Houthi Akan Tiru Blokade Iran di Selat Bab el-Mandeb

- Houthi berupaya mengganggu pelayaran komersial di Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah, meniru blokade Iran di Selat Hormuz serta menargetkan kapal milik Arab Saudi.
- Pemerintah Yaman memperingatkan respons internasional yang dinilai kurang tegas membuat Houthi semakin berani, sementara ancaman penutupan jalur laut berisiko mengganggu distribusi barang dan energi global.
- Ketegangan Yaman-Arab Saudi kembali meningkat setelah serangan terhadap tanker Saudi, serangan udara di Hodeida, dan balasan rudal Houthi ke fasilitas Aramco di Jizan serta Yanbu.
Jakarta, IDN Times - Kelompok Houthi di Yaman disebut berupaya meniru model blokade Iran di Selat Hormuz dengan mengganggu jalur pelayaran komersial di Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah. Langkah ini mengancam akan menutup jalur masuk utama perdagangan maritim global menuju kawasan Teluk dan Laut Merah.
Pemerintah Yaman menilai Houthi semakin berani akibat respons dunia internasional yang kurang tegas. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru akan meluasnya konflik regional di Timur Tengah.
1. Houthi bertekad meniru strategi blokade Iran

Kelompok Houthi menegaskan bahwa blokade maritim mereka di Laut Merah difokuskan untuk menargetkan kapal-kapal milik Arab Saudi. Blokade ditegakkan dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke kapal-kapal komersial Saudi yang melintas.
Taktik terbaru ini dinilai sebagai upaya memperluas front pertempuran di Timur Tengah. Penutupan akses Selat Bab el-Mandeb diprediksi akan memperparah krisis distribusi barang dan energi global.
"Houthi ingin meniru model Iran dan ini akan menutup dua selat utama yang menjadi gerbang ke Teluk dan Laut Merah," ujar Menteri Luar Negeri Yaman Afrah al-Zouba, dilansir The Straits Times pada Senin (27/7/2026).
Al-Zouba menyatakan bahwa pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi tidak bisa menghadapi ancaman ini sendirian. Ia mendesak komunitas internasional untuk mengambil tindakan nyata dalam mengamankan kebebasan berlayar di Bab el-Mandeb.
2. Sejarah ketegangan Houthi dan Arab Saudi sejak 2014

Konflik di Yaman bermula ketika kelompok Houthi menguasai ibu kota Sanaa pada 2014 lalu. Aksi tersebut mendorong Arab Saudi membentuk koalisi militer Arab untuk melakukan intervensi demi membela pemerintah resmi Yaman.
Perang berkepanjangan selama bertahun-tahun telah menewaskan ratusan ribu jiwa dan memicu krisis kemanusiaan parah. Kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata pada 2022 untuk meredakan ketegangan militer.
Kesepakatan damai tersebut kini terancam akibat gempuran lintas batas yang kembali marak. Para diplomat menilai risiko perang terbuka skala penuh kini berada pada level tertinggi.
Pasukan pemerintah Yaman melaporkan adanya aksi saling tembak yang terus berulang di sepanjang garis depan perbatasan utara. Meskipun belum ada serangan darat besar-besaran, kedua belah pihak sudah menyiagakan pasukan.
3. Houthi serang fasilitas minyak Arab Saudi

Arab Saudi melancarkan serangkaian serangan udara ke fasilitas militer Houthi di Kota Pelabuhan Hodeida pada Jumat (24/7/2026). Langkah ini diambil setelah beberapa kapal tanker minyak Saudi diserang di Laut Merah.
Houthi membalas gempuran tersebut dengan menembakkan puluhan rudal ke fasilitas minyak Aramco di Jizan dan Yanbu. Pihak Houthi menegaskan tidak ragu memperluas operasi jika serangan udara Saudi terus berlanjut.
"Kami menegaskan bahwa kejahatan terbaru ini tidak akan dibiarkan tanpa balasan," kata juru bicara militer Houthi Yahya Saree, dilansir BBC.





















