Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IDF Kepung Warga Palestina, Dua Keluarga Dipaksa Tinggalkan Rumah
ilustrasi pasukan bersenjata (unsplash.com/Nathan Gubler)
  • IDF memaksa dua keluarga Palestina meninggalkan rumah di Qusra, sementara 15 warga dari tiga keluarga terkepung lima malam oleh puluhan pemukim dengan akses air dan listrik terputus.
  • Militer mengambil alih delapan rumah untuk operasi, mengembalikan enam di antaranya; warga melaporkan kerusakan dan kehilangan barang. IDF menyatakan membongkar dua pos ilegal serta menahan seorang warga Israel.
  • PBB, Kementerian Palestina, dan sejumlah tokoh Israel mengecam pengepungan. Laporan juga mencatat penggusuran komunitas Palestina, surat pembongkaran rumah, penahanan warga, serta pembangunan kembali pos pemukim di Tepi Barat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memaksa dua keluarga Palestina meninggalkan rumah mereka di Desa Qusra, Tepi Barat pada Kamis (13/8/2026). Pada saat bersamaan, puluhan pemukim Israel mengepung tiga keluarga di kawasan Ras al-Ain selama lima malam, membuat 15 orang termasuk dua anak-anak terkurung di rumah dengan akses air dan listrik terputus.

Warga Palestina yang terkepung, Qusai Ridi, menceritakan situasi ketika tentara mulai mengambil alih kawasan pemukiman mereka.

“Tentara tiba sekitar pukul 10 pagi dan meminta kami mengosongkan rumah-rumah karena operasi militer di daerah itu yang akan berlangsung selama tiga hari. Kami menolak untuk pergi. Tentara kemudian memindahkan kami semua ke satu rumah,” katanya, dikutip The Guardian.

1. Tentara IDF mengambil alih rumah warga di Qusra

ilustrasi pasukan (pexels.com/Ivan Hassib)

Komandan IDF di Tepi Barat, Avi Bluth, mengunjungi Qusra dan berjanji mengusir para pemukim dari wilayah tersebut. Pasukan militer kemudian membongkar tenda, tetapi para pemukim beserta tempat tidur dan perlengkapannya tetap berada di lokasi, sementara upaya tentara mengusir kelompok tersebut dengan teknik pengendalian kerusuhan tak berhasil.

Pada pagi hari yang sama, tentara mengambil alih delapan rumah warga dan memberi tahu Wali Kota Qusra, Abdul Azim Wadi, bahwa bangunan itu diperlukan untuk operasi militer selama beberapa hari guna menyingkirkan pemukim. Enam rumah kemudian dikembalikan, tetapi para pemukim masih berada di area desa, sedangkan Ridi menemukan kamera keamanan rumahnya rusak dan beberapa peralatan hilang ketika diperbolehkan kembali, sementara rumah tetangganya, Yousef Hassan, masih diduduki tentara.

Para pemukim terlihat berpatroli di lokasi tempat Amir Moatasem Odeh dibunuh seorang pemukim pada Maret lalu dan ayahnya ditikam, tanpa satu pun pelaku ditangkap. Ridi mengaku takut dan tidak percaya tentara akan benar-benar mengusir para pemukim, meski ia berharap hal tersebut terjadi, sedangkan keluarga yang kembali ke rumah melaporkan kerusakan properti, termasuk halaman mushaf Al-Qur’an yang disobek dan hiasan rumah yang dihancurkan.

Juru bicara IDF menyatakan pasukan telah diperintahkan untuk tidak mengusir penduduk Qusra dan tak beroperasi di rumah-rumah yang dikepung, dengan instruksi awal agar warga tetap berada di rumah. Juru bicara militer menolak menjelaskan alasan perintah itu dilanggar di lapangan, sementara Kepala Staf Umum IDF, Eyal Zamir, memerintahkan satu batalion tentara cadangan infanteri kembali dari masa cuti untuk memperkuat pengamanan di Tepi Barat.

2. Lembaga Palestina mengecam pengepungan keluarga di Qusra

Bendera Palestina (pexels.com/Alfo Medeiros)

Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kementerian Luar Negeri, dan Ekspatriat Palestina mengecam keras pengepungan tersebut. PBB menyebut tindakan kriminal pemukim yang didukung atau dibiarkan Israel membuat kehidupan keluarga Palestina tak tertahankan dan bertujuan memaksa mereka meninggalkan tanah kelahiran, sedangkan Kementerian Palestina menilainya sebagai terorisme sistematis untuk menjalankan kebijakan penggusuran paksa serta aneksasi Tepi Barat. Sementara Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel, Mike Huckabee, mengecamnya sebagai tindakan teror mengerikan yang dilakukan teroris Israel.

Koresponden Al Jazeera, Nida Ibrahim, melaporkan dari lokasi bahwa tentara awalnya berupaya memindahkan keluarga Palestina dari rumah ketika pemukim berkemah di luar, tetapi warga menolak karena khawatir tak dapat kembali. Wadi menyebut tentara Israel terlihat melindungi pemukim, termasuk ketika mereka berdo’a, berbarbekyu, dan menari.

Abdul Kareem Hassan, warga Qusra yang telah tidur di mobil selama tujuh bulan untuk menjaga rumahnya, menilai operasi militer itu hanya sandiwara karena penertiban sekitar 20 pemukim seharusnya bisa selesai kurang dari satu jam jika dilakukan secara tegas.

Pihak IDF menyatakan pasukannya telah membongkar dua pos terdepan ilegal di Qusra dan desa terdekat serta menahan satu warga Israel. Pasukan tambahan juga dikerahkan untuk menjalankan misi pertahanan dan patroli.

3. Tokoh Israel mengkritik pengepungan keluarga Palestina

bendera Israel (pexels.com/Leon Natan)

Eks Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, melontarkan kritik terhadap pengepungan tersebut dan menyebutnya sebagai upaya terencana pembersihan etnis.

“Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang secara aktif didukung oleh pemerintah Israel dan dibantu oleh ketidakpedulian serta total tidak adanya tindakan dari IDF dan polisi Israel. Ini tak terlupakan dan tak termaafkan,” katanya.

Taktik serupa disebut pernah digunakan untuk mengusir keluarga Palestina di Desa Jalud pada Juli lalu, ketika tentara dan pemukim terekam bermain sepak bola bersama di teras rumah warga. Pengamat media Ma’ariv, Avi Ashkenazi, menulis bahwa insiden Qusra menunjukkan ketidakmampuan aparat keamanan dan polisi menghadapi kelompok perusuh yang merasa sebagai tuan tanah karena pasukan keamanan memilih bernegosiasi daripada melakukan penangkapan.

Sejak 2020, warga sipil dan tentara Israel tercatat membunuh lebih dari 1.100 warga Palestina di Tepi Barat dengan hanya satu dakwaan hukum yang dijatuhkan. Kelompok hak asasi manusia B’Tselem melaporkan Israel telah menggusur secara paksa 64 komunitas Palestina dalam tiga tahun terakhir dan membuat lebih dari 4.800 orang kehilangan tempat tinggal.

Lembaga berita Palestina Wafa melaporkan pasukan Israel juga mengeluarkan surat pembongkaran rumah di Kafr Sur, kamp Jalazone, dan al-Jiftlik. Tujuh kerabat pejuang Palestina ditahan di Qalqilya dan tiga warga di Burqa di tengah serangan pemukim yang disertai penyemprotan gas merica, sementara pemukim dilaporkan mendirikan kembali pemukiman dekat Jenin serta membangun pos terdepan baru di tanah milik sebuah kota dekat Tulkarem.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article