Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Eropa Terancam Kehabisan Bahan Bakar Pesawat dalam Waktu Dekat
ilustrasi pesawat (pexels.com/Pixabay)
  • Cadangan bahan bakar pesawat di Eropa diperkirakan hanya cukup enam minggu akibat blokade Selat Hormuz yang menghentikan pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah.
  • Krisis ini membuat Eropa mencari alternatif pasokan ke AS dan Nigeria, namun tambahan ekspor belum mampu menutup seluruh kekurangan sehingga risiko pembatalan penerbangan tetap tinggi.
  • Industri penerbangan Eropa mulai siaga dengan meminta data stok real-time dan memperingatkan potensi gangguan operasional jika blokade berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Cadangan bahan bakar pesawat di Eropa kini diperkirakan hanya cukup untuk sekitar enam minggu. Situasi ini dipicu tertutupnya pasokan melalui Selat Hormuz yang masih diblokir akibat konflik Iran, dan oleh Badan Energi Internasional (IEA) dinilai sebagai krisis energi terbesar yang pernah terjadi.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menggambarkan kondisi tersebut dengan menyoroti peran jalur laut strategis yang biasanya mengangkut sekitar seperlima minyak mentah serta gas alam cair global, namun kini hampir sepenuhnya terhenti sejak serangan udara Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

“Dan semakin lama ini berlangsung, semakin buruk bagi pertumbuhan ekonomi dan inflasi di seluruh dunia,” kata Birol, pada Kamis (16/4/2026), dikutip Euro News.

1. Blokade Hormuz tekan harga energi global dan pasokan Eropa

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Blokade di Selat Hormuz turut memicu lonjakan harga bensin, gas alam, dan listrik di berbagai negara, dengan dampak yang berbeda di tiap wilayah. Birol menjelaskan bahwa tekanan awal paling terasa di Asia seperti Jepang, Korea, India, China, Pakistan, dan Bangladesh, sementara negara berkembang di Asia, Afrika, serta Amerika Latin diperkirakan menghadapi dampak paling berat.

Ia juga menekankan bahwa efek krisis ini akan meluas ke kawasan lain.

“Kemudian ini akan sampai ke Eropa dan Amerika,” tambah Fatih Birol.

Untuk Eropa, risiko pembatalan penerbangan mulai muncul apabila blokade terus berlangsung. IEA menyebut cadangan bahan bakar pesawat berpotensi mencapai titik kritis pada Juni, kecuali kawasan ini mampu mengganti setidaknya setengah dari impor yang hilang dari Timur Tengah, yang selama ini menyuplai sekitar 75 persen kebutuhan, dilansir BBC.

2. Gangguan pasar bahan bakar penerbangan picu upaya alternatif pasokan

ilustrasi pesawat terbang (pexels.com/Pixabay)

IEA melaporkan bahwa krisis ini telah mengacaukan mekanisme pasar bahan bakar penerbangan secara signifikan. Kilang di negara pemasok utama seperti Korea, India, dan China disebut sangat bergantung pada minyak mentah dari kawasan Teluk.

Di sisi lain, negara-negara Eropa mulai mengalihkan pencarian pasokan ke AS dan Nigeria sebagai alternatif. Ekspor bahan bakar pesawat dari AS memang meningkat dalam beberapa pekan terakhir, tetapi IEA menilai bahwa meskipun seluruh tambahan tersebut dialihkan ke Eropa, volumenya hanya mampu menutup sedikit lebih dari separuh kekurangan.

IEA juga mengingatkan bahwa jika penggantian impor dari Timur Tengah tak melebihi 50 persen, kekurangan fisik bahan bakar bisa terjadi di sejumlah bandara. Kondisi ini dapat memicu pembatalan penerbangan dan penurunan permintaan, bahkan ketika 75 persen pasokan berhasil diganti, risiko serupa masih bisa muncul meski pada periode lebih lambat.

Laporan tersebut menekankan bahwa pasar Eropa perlu bekerja lebih keras dalam menarik kargo pengganti dari berbagai sumber agar persediaan tetap terjaga selama musim panas.

3. Industri penerbangan Eropa siapkan langkah antisipasi kekurangan

ilustrasi bandara (pexels.com/Matthew Turner)

Airports Council International Europe telah mengirim surat kepada Komisi Eropa yang berisi peringatan bahwa kekurangan bahan bakar pesawat berpotensi terjadi sejak awal Mei jika kapal tanker belum kembali melintasi Selat Hormuz. Dalam surat itu, disebutkan bahwa bandara kecil di wilayah pedalaman memiliki kerentanan lebih tinggi dibanding bandara besar.

Ekonom ING Rico Luman menyampaikan bahwa kondisi ini tak berarti seluruh penerbangan akan berhenti, melainkan lebih pada pembatalan sebagian di maskapai maupun bandara tertentu.

Maskapai penerbangan disebut masih memiliki keterbatasan informasi dalam menyusun jadwal operasional. Airlines for Europe (A4E), yang mewakili maskapai seperti Air France-KLM, Lufthansa, dan Ryanair, telah meminta Uni Eropa untuk menyediakan data stok bahan bakar secara real-time dari seluruh bandara.

Chief Executive TotalEnergies Patrick Pouyanne turut memberi peringatan bahwa jika konflik dan blokade berlangsung lebih dari tiga bulan, perusahaan akan mulai menghadapi kendala serius dalam pasokan sejumlah produk, termasuk bahan bakar pesawat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team