanksi minyak, namun ditolak Trump.
  • Konflik di Selat Hormuz terus mengganggu pelayaran energi: Iran dilaporkan menyerang kapal dagang dan melukai delapan Marinir AS, sementara QatarEnergy memperpanjang keadaan kahar pengiriman gas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Delegasi Iran untuk Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada Senin (28/9/2026) tak menjadwalkan pembicaraan lanjutan dengan Amerika Serikat (AS). Keputusan tersebut disampaikan setelah muncul pembahasan mengenai kemungkinan perundingan baru kedua negara.

Mengutip kantor berita negara IRNA, sumber yang dekat dengan delegasi Iran menyampaikan bahwa tim Tehran tak memiliki agenda negosiasi dengan Washington.

“Delegasi Iran di New York tidak memiliki rencana untuk melakukan negosiasi dengan AS,” kata delegasi tersebut, dikutip CNA.

1. Teheran menyampaikan posisi negosiasi kepada Washington

Bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)

Menurut informasi yang dihimpun The New Arab, pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump memperkirakan perundingan baru berlangsung pekan ini. Sumber tersebut menyebut posisi Teheran telah disampaikan secara jelas kepada Washington melalui mediator Qatar, sementara delegasi Iran dijadwalkan kembali ke Teheran pada Selasa (29/9/2026).

Pekan lalu, Iran dan AS menggelar pembicaraan tak langsung pertama dalam tiga bulan di sela sidang PBB. Menteri Luar Negeri (Menlu) Abbas Araghchi memimpin tim Iran, sedangkan Washington mengirim utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner dengan mediasi pejabat Qatar.

Teheran mengajukan tujuh syarat untuk mengakhiri perang sekaligus membuka kembali Selat Hormuz. Persyaratan itu meliputi gencatan senjata selama tujuh hari di Timur Tengah, termasuk Lebanon tempat Hizbullah bertempur melawan Israel, pencabutan sanksi minyak, pembukaan aset yang dibekukan di luar negeri, serta penghentian blokade laut Washington terhadap pelabuhan Iran. Namun, persyaratan proposal tersebut ditolak Trump.

Trump menilai Tehran menginginkan kesepakatan, tetapi bukan bentuk kesepakatan yang diinginkannya. Ia menyebut kesepakatan tersebut mungkin telah disetujui setahun lalu dan menilai Iran sudah memainkan kartunya secara berlebihan.

Teheran kini menunggu respons resmi Washington sebelum menentukan langkah berikutnya. Posisi tersebut disampaikan setelah kedua pihak membahas sejumlah syarat dalam pembicaraan tak langsung sebelumnya.

2. Konflik Iran dan AS mengganggu jalur Selat Hormuz

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Selat Hormuz menjadi pusat konflik yang bermula dari serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari. Sebelum perang, jalur tersebut dilalui seperlima minyak dan gas dunia, lalu Iran memblokadenya dan Washington membalas dengan memblokade pelabuhan Iran.

Sejak awal September, Washington tak lagi menyerang Iran. Pengawalan militer AS membuat pengiriman energi mencapai titik tertinggi sejak perang dimulai, tetapi Garda Revolusi Iran tetap menyerang kapal dagang dan media Iran mencatat hampir 20 kapal diserang pada akhir pekan lalu.

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyebut Iran sebagai kekuatan pertama dunia menurut perhitungan ilahi. Ia juga mengklaim negaranya menjadi lebih kuat dan tangguh meski mengalami kerusakan berat.

3. Serangan Iran melukai marinir AS di Hormuz

ilustrasi rudal (unsplash.com/Moslem Daneshzadeh)

Sebagaimana diberitakan NBC News dengan mengutip tiga pejabat AS, delapan Marinir AS mengalami luka ringan akibat serangan rudal Iran di selat tersebut. Mereka mengalami inhalasi asap dan dugaan cedera otak traumatis, lalu segera kembali bertugas, sementara insiden itu belum pernah diumumkan sebelumnya.

Washington Post mengutip enam pejabat AS yang melaporkan sedikitnya 22 personel AS tewas. Angka tersebut empat lebih banyak dibandingkan data resmi Pentagon, sedangkan data publik Pentagon mencatat sedikitnya 861 personel terluka.

Bloomberg melaporkan QatarEnergy memperpanjang keadaan kahar pengiriman gas ke Asia dan Eropa selama satu bulan lagi. Bangladesh dan Pakistan mendapat pemberitahuan penangguhan hingga November, perusahaan Italia Edison hingga awal Desember, sementara satu pembeli India menerima pemberitahuan serupa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article