Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Celios Sebut Pidato Prabowo soal Pertumbuhan Ekonomi Berlebihan

Celios Sebut Pidato Prabowo soal Pertumbuhan Ekonomi Berlebihan
Direktur Ekonomi Celios, Naiful Huda dalam acara Ngobrol Seru di IDN Times. (IDN Times/Mikho Fridolin Siahaan)
  • Ekonom CELIOS Nailul Huda menilai Prabowo berlebihan mengklaim capaian pemerintah dalam pidato kenegaraan, karena kurang memaparkan persoalan yang masih dihadapi publik.
  • Nailul menyoroti data pertumbuhan ekonomi yang hanya menyebut triwulan I 2026 sebesar 5,61 persen, tanpa pembaruan triwulan II yang mengalami perlambatan.
  • Klaim swasembada pangan dan keberhasilan MBG dinilai perlu disertai masalah harga serta ketersediaan beras, kasus keracunan, dan distribusi MBG yang masih terkonsentrasi di perkotaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Direktur Ekonomi Digital di lembaga kajian Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, mengkritik pidato Prabowo dengan menyebutnya berlebihan dalam memaparkan capaian pemerintah. Kritik tersebut ia sampaikan dalam acara Ngobrol Seru by IDN Times dengan topik "Mengulik Pidato Tahunan Presiden Prabowo, RUU APBN dan Nota Keuangan" pada Jumat (14/8/26).

Nailul menyebutkan, Prabowo berlebihan mengklaim capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui sorotan tentang keberhasilan program, akan tetapi kurang terbuka pada catatan dan persoalan yang masih terjadi pada publik.

Pada pidatonya mengenai pertumbuhan ekonomi, Prabowo hanya menyampaikan hasil data yang diperoleh pada triwulan I yang mencapai 5,61 pada tahun 2026, sementara hasil data triwulan II sama sekali tidak disampaikan yang pada dasarnya, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II mengalami perlambatan. Pembaruan mengenai data tersebut tidak disampaikan kepada publik.

"Tentu ini harus dibuka juga kan ke publik, bahwa Presiden tuh harus juga meng-update ya, istilahnya memberikan data yang aktual ketika mereka menyampaikan pidato," ungkap Nailul.

Nailul menyorot klaim terkait swasembada pangan. Nailul mengakui bahwa Indonesia sudah swasembada beras. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa harga beras masih tinggi, dan beberapa masyarakat masih kesulitan dalam mendapatkan beras.

"Karena gini, ternyata ketika beliau klaim swasembada pangan khususnya beras, harga beras sendiri tuh masih tinggi. Pun kalau enggak tinggi, itu masih susah dicari di lapangan untuk yang beras tertentu ya," ujarnya.

Nailul juga menyoroti pidato Prabowo yang menyebut program MBG sudah berhasil mencapai target puluhan juta, dengan membawa satu anak sebagai bukti keberhasilannya. Nailul menilai, pemerintah seharusnya tidak hanya menampilkan capaian program, tetapi juga menyampaikan persoalan yang masih terjadi, seperti kasus keracunan dan distribusi MBG yang dinilai masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan.

"Makanya memang ini kalau lihat pidatonya itu memang pidato yang menurut saya sih overclaim ya terkait dengan apa yang disampaikan, walaupun ada beberapa yang benar gitu," ungkap Nailul.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More