Harga Pangan Dunia Naik ke Titik Tertinggi Sejak Akhir 2022

- Indeks Harga Pangan FAO mencapai 133,3 poin pada Agustus 2026, naik 1,9 persen bulanan dan menjadi level tertinggi sejak November 2022; indeks sereal naik 2,2 persen.
- Gelombang panas, kekeringan Eropa, ancaman El Nino di Asia, serta penurunan produksi tebu Brasil mendorong kenaikan harga gula, minyak nabati, dan mengganggu produksi pangan.
- Serangan di Laut Hitam dan ketegangan AS-Iran menghambat pengiriman gandum serta distribusi pupuk; FAO memproyeksikan perdagangan sereal global 2026/2027 turun menjadi 509,3 juta ton.
Jakarta, IDN Times - Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB melaporkan lonjakan harga komoditas pangan global pada Jumat (4/9/2026). Kenaikan harga bahan pokok dunia ini menyentuh level tertinggi dalam kurun waktu hampir empat tahun terakhir.
Anomali cuaca ekstrem di wilayah produsen utama dan gangguan geopolitik pada rantai pasokan global menjadi pemicu utamanya. Kondisi tersebut kini kembali mengancam stabilitas pasokan bahan pangan di berbagai negara konsumen.
1. Indeks harga pangan dan sereal global melonjak
Indeks Harga Pangan FAO mencapai rata-rata 133,3 poin pada Agustus 2026, naik 1,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak November 2022 yang dipicu oleh kenaikan harga serentak pada seluruh kelompok komoditas utama.
Selain itu, indeks harga sereal turut naik 2,2 persen menjadi 116,3 poin yang didorong oleh lonjakan harga gandum dan jagung.
“Kenaikan harga pangan global pada Agustus menjadi peringatan bahwa risiko pasar komoditas kembali meningkat,” ungkap Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, dilansir Business Standard.
2. Gelombang panas dan El Nino ganggu produksi pangan
Suhu panas ekstrem dan kekeringan di Eropa menekan hasil panen jagung, bit gula, hingga pakan ternak. Situasi ini berdampak langsung pada terganggunya produksi industri susu di Prancis dan Polandia.
Sementara itu, ancaman fenomena El Nino di Asia memicu lonjakan Indeks Harga Gula FAO sebesar 11,9 persen ke level 106,4 poin. Kenaikan harga ini kian diperparah oleh merosotnya produksi tebu di Brasil. Di sisi lain, harga minyak nabati ikut terkerek naik akibat kekhawatiran terhadap prospek produksi kelapa sawit di Asia Tenggara.
“Guncangan iklim dan gangguan logistik perdagangan kini saling berkaitan sehingga memperketat pasokan pangan,” kata Torero.
3. Konflik geopolitik perberat gangguan rantai pasok
Serangan militer di perairan Laut Hitam membatasi pengiriman gandum dari Rusia dan Ukraina, sehingga memicu penumpukan stok di pelabuhan. Pada saat bersamaan, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut mengganggu jalur distribusi pupuk dunia di Selat Hormuz.
Berbagai hambatan logistik ini berisiko melambungkan biaya operasional para petani di negara-negara berkembang. Akibatnya, FAO memperkirakan volume perdagangan sereal dunia pada periode 2026/2027 akan menyusut menjadi 509,3 juta ton.
“Ketahanan pangan dan kelancaran arus pasokan bahan produksi sangat penting untuk menjaga stabilitas harga dunia,” tegas Torero.





















