Korsel Tempuh Jalur Diplomasi demi Amankan 26 Kapal di Selat Hormuz

- Presiden Korsel Lee Jae Myung akan hadir di KTT multilateral yang membahas kebebasan navigasi Selat Hormuz, dipimpin Prancis dan Inggris dengan partisipasi puluhan negara.
- Korsel meningkatkan diplomasi dengan Iran untuk membebaskan 26 kapal tertahan, berbagi data maritim demi keselamatan awak tanpa menuntut perlakuan khusus.
- Ketegangan AS-Iran meningkat setelah blokade maritim diumumkan Washington, membuat Korsel khawatir terhadap dampaknya pada akses pelayaran dan pasokan energi global.
Jakarta, IDN Times - Presiden Korea Selatan (Korsel), Lee Jae Myung, akan berpatisipasi dalam KTT multilateral mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz. KTT tersebut akan digelar secara virtual pada 17 April 2026 dan dipimpin oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dengan undangan dikirim kepada sekitar 70-80 perwakilan negara dan organisasi internasional.
Kantor kepresidenan Korsel, Cheong Wa Dae, mengonfirmasi kehadiran tersebut pada Kamis (16/4/2026), setelah sebelumnya sempat menyatakan masih dalam tahap pertimbangan. Langkah ini diambil demi menjaga kepentingan nasional, serta stabilitas komunitas internasional.
KTT ini diharapkan membahas isu-isu seperti rantai pasokan energi, konflik Timur Tengah, dan koordinasi internasional untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
1. Penyatuan jalur diplomasi dan militer

Seorang pejabat senior di Cheong Wa Dae menyatakan bahwa keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz sangat krusial bagi ekonomi domestik.
"Jalur pelayaran yang aman adalah kepentingan semua pihak. Kami terus berkoordinasi dengan negara-negara yang memiliki visi serupa," ujarnya, dilansir Korea Herald.
KTT ini merupakan puncak dari inisiatif sebelumnya, yakni pertemuan kepala militer pada 26 Maret dan menteri luar negeri pada 2 April. Pejabat tersebut menekankan bahwa pertemuan ini menandai bersatunya jalur militer yang diinisiasi Paris, dengan jalur diplomatik yang dipelopori London.
Presiden Macron menegaskan melalui platform X pada Selasa (14/4/2026) bahwa misi ini bersifat multilateral dan defensif, yang bertujuan memulihkan kebebasan navigasi bagi negara-negara non-agresif. Sementara itu, pihak Inggris berharap KTT tersebut menghasilkan rencana multinasional yang terkoordinasi, independen, dan menyeluruh, guna melindungi pelayaran internasional usai konflik berakhir.
Hingga saat ini, belum dipastikan apakah KTT tersebut akan menghasilkan pernyataan bersama, tetapi Presiden Lee dijadwalkan akan menyampaikan pesan khusus dalam pertemuan itu.
2. Korsel berbagi data kapal yang tertahan di Selat Hormuz dengan Iran

Sumber diplomatik Korsel mengatakan pada 14 April 2026 bahwa Seoul meningkatkan upaya diplomatik langsung dengan Teheran, guna mengamankan pembebasan 26 kapal yang tertahan di Selat Hormuz. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan menyusul rencana Amerika Serikat (AS) menerapkan blokade selektif terhadap lalu lintas maritim Iran.
Utusan Khusus Kementerian Luar Negeri Korsel, Chung Byung-ha, baru-baru ini bertemu dengan pejabat senior Iran, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Fokus utama pertemuan tersebut, yaitu berbagi data maritim, di mana Seoul telah menyerahkan rincian kapal dan 173 awak yang terdampar untuk memastikan keselamatan mereka tanpa menuntut perlakuan istimewa.
Misi tersebut juga untuk negosiasi kebebasan navigasi, memastikan kapal berbendera Korea dapat melintasi jalur logistik energi vital tersebut di tengah ancaman serangan Teheran terhadap kapal yang melintas tanpa izin. Selain itu, Seoul berencana mengirimkan paket bantuan melalui organisasi internasional pekan ini, guna mendinginkan suasana. Namun, pihaknya mengklaim bantuan tersebut tidak terkait langsung dengan negosiasi kapal.
3. Konflik AS-Iran yang berujung pada blokade Selat Hormuz

Ketegangan memuncak setelah kegagalan pembicaraan gencatan senjata di Pakistan pada 7 April 2026. Washington mengumumkan blokade maritim yang menargetkan pelabuhan Iran mulai Senin (13/4/2026) malam, yang dikhawatirkan Seoul justru memperburuk akses navigasi bagi kapal-kapal komersial mereka. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Hingga saat ini, sebanyak 26 kapal terkait Korsel masih tertahan. Meski ada laporan satu kapal tanker, Mombasa B, berhasil melintas melalui rute yang disetujui Iran, otoritas Seoul menyebut kapal tersebut tidak membawa warga negara Korea dan dioperasikan oleh pihak ketiga.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Korsel menegaskan bahwa mereka belum menerima permintaan resmi dari AS untuk bergabung dalam operasi militer atau pengiriman kapal penjinak ranjau di wilayah tersebut.
















