AS Tolak Proposal Damai yang Diajukan Iran, Ini Alasannya
.jpg)
- Presiden Donald Trump menolak proposal damai Iran karena Teheran menuntut pelonggaran sanksi dan pencairan aset sebelum perundingan substansial mengenai program nuklir dimulai.
- Trump memperkirakan perundingan AS-Iran berlanjut pekan ini, setelah Iran melalui Qatar menyampaikan proposal gencatan senjata tujuh hari kepada Washington.
- Iran tetap menuntut pencairan aset dan izin penjualan minyak untuk membuka Selat Hormuz, sementara Mike Waltz membantah rencana serangan AS pascapemilu sela November.
Jakarta, IDN Times - Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB, Mike Waltz, mengatakan bahwa Presiden Donald Trump menolak proposal damai terbaru Iran usai Teheran mensyaratkan keringanan sanksi dan akses ke aset bernilai miliaran yang dibekukan. Persyaratan tersebut diajukan sebelum Teheran menyatakan kesediaannya untuk merundingkan program nuklirnya.
Pada Minggu (27/9/2026), Waltz mengatakan bahwa Trump tidak yakin Iran bernegosiasi dengan itikad baik. Waltz menilai usulan Teheran tidak dapat diterima karena negara tersebut menuntut konsesi besar sebelum perundingan substantif dapat dimulai.
Dilansir The Guardian, Trump mengonfirmasi penolakannya terhadap rencana perdamaian Iran, dengan alasan bahwa desakan Teheran untuk mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz didorong oleh keputusasaannya. Pada Sabtu, Trump mengatakan bahwa AS menang telak atas Iran dan memegang kendali penuh atas perairan vital tersebut.
1. Trump perkirakan perundingan AS-Iran akan dilanjutkan pekan ini

ilustrasi konflik AS dan Iran (unsplash.com/Saifee Art) Mengutip Channel News Asia, Trump memperkirakan bahwa perundingan dengan Iran akan kembali berlangsung pada pekan ini. Axios melaporkan bahwa perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran dapat dimulai paling cepat pada Senin (28/9/2026).
Sebelumnya, para pejabat Teheran membawa proposal gencatan senjata selama tujuh hari ke Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) di New York. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa pihaknya telah menyampaikan rencana konkret tersebut kepada Washington melalui Qatar. Araghchi menyebut bahwa pilihan kini berada di tangan AS.
2. Iran bersikeras AS harus penuhi syarat yang diajukan Teheran

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. (Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Araghchi menepis pernyataan Waltz, dengan mengatakan bahwa Iran siap membuka selat Hormuz jika Washington memenuhi persyaratan yang diajukan Teheran. Persyaratan tersebut termasuk pencairan aset yang dibekukan dan mengizinkan penjualan minyak Iran.
Diplomat Teheran itu juga menyatakan kesiapannya untuk kembali berperang dengan AS. Meski demikian, pihaknya belum ingin meninggalkan jalur diplomasi setelah Trump menolak usulan perdamaian yang diajukan negaranya. Iran menegaskan bahwa hanya diplomasi yang dapat menyelesaikan konfliknya dengan Washington dan Israel.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa negaranya siap melakukan pembicaraan mengenai program nuklir dan isu-isu lainnya. Namun, pihaknya menegaskan tidak akan menerima tindakan intimidasi atau paksaan.
3. Waltz bantah AS bakal kembali serang Iran usai pemilu sela pada November

Kapal AS di Selat Hormuz. (Specialist Noah Martin, Public domain, via Wikimedia Commons) Waltz menepis laporan Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa AS akan kembali melancarkan serangan bom terhadap Iran setelah pemilihan umum sela federal pada November. Waltz mengatakan bahwa para pejabat Teheran telah salah perhitungan dengan menganggap Trump mempertimbangkan faktor politik dalam konflik tersebut.
Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pekan ini, Trump menyatakan tidak akan mengaitkan pemilu dengan konflik AS-Iran. Pernyataan tersebut muncul di tengah tekanan yang dihadapi Partai Republik menjelang pemilu sela November akibat situasi terkait Teheran dan kenaikan harga bahan bakar, dikutip dari Politico.
Waltz juga menanggapi laporan mengenai bantuan China kepada Iran dalam serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Waltz belum mengonfirmasi laporan intelijen yang bocor tersebut. Dia mengungkapkan bahwa Trump telah membahas masalah itu dengan Presiden Xi Jinping saat kunjungannya ke Washington.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















