Ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel)
Menanggapi insiden tersebut, Washington dilaporkan mulai membatasi pembagian informasi intelijen tertentu, terutama data satelit, dengan Seoul sejak awal April 2026. Pertukaran akan dibatasi sampai tindakan diambil untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Dilaporkan, AS menyampaikan kekhawatirannya kepada pemerintah Korsel melalui berbagai saluran. Ini termasuk jalur diplomatik, pertahanan, dan intelijen. Mereka menyatakan ketidakpuasan yang kuat atas penyebutan publik oleh Menteri Chung terkait pengungkapan informasi sensitif tentang fasilitas nuklir Korut.
Kementerian Pertahanan Korsel membatah adanya keretakan dan menegaskan koordinasi militer tetap erat terjaga. Pemerintah menambahkan bahwa kedua negara telah sering berkomunikasi satu sama lain mengenai isu-isu penting sambil tetap mematuhi pakta berbagi intelijen militer. Namun, pihaknya menolak untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.
Pasukan AS di Korea (USFK) juga mengeluarkan pernyataan mengenai masalah ini, yang menyatakan bahwa mereka tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan Korsel, guna mempertahankan pencegahan dan memastikan perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea.
Beberapa pengamat melihat hal ini sebagai contoh gesekan antara Seoul dan Washington, terkait perbedaan pendekatan kebijakan mereka terhadap Pyongyang.
"Karena berbagi intelijen pada akhirnya adalah masalah kepercayaan, tidak akan mudah untuk memulihkannya. Masalah ini harus ditanggapi dengan serius dan segera ditangani," kata Kim Jae-chun, profesor hubungan internasional di Sogang University, dikutip dari Korea JoongAng Daily.