Harga Pangan Dunia Melonjak, Catat Rekor Tertinggi dalam 4 Tahun

- Indeks Harga Pangan FAO mencapai 136,0 pada September 2026, tertinggi sejak November 2022, naik 1,5 persen bulanan dan 5,8 persen tahunan.
- El Nino mengerek indeks gula 6,1 persen akibat ancaman gagal panen di India dan Thailand, sementara hujan di Brasil mengganggu pasokan tebu.
- Konflik di Laut Hitam menghambat pengiriman biji-bijian; harga gandum naik 6,3 persen, jagung 5,6 persen, dan FAO menurunkan proyeksi perdagangan global.
Take a Deeper Reads

Jakarta, IDN Times - Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat harga pangan global mencapai titik tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir pada September 2026. Lonjakan ini mencerminkan tingginya kerentanan ketahanan pangan dunia di tengah dinamika ekonomi global.
Anomali iklim di berbagai wilayah serta hambatan distribusi jalur laut menjadi pemicu utama kenaikan harga tersebut. Tekanan ini pada akhirnya memberatkan rantai pasok makanan antarnegara dan memicu risiko inflasi.
1. Indeks harga pangan sentuh rekor baru
Indeks Harga Pangan FAO pada bulan lalu menyentuh angka 136,0, naik 1,5 persen dari Agustus dan melonjak 5,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian tersebut mencetak rekor tertinggi sejak November 2022. Kenaikan harga barang di tingkat produsen berisiko menekan daya beli masyarakat, dengan negara berkembang sebagai kelompok yang paling rentan menghadapi guncangan pasar ini.
"Jika terus berlanjut, tekanan ini akan segera berdampak pada harga bahan pokok konsumen, terutama di negara-negara yang bergantung impor pangan," kata Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, dilansir Daily Sabah.
Tingginya biaya belanja impor dikhawatirkan memicu inflasi dalam negeri jika harga komoditas tidak segera mereda.
2. Lonjakan harga gula internasional ke level tertinggi akibat El Nino
Fenomena cuaca ekstrem El Nino melambungkan harga gula internasional ke level tertinggi dalam 18 bulan terakhir. Indeks harga gula bulanan FAO melonjak tajam sebesar 6,1 persen akibat terganggunya produksi global.
Kenaikan ini dipicu oleh ancaman gagal panen di India dan Thailand yang dilanda kekeringan. Pada saat bersamaan, curah hujan tinggi di pusat perkebunan tebu Brasil semakin mempersulit penyediaan pasokan gula dunia.
Selain gula, indeks minyak nabati juga menguat 0,9 persen akibat kenaikan harga minyak kelapa sawit dunia. Kekhawatiran atas kondisi kering di Asia Tenggara terus menekan kapasitas panen.
"Gangguan rantai pasok yang berpadu dengan perubahan cuaca memberikan tekanan nyata pada komoditas pangan pokok," ujar Torero.
3. Perang hambat pengiriman gandum dan jagung
Konflik yang melumpuhkan rute perkapalan di Laut Hitam mendorong harga gandum naik ke titik tertinggi dalam tiga tahun. Kondisi geopolitik tersebut membuat distribusi gandum dari kawasan Eropa Timur menuju pasar dunia tertahan.
Hambatan logistik ini membuat keseluruhan indeks biji-bijian naik 5,1 persen pada September. Secara rinci, harga gandum dunia naik 6,3 persen, disusul harga jagung yang meningkat 5,6 persen. Akibat rute yang tidak aman, FAO menurunkan proyeksi perdagangan biji-bijian global untuk periode 2026/2027.
"Gangguan pada jalur perairan penting menekan sektor energi, pengangkutan, serta komoditas pangan utama," tegas Torero.
Mahalnya tarif kapal kargo dan terbatasnya jalur alternatif membuat pasokan bahan makanan dunia makin tidak pasti, meski hasil panen global sebenarnya memadai.





















