Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Demo di Barcelona Berujung Penjarahan, 100 Orang Ditangkap
Ilustrasi kerusuhan (Unsplash.com/Pawel Janiak)
  • Polisi Barcelona menangkap 100 orang setelah demonstrasi tanpa izin di Plaça de Catalunya berubah ricuh; sekitar 25 persen tahanan merupakan anak di bawah umur.
  • Massa menjarah 14 toko, membakar fasilitas jalan di lebih dari 30 titik, serta bentrok dengan polisi hingga sejumlah orang mengalami luka ringan dan ruas jalan ditutup.
  • Aksi bermula dari ajakan media sosial kalangan muda yang mengusung slogan Institut Indignats, terinspirasi gerakan pelajar Prancis, sebelum berujung perusakan dan penjarahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kepolisian di Barcelona, Spanyol, menangkap 100 orang menyusul kerusuhan dalam unjuk rasa kelompok penentang sistem pemerintahan pada Sabtu (24/10/2026) malam. Aksi di pusat kota Plaça de Catalunya ini berubah ricuh setelah para demonstran berpenutup kepala menjarah toko dan membakar fasilitas umum di kawasan wisata serta pusat perbelanjaan.

Aparat kepolisian setempat segera diterjunkan untuk membubarkan massa, memadamkan api, dan menutup sejumlah ruas jalan di pusat kota. Pemerintah wilayah Catalonia bersama Pemerintah Kota Barcelona kini menempuh jalur hukum tegas terhadap para pelaku perusakan dan penjarahan tersebut.

1. Keterlibatan puluhan anak di bawah umur dalam aksi kerusuhan

Polisi menahan 100 demonstran setelah aksi tanpa izin itu meluas menjadi kerusuhan di jalan raya. Menteri Dalam Negeri Wilayah Catalonia, Núria Parlon, memastikan banyak anak di bawah umur yang terlibat dan menegaskan bahwa perusakan terencana ini bukanlah bagian dari hak menyampaikan pendapat.

"Dari sekitar 100 orang yang ditangkap, kurang lebih 25 persen di antaranya masih di bawah umur," ujar Núria Parlon, dilansir The Jerusalem Post.

Wali Kota Barcelona, Jaume Collboni, menyatakan tidak akan membiarkan pelaku perusakan kota lolos dari jerat hukum pidana maupun perdata, termasuk menuntut pertanggungjawaban orang tua atau wali dari pelaku di bawah umur. Senada dengan itu, Presiden Wilayah Catalonia, Salvador Illa, melalui akun media sosial X menegaskan bahwa serangan, ancaman, dan perusakan bukanlah hak demokrasi sehingga para pelaku harus menanggung akibatnya.

2. Penjarahan belasan toko dan pembakaran fasilitas umum di pusat kota

Kerusuhan ini merusak pusat perbelanjaan Barcelona yang sedang dipadati wisatawan dan warga pada akhir pekan. Petugas darurat mencatat massa membakar tempat sampah besar serta fasilitas di pinggir jalan pada lebih dari 30 titik untuk menghalangi langkah polisi.

Rekaman video di lokasi memperlihatkan perusuh berpakaian serba hitam dan berpenutup kepala memecahkan kaca etalase lalu menjarah barang dagangan di 14 toko. Situasi tersebut sempat membuat para pengunjung terjebak di dalam pusat perbelanjaan, termasuk di mal El Corte Inglés, karena pengelola terpaksa menutup pintu besi guna mencegah perusuh masuk.

Bentrokan fisik antara massa dan aparat kepolisian juga meluas ke sejumlah jalan sempit di sekitar lokasi kejadian. Insiden ini mengakibatkan beberapa orang mengalami luka ringan.

3. Aksi protes yang terinspirasi dari gerakan pelajar di Prancis

Unjuk rasa ini berawal dari ajakan di media sosial yang menggerakkan kalangan muda untuk turun ke jalan menentang sistem pemerintahan. Seruan tersebut disebarkan secara luas menggunakan slogan berbahasa Katalan, Institut Indignats.

Slogan itu meniru istilah bahasa Prancis, Lycées Indignés, yang berarti "Siswa Sekolah Menengah yang Marah". Istilah tersebut sebelumnya digunakan untuk menggalang gelombang demonstrasi pelajar di Prancis dalam beberapa pekan terakhir.

Massa yang berkumpul di Barcelona ini sebagian besar terdiri dari anak muda tanpa organisasi resmi. Kerumunan yang awalnya berkumpul di dekat tenda gerakan peduli perumahan di Plaça de Catalunya dengan cepat berubah menjadi aksi perusakan dan penjarahan sebelum akhirnya dibubarkan polisi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article