ilustrasi bendera China (pexels.com/J.D. Books)
Perdana Menteri China Li Qiang menyerukan upaya segera untuk mengorganisasi operasi penyelamatan dan memberikan perawatan medis kepada korban luka. Li juga meminta pemerintah memastikan warga terdampak direlokasi dan mendapatkan tempat tinggal yang layak.
Ia menyoroti kondisi wilayah terdampak yang berada di dataran tinggi dan rentan mengalami gempa susulan.
Kementerian Manajemen Darurat China turut mengirimkan kelompok kerja ke lokasi untuk mengarahkan operasi penyelamatan dan penanganan bencana. Pemerintah China juga mengumumkan alokasi dana sebesar 50 juta yuan atau sekitar 7,5 juta dolar AS untuk upaya penanganan bencana di Tibet.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga berlarian ke jalan ketika bangunan berguncang hebat dalam kondisi gelap. Namun, BBC menyatakan video tersebut belum diverifikasi secara independen.
Wilayah Tibet memang dikenal rentan terhadap aktivitas seismik yang dapat menimbulkan kerusakan besar. Pada 2023, gempa bermagnitudo 6,2 di Provinsi Gansu, China, menewaskan lebih dari 120 orang.
Tibet dan Nepal juga mengalami banjir besar serta tanah longsor kurang dari dua bulan sebelumnya. Bencana yang dipicu runtuhnya gletser tersebut menewaskan sedikitnya 1.400 orang, sementara ratusan lainnya masih dilaporkan hilang.
Meski menghadapi kondisi geografis yang menantang, tim penyelamat di dataran tinggi Tibet memiliki pengalaman dalam menangani bencana. Pada Januari 2025, personel militer, pemadam kebakaran, polisi, dan tim penyelamat khusus dikerahkan dalam hitungan jam setelah gempa kuat mengguncang wilayah Shigatse.
Militer China juga memiliki drone yang dapat digunakan untuk memantau kondisi wilayah terdampak dari udara. Namun, akses media asing ke Tibet masih dibatasi dan informasi di wilayah tersebut berada di bawah pengawasan ketat pemerintah China. Karena itu, media pemerintah China menjadi sumber utama informasi mengenai perkembangan bencana di kawasan tersebut.