Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri periode 2004 hingga 2009, Noer Hasan Wirajuda mengatakan untuk menjadi penengah dalam agresi Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran, butuh penerimaan dari kedua belah pihak. Syarat itu pula yang harus dipenuhi oleh Indonesia bila ingin menjadi mediator dan mencari titik temu agar konflik di Timur Tengah tidak berkepanjangan. Namun, hingga saat ini, Hasan belum melihat adanya penerimaan dari kedua belah pihak terhadap usulan Indonesia tersebut.
"Bila ingin menjadi mediator kan harus ada penerimaan dari kedua belah pihak yang bertikai. Kami belum melihat adanya tanda-tanda itu (penerimaan dari AS, Israel dan Iran)," ujar Hasan di Istana Kepresidenan usai diundang Presiden Prabowo Subianto dan dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden pada Rabu (4/3/2026).
Usulan Indonesia untuk menjadi mediator disampaikan melalui akun media sosial Kementerian Luar Negeri pada Sabtu (28/2/2026). Di dalam unggahan tersebut, Kemlu menulis Prabowo bersedia terbang langsung ke Tehran, Iran untuk memulai proses mediasi.
Usulan tersebut menuai protes dari publik di Tanah Air. Mereka menilai sejak Prabowo memutuskan bergabung ke dalam Board of Peace (BoP), maka posisi Indonesia sudah condong memihak Negeri Paman Sam dan Israel. Apalagi AS dan Israel turut ikut BoP.
