Tegas! RI Tolak Ancaman di Selat Hormuz di Tengah Konflik Iran-AS

- Pemerintah Indonesia menegaskan penolakan terhadap segala bentuk ancaman di Selat Hormuz dan menuntut keselamatan pelayaran internasional dijadikan prioritas utama sesuai hukum internasional.
- Dua kapal Pertamina, Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di kawasan Teluk Arab, sementara Kemlu terus berkoordinasi dengan otoritas Iran untuk menjamin keselamatan kapal dan awaknya.
- Proses perizinan bagi kedua kapal tersebut masih berlangsung, dengan diplomasi aktif antara Kemlu, Kedutaan Besar RI di Teheran, dan Pertamina guna memastikan kelancaran pelayaran di tengah konflik Iran-AS.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Indonesia angkat suara di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, yang kini terdampak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan penolakan terhadap segala bentuk ancaman terhadap kapal niaga yang melintas di kawasan tersebut. Pernyataan ini muncul di tengah situasi keamanan yang semakin kompleks, termasuk penutupan jalur oleh Iran dan blokade oleh Amerika Serikat.
Juru bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl, menekankan keselamatan pelayaran internasional harus menjadi prioritas utama. Ia mengingatkan pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka sesuai hukum internasional.
“Dalam hal ini kita juga menolak segala bentuk ancaman terhadap kapal niaga dan menekankan bahwa keselamatan pelaut itu harus menjadi prioritas yang utama,” ujar Nabyl dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (15/4/2026).
Di saat yang sama, Indonesia juga tengah menghadapi persoalan konkret, yakni tertahannya dua kapal milik Pertamina di kawasan tersebut.
1. Indonesia soroti keamanan Selat Hormuz

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial dalam perdagangan energi global. Jalur ini dilalui sebagian besar pengiriman minyak dunia, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada stabilitas ekonomi internasional.
Dalam konteks konflik yang memanas, posisi Indonesia menekankan pentingnya menjaga jalur ini tetap aman dan dapat diakses. Nabyl menegaskan, kebebasan navigasi harus dihormati oleh semua pihak.
Ia juga menyoroti situasi saat ini tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat konflik, tetapi juga negara lain yang bergantung pada jalur tersebut, termasuk Indonesia.
“Menekankan betapa penting menjaga selat tetap aman, terbuka, dan bisa dilalui pelayaran internasional sesuai dengan ketentuan dan hukum internasional,” kata Nabyl.
Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran Indonesia terhadap potensi gangguan lebih luas, terutama bagi distribusi energi global dan keselamatan pelayaran.
2. Dua kapal Pertamina masih tertahan

Di tengah ketegangan tersebut, dua kapal milik Pertamina, yakni Pride dan Gamsunoro, dilaporkan masih berada di kawasan Teluk Arab atau Teluk Persia.
Kemlu memastikan, koordinasi terus dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk otoritas Iran, untuk memastikan keselamatan kapal dan awaknya.
Nabyl menyebut komunikasi intensif dilakukan dengan Angkatan Bersenjata Iran dan Kementerian Luar Negeri Iran, menyusul adanya sinyal positif yang sempat disampaikan pada pertengahan Maret lalu.
“Kita akan terus memantau dan memastikan kesiapan teknis, termasuk kesiapan kru, asuransi, dan sebagainya agar kedua kapal tersebut tetap melintas dengan lancar,” ujarnya.
Upaya ini untuk menunjukkan Indonesia tidak hanya mengambil posisi diplomatik, tetapi juga aktif melindungi kepentingan nasional di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.
3. Proses negosiasi dan perizinan masih berjalan

Hingga kini, proses perizinan bagi kedua kapal tersebut masih berlangsung. Pemerintah Indonesia terus berupaya memastikan jalur keluar bagi kapal-kapal tersebut tetap terbuka.
Kemlu bersama Kedutaan Besar RI di Teheran dan pihak Pertamina menjaga komunikasi yang erat guna mempercepat proses tersebut. “Kalau ditanya negosiasinya ada progres, yaitu proses perizinan masih terus berjalan,” ungkap Nabyl.
Situasi di Selat Hormuz sendiri semakin rumit setelah Iran menutup jalur tersebut sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel. Di sisi lain, Amerika Serikat juga mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal Iran dan yang berafiliasi dengan mereka.
Kondisi ini menciptakan tekanan berlapis di kawasan tersebut, menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu titik paling rawan dalam konflik global saat ini, sekaligus menguji kemampuan diplomasi negara-negara seperti Indonesia dalam menjaga kepentingannya.

















