Korban Banjir Nepal-Tibet Tembus 1.000 Jiwa, DNA Keluarga Dikumpulkan

- Banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet menewaskan lebih dari 1.000 orang dan membuat 4.400 lainnya hilang, termasuk sedikitnya 592 warga negara asing.
- Kepolisian Nepal meminta keluarga korban hilang menyerahkan sampel DNA dan foto untuk identifikasi, sementara foto jenazah dipajang di rumah sakit kepolisian Kathmandu.
- Lebih dari 11 ribu orang telah diselamatkan, tetapi ratusan masih terjebak di lokasi PLTA rusak; para penyintas menghadapi trauma, pengungsian, dan kehilangan keluarga.
Jakarta, IDN Times - Korban tewas akibat banjir bandang yang melanda perbatasan Nepal-Tibet pekan lalu kini telah mencapai lebih dari 1.000 orang, sementara 4.400 lainnya masih hilang. Kepolisian Nepal telah mengimbau keluarga orang hilang untuk memberikan sampel DNA demi membantu proses identifikasi.
Dilansir The Guardian, pihak keluarga diminta untuk menyerahkan sampel darah terbaru dan dua pas foto berukuran paspor ke laboratorium patologi di rumah sakit kepolisian Nepal di Kathmandu atau ke kantor polisi distrik terdekat. Sementara bagi keluarga yang berada di luar negeri, mereka harus menjalani pengambilan sampel profil DNA di laboratorium resmi dan mengirimkan salinan digital profil DNA tersebut ke alamat email resmi kepolisian Nepal.
Sedikitnya 592 warga negara asing (WNA) masuk ke dalam daftar orang hilang di Nepal. Mereka berasal dari berbagai negara seperti India, Amerika Serikat (AS), Inggris, Australia dan Kanada.
1. Foto-foto jenazah dipajang di dinding rumah sakit
Di rumah sakit kepolisian Kathmandu, lebih dari 100 orang mengantre untuk memberikan sampel darah pada Selasa (1/9/2026). Salah satunya adalah Prakaiti Jurnj. Ibunya masih hilang, sementara jenazah ayahnya telah berhasil diidentifikasi oleh keluarga melalui foto yang dipajang di dinding luar rumah sakit tersebut.
“Ayah dan ibu saya berada di desa di Nuwakot. Keduanya terseret banjir. Kami belum mendengar kabar dari mereka sejak Rabu. Kami menemukan jenazah ayah saya; saudara laki-laki saya melihat fotonya di dinding," ujarnya.
Jurnj kini menunggu kedatangan dua saudara kandungnya dari Inggris agar mereka bisa pergi bersama-sama ke desa tersebut. Ia berharap dapat menghubungi nenek atau kakak iparnya, yang kemungkinan selamat karena rumah mereka terletak di lereng gunung. Namun, desa mereka masih mengalami pemadaman listrik sehingga mereka tidak dapat dihubungi.
“Saya tidak bisa pergi ke sana sendirian. Saya tidak yakin apakah kami akan bisa menemukan mereka," tambahnya.
2. Korban selamat alami trauma
Hingga kini, sebagian korban selamat di Nepal masih terguncang akibat banjir dahsyat tersebut. Mereka diliputi ketakutan akan kemungkinan banjir susulan dan harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Sebagian besar dari mereka mengungsi tinggal di tempat penampungan sementara, seperti pusat yoga di Bidur, di mana sekitar 100 perempuan dan anak-anak harus berbagi satu kamar mandi.
Subba Tamang, salah satu pengungsi, menjadikan atap bangunan sebagai tempat tinggal sementara bersama 50 pria lainnya. Ia kehilangan delapan anggota keluarganya dalam bencana tersebut.
"Kami tidak bisa tidur. Banyak orang menangis karena mereka juga kehilangan anggota keluarganya. Banyak orang menangis di sini pada malam hari saat teringat akan keluarga mereka. Hari-hari terus berlalu seperti itu," ungkap Tamang, dikutip CNN.
3. Lebih dari 11 ribu orang berhasil diselamatkan
Sementara itu, upaya penyelamatan terus dilakukan untuk mengevakuasi sekitar 600 orang yang masih terjebak di sejumlah lokasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang hancur. Jembatan darurat juga telah dibangun untuk menjangkau daerah-daerah terpencil.
Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, mengatakan bahwa lebih dari 11 ribu orang telah diselamatkan di seluruh wilayah yang terdampak bencana. Selain itu, jaringan listrik dan komunikasi juga telah dipulihkan di sejumlah daerah.
"Ribuan warga telah kehilangan rumah, keluarga, orang-orang terkasih, dan harta benda mereka," ujarnya.




















