Kamera Drone AL Inggris Dilaporkan Kirim Data Otomatis ke China

- Kamera pada drone pengintai K3 Scout AL Inggris terdeteksi otomatis terhubung ke peladen di China, mengirim komunikasi detak jantung untuk memeriksa fungsi perangkat.
- Kemhan Inggris memutus akses internet kamera dan meninjau komponen militer lain, sementara ahli memperingatkan metadata dapat mengungkap lokasi, jadwal, atau waktu aktif peralatan.
- K3 Scout, bagian dari Operation Beehive, diproyeksikan mendukung pengamanan Selat Hormuz bersama teknologi pemburu ranjau, jet Typhoon, dan kapal perusak HMS Dragon.
Jakarta, IDN Times – Kamera pada pesawat nirawak pengintai milik Angkatan Laut (AL) Kerajaan Inggris, K3 Scout, dilaporkan membuat koneksi otomatis ke sistem di China saat pemeriksaan kerentanan siber rutin. Data yang dikirim berupa komunikasi detak jantung otomatis untuk memastikan kamera tetap aktif dan berfungsi normal, tetapi temuan tersebut memicu kekhawatiran terkait keamanan komponen peralatan militer.
The Daily Telegraph menjadi media pertama yang mengungkap keberadaan tautan keluar dari kamera menuju peladen di China. Menanggapi temuan itu, Kementerian Pertahanan (Kemhan) Inggris langsung memutus akses internet kamera demi menghentikan koneksi ke peladen eksternal, sekaligus meninjau komponen militer lain untuk mengantisipasi celah serupa.
1. Kamera drone dipasang pada armada K3 Scout

ilustrasi kapal kecil berkecepatan tinggi (pexels.com/Ahmet Arikaya) Perangkat yang bermasalah tersebut berasal dari pemasok pihak ketiga yang sebelumnya menjamin keamanan komponen, lalu dipasang pada armada K3 Scout buatan Kraken Technology Group. Perusahaan asal Inggris yang berbasis di Fareham, Hampshire, itu memasok 20 unit drone kepada AL Kerajaan Inggris senilai 12 juta pound sterling (setara Rp287 miliar) untuk Operation Beehive.
Armada kapal tak berawak tersebut mulai dioperasikan Marinir Kerajaan sejak Maret 2026 untuk mengemban fungsi pengawasan, perlindungan pasukan, hingga serangan presisi. Pengadaan K3 Scout menjadi bagian dari transisi operasional angkatan laut menuju sistem hibrida, termasuk mendukung operasi maritim cepat dan misi pengintaian bersama unit komando serta pasukan khusus.
2. Ahli keamanan ingatkan risiko komponen komersial dan metadata

ilustrasi kapal kecil berkecepatan tinggi (pexels.com/Julien Goettelmann) Sejumlah ahli keamanan memperingatkan bahwa pengiriman metadata dasar tetap bisa membocorkan informasi vital perangkat militer. Data tersebut berpotensi menyingkap lokasi peralatan, jadwal operasional, hingga waktu aktif perangkat, meski otoritas setempat menegaskan belum menemukan bukti kebocoran atau transfer data sensitif milik militer Inggris.
Insiden ini turut memicu sorotan terhadap penggunaan komponen komersial yang dijual bebas (off-the-shelf), mengingat integrasi perangkat dari pihak ketiga kerap rentan jika tidak diperiksa secara menyeluruh.
“Proses jaminan dan pengujian kami dirancang untuk mengidentifikasi serta mengatasi potensi kerentanan lebih awal, dan kami terus menjalankan pemeriksaan keamanan rutin di seluruh sistem maupun peralatan kami,” kata juru bicara Kemhan, dikutip The Independent.
3. Armada K3 Scout disiapkan untuk Selat Hormuz

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons) Selain persoalan celah siber, armada K3 Scout diproyeksikan memperkuat operasi pengamanan di Selat Hormuz guna melindungi jalur pelayaran jika gencatan senjata abadi tercapai di kawasan tersebut. Misi tersebut mencakup pengerahan teknologi pemburu ranjau otonom yang mampu meluncurkan perahu drone Kraken berkecepatan tinggi, serta dukungan jet Typhoon untuk patroli udara.
Inggris juga mengumumkan pengerahan kapal perusak HMS Dragon ke wilayah tersebut untuk memperkuat misi multinasional. Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, menegaskan komitmen negaranya dalam menjaga stabilitas kawasan bersama mitra internasional sesuai mandat pertahanan yang berlaku.
“Bersama para sekutu kami, misi multinasional ini akan bersifat defensif, independen, dan kredibel,” ujar Healey.






















