150 Ribu Warga Serbia Demo Jelang Pemilu, Tuntut Pergantian Rezim

- Sekitar 150 ribu pendukung gerakan Daftar Mahasiswa berdemo di Beograd menjelang pemilu parlemen, menantang dominasi Partai Progresif Serbia yang telah berkuasa lebih dari 14 tahun.
- Gerakan nasional ini bermula dari tewasnya 16 orang akibat runtuhnya kanopi stasiun Novi Sad pada 2024, lalu berkembang menjadi tuntutan pemberantasan korupsi dan perubahan pemerintahan.
- Pemilu dipercepat digelar 25 Oktober 2026 setelah tekanan protes; kampanye diwarnai laporan intimidasi, lebih dari 100 insiden kekerasan, serta sekitar 160 serangan terhadap media dan jurnalis.
Jakarta, IDN Times - Sekitar 150 ribu pendukung gerakan oposisi mahasiswa memadati pusat Kota Beograd, Serbia, pada Kamis (22/10/2026) malam. Aksi kampanye terakhir ini bertujuan menggulingkan Partai Progresif Serbia (SNS) pimpinan tokoh veteran Aleksandar Vucic dalam pemilu parlemen pada Minggu (25/10/2026). Massa berjalan kaki melintasi ibu kota sambil mengibarkan bendera dan meniup peluit sebelum berkumpul di Alun-Alun Slavija.
Gerakan tanpa pemimpin bernama Daftar Mahasiswa ini berambisi mengakhiri kekuasaan SNS yang telah berjalan lebih dari 14 tahun. Mereka mencalonkan 250 kandidat dari kalangan akademisi, dokter, petani, hingga tokoh masyarakat untuk memperebutkan 250 kursi parlemen. Ilmuwan politik Universitas Beograd, Dusan Vucicevic, memperkirakan kubu mahasiswa mampu meraih lebih dari 40 persen suara dalam pemilu mendatang.
1. Berawal dari tragedi runtuhnya kanopi stasiun kereta api

protes di Serbia (Emilija Knezevic, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons) Gelombang protes bermula dari insiden runtuhnya kanopi beton di stasiun kereta api Novi Sad yang baru direnovasi pada 1 November 2024. Tragedi yang menewaskan 16 orang tersebut memicu kemarahan publik atas dugaan korupsi, kelalaian konstruksi, dan lemahnya pengawasan pemerintah. Tuntutan awal mahasiswa yang meminta penyelidikan transparan berkembang menjadi desakan pelaksanaan pemilu dini.
Demonstrasi mingguan di kampus dan jalanan kota berubah menjadi gerakan nasional terbesar sejak jatuhnya rezim Slobodan Milosevic pada 2000. Mahasiswa mengganti parlemen kampus lama dengan rapat pleno harian agar setiap kelompok dapat memberikan suara secara demokratis. Mereka menghindari penunjukan pemimpin tunggal agar pihak berwenang kesulitan membubarkan gerakan tersebut.
Gerakan ini mengusung program 11 poin yang berfokus pada pemberantasan korupsi dan perombakan sistem pemerintahan. Mereka berencana membentuk unit polisi khusus antikorupsi, memecat pejabat Kementerian Dalam Negeri yang menindak demonstran, dan membebaskan lembaga penyiaran publik dari kendali politik. Kandidat utama Daftar Mahasiswa sekaligus profesor kardiologi di Novi Sad, Ilija Srdanovic, menyatakan pihaknya sengaja tidak menetapkan tenggat waktu kaku sebelum mengetahui kondisi negara seutuhnya.
"Perubahan jelas sangat diperlukan. Negara harus menjadi milik rakyatnya, bukan milik mafia dan para penjahat," kata mahasiswa hukum Universitas Novi Sad, Kosta Golubovic, dilansir Al Jazeera.
2. Vucic mundur dari kursi presiden demi mencalonkan diri jadi PM

Presiden Serbia Aleksandar Vucic (Duma.gov.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons) Tekanan unjuk rasa selama hampir dua tahun memaksa Vucic mengumumkan pelaksanaan pemilu dipercepat pada September lalu. Politikus berusia 56 tahun itu mengundurkan diri dari jabatan presiden karena telah menjabat dua periode dan dilarang mencalonkan diri kembali oleh konstitusi. Ia kini memimpin partainya dalam pemilu untuk kembali menduduki kursi perdana menteri yang pernah ia tinggalkan pada 2017.
Pada hari yang sama dengan aksi mahasiswa, Vucic menggelar kampanye tandingan di sebuah gedung olahraga di Beograd. Pemimpin populis sayap kanan itu berulang kali menuduh gerakan mahasiswa sebagai upaya kudeta yang didanai pihak asing dan melabeli mereka sebagai teroris. Vucic dan partainya juga membantah seluruh tuduhan korupsi, penyuapan pemilih, serta pembungkaman kebebasan pers yang dilayangkan oposisi.
"Mari kita jangan pernah melupakan bagaimana mereka mencoba meruntuhkan negara kita dan mari kita selalu melindunginya. Ayo kita keluar dan kalahkan mereka secara telak," ujar Vucic, dilansir The Guardian.
Peneliti dari lembaga pemikir Henry Jackson Society, Helena Ivanov, menilai gerakan mahasiswa ini menjadi tantangan terberat Vucic sejak berkuasa pada 2012. Mahasiswa mampu memobilisasi massa hingga ke wilayah pedesaan yang selama ini menjadi basis pendukung kuat Vucic. Sejumlah partai oposisi bahkan memilih mundur dari pencalonan pemilu demi memberikan dukungan penuh bagi Daftar Mahasiswa.
3. Kampanye diwarnai intimidasi dan ratusan serangan

Bendera Serbia. (pixabay.com/apakom) Menjelang pemungutan suara, 24 kelompok masyarakat sipil Serbia memperingatkan tidak adanya kondisi yang mendukung pemilu bebas dan adil. Kelompok pemantau independen CRTA melaporkan adanya ancaman, kekerasan fisik, pengawasan terhadap aktivis oposisi, serta rekayasa pemilu oleh kementerian hingga pemerintah daerah. Hampir tiga perempat porsi tayangan televisi nasional juga didominasi oleh pemberitaan perwakilan pemerintah.
Kelompok pemantau mencatat lebih dari 100 insiden kekerasan selama masa kampanye berlangsung. Selain itu, Pusat Kebebasan Pers dan Media Eropa melaporkan sekitar 160 serangan terhadap media dan jurnalis di Serbia sepanjang tahun ini. Pada Rabu, jaksa Beograd memeriksa enam orang yang ditangkap atas dugaan merencanakan kerusuhan dan serangan pada hari pemungutan suara.
Meski menghadapi intimidasi, aksi unjuk rasa mahasiswa tetap berlangsung damai sejak awal digulirkan. Kandidat Daftar Mahasiswa mengakhiri kampanye Kamis malam dengan turun dari panggung sambil memegang buku konstitusi Serbia dan menari bersama warga. Sekitar 6,45 juta pemilih terdaftar dijadwalkan memberikan suara mereka pada Minggu mulai pukul 07.00 hingga 20.00 waktu setempat.
"Kami mengakhiri 14 tahun penghinaan, kekacauan, dan pengkhianatan, serta puluhan tahun yang menempatkan kepentingan pribadi dan partai di atas kepentingan Anda. Anda layak mendapatkan yang lebih baik, dan kami tahu cara mewujudkannya," tutur profesor universitas sekaligus kandidat Daftar Mahasiswa, Jugoslav Gasic, dilansir The Straits Times.























