Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran mengatakan pihaknya tidak lagi percaya untuk melakukan negosiasi damai dengan Amerika Serikat (AS). Sebab, meski sudah bernegosiasi, Washington masih saja melakukan serangan dan memberikan sanksi ekonomi terhadap Teheran.
Iran Tegaskan Tak Lagi Percaya Negosiasi dengan AS

- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran tak lagi mempercayai negosiasi damai dengan AS karena serangan dan sanksi Washington tetap berlanjut.
- Iran menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan AS dan Israel, serta akan terus melawan sambil menyerukan persatuan negara-negara Islam.
- Melalui Qatar, Iran mengusulkan pembukaan Selat Hormuz sebagai imbalan pencabutan blokade, sanksi minyak, pembebasan aset, dan gencatan senjata; proposal dilaporkan ditolak Trump.
“Kami tidak percaya pada pihak AS dan tidak tahu atas dasar apa kesepahaman dapat dicapai dengan mereka,” kata Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam sebuah wawancara bersama stasiun televisi yang berbasis di Qatar pada Sabtu (26/9/2026), seperti dikutip Al Jazeera.
1. Iran tidak akan menyerah terhadap tekanan AS dan Israel

potret bendera Amerika Serikat dan Israel (pexels.com/www.kaboompics.com ) Oleh karena itu, Pezeshkian mengatakan bahwa Iran tidak akan menyerah terhadap tekanan yang diberikan AS dan sekutunya, Israel. Ia mengatakan bahwa Iran akan terus memberikan perlawanan terhadap AS dan Israel sampai mereka benar-benar menang. Sebab, Teheran tidak mau begitu saja tunduk dan menyerah terhadap Washington dan Tel Aviv.
"AS dan Israel mengira mereka dapat menggulingkan kami dengan tekanan ini, tetapi kami akan mengatasi semua masalah dengan kekuatan. Kami akan mati, tetapi kami tidak akan menundukkan kepala. AS dan Israel secara terbuka menyatakan bahwa mereka ingin menghancurkan Iran. Kita bersaudara dengan negara-negara Islam dan tidak boleh membiarkan AS menabur perselisihan di antara kita," ungkap Pezeshkian dalam pernyataan terbarunya ke Al Jazeera pada Minggu (27/9/2026).
2. Iran sudah memberikan proposal terbaru ke AS

potret Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi (tasnimnews.ir/Hamed Malekpour via commons.wikimedia.org/Hamed Malekpour) Sebelumnya, Iran sudah memberikan proposal perdamaian terbaru ke AS pada hari ke-3 sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Kamis (24/9/2026). Sama seperti sebelumnya, proposal itu diberikan lewat Qatar yang berperan sebagai mediator. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sudah membeberkan isi proposal itu kepada media pada Jumat (25/9/2026) kemarin.
Araghchi menjelaskan, proposal terbaru yang diberikan ke AS berisi rencana pembukaan Selat Hormuz. Jadi, Teheran akan meminta Washington untuk mencabut blokade semua pelabuhannya, menghapus sanksi atas penjualan minyak mereka, melepaskan aset mereka yang dibekukan senilai sekitar 12 miliar dolar AS (Rp214 triliun), dan mematuhi gencatan senjata di Lebanon dan Yaman.
Sebagai gantinya, Iran akan menuruti permintaan AS untuk membuka Selat Hormuz. Araghchi mengatakan, upaya ini kemungkinan akan memakan waktu 4 sampai 5 hari. Setelah itu, Selat Hormuz baru bisa dibuka secara penuh pada hari Ke-6 atau ke-7.
3. Donald Trump menolak proposal terbaru dari Iran

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/US Embassy France) Sayangnya, proposal terbaru yang diajukan Iran tadi dikabarkan ditolak oleh Presiden AS, Donald Trump. Namun, Araghchi mengaku belum menerima konfirmasi apa pun dari AS soal penolakan tersebut. Padahal, Iran berharap Negeri Paman Sam mau menyetujui proposal dari mereka.
Penolakan AS terhadap proposal terbaru dari Iran ini membuat upaya perdamaian antara kedua negara makin terhambat. Hal ini tentu berpotensi membuat perang antara Washington dan Teheran kembali meletus pada kemudian hari.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















