Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dua Orang Tewas dalam Protes terkait Aturan Hijab di Afghanistan
bendera Afghanistan (unsplash.com/Farid Ershad)
  • Dua orang tewas dan beberapa luka dalam protes di Herat menentang aturan hijab, sementara Taliban membantah adanya korban jiwa dan menyebut aksi itu mengganggu ketertiban umum.
  • Sejak Taliban berkuasa, demonstrasi dianggap ilegal dan aturan berpakaian perempuan diawasi ketat oleh polisi moral, dengan laporan penangkapan terhadap perempuan yang tidak mengenakan hijab sesuai ketentuan.
  • Sedikitnya 16 perempuan ditahan sejak Jumat terkait pelanggaran aturan berpakaian, termasuk seorang hamil, sementara kelompok HAM mendesak pembebasan mereka dan penyelidikan atas dugaan kekerasan mematikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Otoritas Taliban di Afghanistan menindak keras aksi protes terkait pelanggaran aturan berpakaian pada perempuan di kota Herat pada Selasa (9/6/2026). Petugas medis melaporkan sedikitnya dua demonstran tewas dan beberapa lainnya terluka.

Dalam beberapa hari terakhir, para laki-laki dan perempuan turun ke jalan untuk memprotes penangkapan sejumlah perempuan yang dianggap tidak mengenakan hijab sesuai ketentuan yang ada. Seorang pengunjuk rasa mengatakan bahwa pasukan keamanan menggunakan tongkat, cambuk, dan senjata api untuk membubarkan massa.

"Mereka bahkan melepaskan tembakan ke udara," ujarnya.

Sementara itu, seorang fotografer mengatakan dirinya melihat pasukan keamanan menyerang pengunjuk rasa dan menembakkan senjata ke arah kerumunan. Menurutnya, banyak orang mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.

1. Taliban bantah ada korban jiwa

anggota Taliban (isafmedia, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Pihak berwenang mengakui merespons aksi protes tersebut, tapi membantah adanya korban jiwa. Juru bicara Komando Kepolisian Herat, Sayed Masoud Hosseini, mengatakan bahwa para pengunjuk rasa bertindak dengan cara yang mengganggu ketertiban umum.

"Mereka berupaya menciptakan ketegangan dengan dalih memprotes isu-isu terkait kepatuhan terhadap hijab dan menentang hijab Islam, yang dianggap sebagai kewajiban yang ditetapkan oleh Tuhan," jelasnya.

Richard Bennett, penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk hak asasi manusia di Afghanistan, mengaku terkejut dengan penggunaan kekuatan yang berlebihan dalam unjuk rasa damai di Herat. Ia menegaskan bahwa pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan tersebut harus dimintai pertanggungjawaban.

Sudah saatnya meredakan ketegangan, menghormati kebebasan berekspresi warga, terutama perempuan dan anak perempuan, dan mencegah terjadinya kerugian lebih lanjut," tulisnya di media sosial.

2. Protes terhadap keputusan pemerintah dianggap ilegal di Afghanistan

perempuan Afghanistan menggunakan burqa di kota Herat (Arnesen, CC BY-SA 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0>, via Wikimedia Commons)

Demonstrasi seperti ini tergolong jarang terjadi di Afghanistan. Sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021, mereka memberlakukan aturan yang didasarkan pada penafsiran ketat terhadap hukum Islam, termasuk kewajiban menggunakan hijab dan larangan melanjutkan pendidikan di atas kelas 6 bagi perempuan.

Aturan-aturan tersebut ditegakkan oleh polisi moral, yang berada di bawah Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kemungkaran. Perbedaan pendapat tidak ditoleransi dan aksi protes terhadap keputusan pemerintah dianggap ilegal.

Dilansir BBC, sejumlah saksi mata mengatakan bahwa sejak Sabtu (6/6/2026), mereka menyaksikan para perempuan ditangkap karena dianggap tidak mengenakan hijab sesuai ketentuan. Seorang perempuan mengatakan bahwa pasar-pasar kini telah sepi, sementara perempuan lainnya mengungkapkan bahwa polisi moral memeriksa mobil dan becak untuk mencari perempuan yang dianggap tidak mengenakan hijab dengan benar.

3. 16 perempuan di Herat ditahan sejak Jumat

ilustrasi seorang tahanan di penjara (unsplash.com/Ye Jinghan)

Pada Senin (8/6/2026), seorang pemantau hak asasi manusia mengatakan bahwa pihaknya telah memverifikasi sedikitnya 16 penahanan di Herat sejak Jumat (15/5/2026) terkait dugaan pelanggaran aturan berpakaian, termasuk terhadap seorang perempuan hamil.

"Dugaan penggunaan kekuatan mematikan oleh Taliban sangat mengkhawatirkan," kata Fereshta Abbasi, seorang peneliti Afganistan untuk Human Rights Watch (HRW), seperti dikutip DW. Ia mendesak Taliban untuk segera membebaskan semua demonstran yang ditahan dan memberikan layanan kesehatan kepada mereka yang terluka.

Sementara itu, Departemen Informasi dan Kebudayaan Provinsi Herat menyatakan bahwa laporan mengenai penangkapan puluhan perempuan tersebut tidak benar dan hanya rumor belaka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article