Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Houthi Berencana Pungut Tarif di Selat Bab el-Mandeb
potret Selat Bab el-Mandeb (commons.wikimedia.org/WorldWind software)
  • Houthi dilaporkan mempertimbangkan tarif bagi kapal di Selat Bab el-Mandeb, setelah memblokade kapal kargo Arab Saudi sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.
  • Rencana itu disebut terinspirasi Iran yang ingin memungut tarif di Selat Hormuz, namun berpotensi dikecam karena Bab el-Mandeb merupakan perairan internasional.
  • Jika diterapkan, tarif berpotensi menaikkan harga minyak global karena sekitar 12 persen perdagangan minyak dunia melintasi selat tersebut; Houthi belum mengonfirmasi rencana ini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Milisi Yaman, Houthi, dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk memungut tarif bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Bab el-Mandeb. Kabar itu disampaikan oleh sumber anonim dari Timur Tengah kepada Reuters pada Selasa (28/7/2026). Namun, Houthi sendiri belum mengonfirmasi kabar tersebut. 

Kabar ini mencuat usai Houthi menerapkan blokade maritim di Selat Bab el-Mandeb terhadap kapal kargo dari Arab Saudi. Blokade tersebut dilakukan pada Senin (20/7/2026) pekan lalu. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap Iran. Sebab, Arab Saudi merupakan salah satu sekutu Amerika Serikat (AS). Banyak pangkalan militer AS di Arab Saudi yang selama ini digunakan untuk menyerang Teheran.

1. Houthi terinspirasi oleh Iran yang ingin pungut tarif di Selat Hormuz

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

Menurut calon Menteri Luar Negeri dari Pemerintah Yaman, Afrah al-Zouba, Houthi ingin memungut tarif di Selat Bab el-Mandeb karena terinspirasi oleh Iran. Sebab, Iran kini juga sedang berencana untuk memungut tarif di Selat Hormuz. Namun, rencana tersebut menuai kecaman dari banyak pihak, terutama dari AS.  

"Kelompok Houthi akan mencoba mendapatkan akses melalui Laut Merah dan mereka akan mencoba menyerang kapal jika berhasil," kata Al-Zouba, seperti dilansir The New Arab pada Rabu (29/7/2026).

2. Penerapan tarif di Selat Bab el-Mandeb juga akan menuai kecaman

potret Selat Bab el-Mandeb (commons.wikimedia.org/NASA Johnson Space Center)

Penerapan tarif bagi kapal yang melintas di Selat Bab el-Mandeb ini juga berpotensi menuai kecaman dari negara Teluk dan negara Eropa. Sebab, sama dengan Selat Hormuz, Selat Bab el-Mandeb juga merupakan perairan internasional di mana kapal punya hak bebas berlayar di sana. 

Ini tentu berbeda dengan terusan, seperti Terusan Suez dan Terusan Panama. Terusan Suez dan Terusan Panama merupakan jalur perdagangan khusus yang dibangun oleh sejumlah negara. Terusan dibuat dengan tujuan untuk memotong jalur perdagangan yang terlalu panjang. 

Oleh karena itu, negara-negara yang membangun terusan diperbolehkan untuk memungut tarif bagi kapal yang ingin berlayar di sana. Langkah ini merupakan timbal balik dari pembangunan terusan karena kapal jadi bisa mengirim barang ke negara lain dengan cepat.

3. Penerapan tarif di Selat Bab el-Mandeb bisa memicu kenaikan harga minyak global

potret kapal tanker minyak (unsplash.com/Haydn)

Jika pemungutan tarif di Selat Bab el-Mandeb dilakukan, harga minyak global juga berpotensi naik. Sebab, selain Selat Hormuz, selat tersebut juga menjadi salah satu jalur ekspor dan impor minyak dari Timur Tengah ke pasar global. Sekitar 12 persen aktivitas ekspor dan impor minyak dunia dilakukan di sana. 

Namun, penerapan tarif di Selat Bab el-Mandeb kini baru sebatas rencana semata. Sebab, hingga kini, Houthi juga belum mengumumkan secara resmi soal hal tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article