ilustrasi pasukan (pexels.com/Ivan Hassib)
Komandan IDF di Tepi Barat, Avi Bluth, mengunjungi Qusra dan berjanji mengusir para pemukim dari wilayah tersebut. Pasukan militer kemudian membongkar tenda, tetapi para pemukim beserta tempat tidur dan perlengkapannya tetap berada di lokasi, sementara upaya tentara mengusir kelompok tersebut dengan teknik pengendalian kerusuhan tak berhasil.
Pada pagi hari yang sama, tentara mengambil alih delapan rumah warga dan memberi tahu Wali Kota Qusra, Abdul Azim Wadi, bahwa bangunan itu diperlukan untuk operasi militer selama beberapa hari guna menyingkirkan pemukim. Enam rumah kemudian dikembalikan, tetapi para pemukim masih berada di area desa, sedangkan Ridi menemukan kamera keamanan rumahnya rusak dan beberapa peralatan hilang ketika diperbolehkan kembali, sementara rumah tetangganya, Yousef Hassan, masih diduduki tentara.
Para pemukim terlihat berpatroli di lokasi tempat Amir Moatasem Odeh dibunuh seorang pemukim pada Maret lalu dan ayahnya ditikam, tanpa satu pun pelaku ditangkap. Ridi mengaku takut dan tidak percaya tentara akan benar-benar mengusir para pemukim, meski ia berharap hal tersebut terjadi, sedangkan keluarga yang kembali ke rumah melaporkan kerusakan properti, termasuk halaman mushaf Al-Qur’an yang disobek dan hiasan rumah yang dihancurkan.
Juru bicara IDF menyatakan pasukan telah diperintahkan untuk tidak mengusir penduduk Qusra dan tak beroperasi di rumah-rumah yang dikepung, dengan instruksi awal agar warga tetap berada di rumah. Juru bicara militer menolak menjelaskan alasan perintah itu dilanggar di lapangan, sementara Kepala Staf Umum IDF, Eyal Zamir, memerintahkan satu batalion tentara cadangan infanteri kembali dari masa cuti untuk memperkuat pengamanan di Tepi Barat.